
Prisma memilih bungkam. Dia lebih memfokuskan ke jalanan yang tampak ramai, apalagi di jam-jam pulang kerja seperti ini. Bahkan tadi mereka sedikit terjebak macet saat di depan jalan masuk Universitas Islam Indonesia.
Ditatapnya lekat wajah Prisma, ingin mengetahui reaksi yang Prisma berikan. “Apakah Kakak membenci Tante Diana?”
Raut wajah Prisma lantas menegas sebelum menjawab dengan tegas. “Nggak.”
“Menurutku, nggak ada salahnya kalo Tante Diana memposting foto Kakak di IG. Berarti dia ingin menunjukkan rasa bahagiaanya ke orang-orang kalo dia mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat disayanginya.” Tiba-tiba Kiya jadi teringat dengan tingkah beberapa kakak kelas dan teman seangkatannya saat di kantin tadi, saat mereka membahas status Prisma sambil stalking akun sosialnya. Mungkin karena itu Prisma merasa terganggu. Dan apakah postingan itu mengganggu kehidupan Kakak?”
“Sedikit,” jawabnya sebelum membelokkan mobil memasuki halaman Gudeg Annisa.
“Tapi tak seharusnya Kakak mengabaikan teleponnya, kan?”
“Yuk, turun! Mamamu pesen gudeg, kan?” ajak Prisma sambil hendak membuka pintu, tapi tak jadi saat melihat sikap Kiya.
Gadis itu melipat kedua tangannya di dada, lalu menatap Prisma dengan tajam. “Kalo Kakak bisa baik dengan Mamaku, Kakak seharusnya juga bisa baik dengan Tante Diana. Dia kan ibu kandung Kakak. Dan jika Kakak tak menyukai postingan itu, Kakak kan bisa—”
Ucapan Kiya lantas terpotong saat suara Adam Levine bergema. Mereka refleks memandang ke dashboard yang merupakan asal muasal suara merdu tersebut.
“Aku yakin itu Tante Diana. Sebaiknya Kakak mengangkatnya dan biar aku saja yang mengambil pesanan Mama,” tukas Kiya sambil membuka pintu dan segera menjauh dari mobil.
Sebelum masuk ke Gudeg Annisa, sekali lagi Kiya memandang mobil merah itu. Bisa dilihat dari posisinya sekarang, Prisma ternyata menuruti sarannya. Kemudian dia segera masuk ke Gudeg Annisa. Dia tak perlu lama-lama berada di sana, karena biasanya gudeg pesanan Rasti sudah dibungkus. Kiya hanya harus mengambil dan membayarnya saja.
Saat dia masuk ke dalam mobil, Prisma masih terlibat perbincangan. Kiya bersyukur karena Prisma sepertinya sedang tak marah lagi dengan Diana. Karena tak ingin mengganggu, Kiya mengambil ponselnya dan membuka akun Instagramnya sambil sekali-kali memandang ke luar jendela yang menghadap ke jalan Kaliurang. Tapi tiba-tiba matanya membulat saat melihat sebuah mobil dengan jendela terbuka yang baru saja lewat.
Kiya tergesa-gesa membuka pintu dan mendekati pinggir jalan. Dia sangat yakin kalau si pengemudi adalah Papa dan perempuan yang ada di sampingnya adalah perempuan di foto itu. Kiya bertambah yakin saat melihat plat nomor mobil tersebut. Platnya sama dengan mobil sang Papa.
“Kenapa Ki?” Melihat gelagat aneh Kiya yang keluar dari mobilnya, Prisma menjadi khawatir dan segera menyusul.
“Bu-bukan apa-apa Kak.”
Prisma melongok ke arah pandangan Kiya tadi, ingin mengetahui apa yang sedang dilihatnya. Tapi tidak ada satupun terlihat mencurigakan. Dia segera membalikkan badan dan mengikuti langkah Kiya yang hendak kembali ke mobilnya.
“Pulang sekarang? Atau masih ada yang ingin dibeli,” tanya Prisma sambil memasang save belt-nya.
“Pulang aja Kak.”
“Kamu baik-baik saja, Ki?” Prisma tiba-tiba menjadi khawatir melihat raut muram di wajah Kiya.
Kepala Kiya mengangguk pelan. “Ya, Kak.”
Prisma sebenarnya tak percaya dengan jawaban Kiya. Gadis di sampingnya kini jelas dalam kondisi yang tak baik. Tapi dia juga tak bisa mendesak Kiya untuk bercerita. Kadang adakala menjadi pengamat itu lebih baik. Itu yang sering dilakukan Prisma selama ini. Bukan hanya baik untuknya, tapi juga untuk orang lain.
“Kenapa Kakak membiarkan aku menghapus video itu tanpa mendengarkan penjelasan apapun? Apa Kakak nggak penasaran?” tanya Kiya setelah mereka cukup jauh dari Gudeg Annisa.
“Aku penasaran, tapi itu kan hakmu untuk tak mengatakan apa-apa.”
Prisma menghela napasnya. Dia nggak terlalu yakin dengan dugaannya selama ini. “Awalnya aku nggak tahu. Tapi setelah bertemu dengan kedua orang tuamu, aku mulai menduga-duga. Laki-laki itu memiliki wajah yang sama dengan Papamu.”
“Memangnya apa dugaan Kakak?”
Prisma mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia sungguh ragu mengatakannya. “Mungkin Papamu berselingkuh.” Setelahnya Prisma cepat-cepat merubah pendapatnya, karena raut wajah Kiya yang semakin lesu dan muram. “Tapi kita tak boleh menuduh sembarang, kan? Bisa saja perempuan itu teman Papamu?”
“Aku harap begitu,” sahut Kiya dengan mengembuskan napas panjang.
Prisma mengangkat tangan kirinya, kemudian mengelus-elus kepala Kiya. “Semua akan baik-baik saja. Asal kamu selalu berpikir positif.”
“Selama ini aku selalu berusaha berpikir seperti itu.” Mata Kiya tiba-tiba berkaca-kaca. Dia tak bisa lagi menahan keresahannya selama ini. “Tapi saat aku melihatnya satu mobil dengan perempuan itu tadi, aku tidak tahu harus berpikir bagaimana. Apakah aku harus tetap berpikir positif meskipun mataku sudah melihat mereka secara langsung? Ataukah aku harus membiarkan saja yang mungkin akan berakibat pada keluargaku nanti?”
Sekali lagi Prisma mengelus-elus kepala Kiya. Tapi dia tak berkomentar apa-apa, tidak memberikan kata-kata semangat ataupun kalimat yang menenangkan. Meskipun kedua orang tuanya berpisah bukan karena orang ketiga, dia cukup memahami perasaan Kiya. Dia pun akan berpikir dan bersikap seperti Kiya bila diposisinya. Tidak satupun anak di dunia yang tidak sedih jika ada pihak luar menghancurkan rumah tangga orang tuannya.
^^ P R I Y A ^^
Kiya melongokkan kepala di pintu kelas XII IPS 4. Tidak dilihatnya ada sosok jangkung dan beralis tebal di dalam sana. Kelas itu pun hampir kosong, hanya tersisa empat orang. Dibuka tas dan diambil ponselnya. Tidak ada pesan apapun. Diedarkan pandangan ke lapangan basket, mungkin laki-laki sedang bermain dengan teman-temannya. Lagi-lagi tidak terlihat sosok Prisma.
Apa mungkin Kak Prisma meninggalkanku? tanya Kiya di dalam hati. Dilihat dari kelengketan mereka sejak bertemu Diana Sastiawijaya, ibarat kata dimana ada Kiya di situ ada Prisma, kayaknya nggak mungkin Prisma meninggalkannya. Tapi ke mana perginya laki-laki itu? Padahal biasanya Prisma selalu menunggu di depannya kelas sebelum bersama-sama menuju parkiran.
“Lagi cari Prisma ya?”
Kepala Kiya refleks menoleh ke belakang dan mendapati sosok laki-laki bertubuh sedikit berisi yang datang mendekat. “Iya Kak.”
“Dia masih di WC. Masih pup gara-gara kebanyakan makan bakso ekstra pedas,” kata Asep dengan menekankan kata pup sambil cengir lebar. “Oh ya, malam ini kamu bisa datang, kan? Kamu juga bisa ajak temanmu yang bernama Yeyen itu?”
“Datang?” Kiya mengangkat sebelah alisnya.
“Prisma belum bilang ke kamu.” Asep tiba-tiba mendengus. “Dasar Prisma!”
“Memangnya ada acara apa Kak?”
“Aku kan hari ini ulang tahun. Aku berniat mentraktir kalian malam nanti di Amoura Cafe. Jadi datang yang malam nanti?!”
“Ehm, kalo Kak Prisma ngajak, aku ikut Kak,” jawab Kiya ragu-ragu.
“Pris, kamu dengarkan? Jadi kamu harus mengajak Kiya,” tukas Asep dengan memandang ke arah belakang Kiya.
BERSAMBUNG...
MOHON KRITIK DAN SARANNYA. PLEASE RATE BINTANG UNTUK KARYA INI. TERIMA KASIH.