PRIYA

PRIYA
PRIYA 07



“Ka-kamu nggak papa, Kak?” tanya Kiya sambil mendekat ke posisi Prisma yang hanya satu langkah di depannya.


Kiya tahu kalau pertanyaan itu adalah pertanyaan bodoh yang tak seharusnya dilontarkan. Prisma jelas tak terlihat baik-baik saja. Dia terlihat meringis kesakitan sambil mengibas-ngibas seragamnya, berharap kain itu tidak menempel di perutnya dan bisa sedikit meredakan rasa terbakar di kulitnya. Kuah bakso itu pasti sangat panas hingga membuat Prisma belingsatan. Tapi Kiya tak tahu harus bertindak bagaimana selain melontarkan kalimat tak berguna tersebut.


“Cepar aliri dengan air supaya kulitnya nggak memerah,” ucap suara sopran yang ada di samping Kiya.


Mendengar saran itu, Kiya berniat untuk mengajak Prisma pergi ke kamar mandi terdekat, namun sudah didahului Awan. “Biar aku aja yang ngantar ke WC.”


“Tapi Kak—”


“Kamu nggak mungkin masuk ke WC cowok kan, jadi aku aja yang mengantarnya?” potong Awan yang hendak memapah Prisma.


Prisma langsung menepis tangan Awan dengan sedikit menggerutu, “Aku bisa sendiri.”


“Udah bagus aku mau bantuin,” celetuk Awan sambil menyusul Prisma yang sudah pergi.


Setelah Prisma dan Awan keluar dari kantin, semua orang kembali ke aktivitas masing-masing. Suara kericuhan kembali bergema. Sementara Kiya segera mengumpulkan pecahan-pecahan mangkuk supaya tidak ada yang menginjaknya. Dan Yeyen yang baru saja melewati pintu kantin, memasang raut kebingungan melihat Kiya yang sedang berjongkok.


“Apa yang terjadi Ki? Bakso kita mana?” tanya Yeyen sambil ikut berjongkok dan menatap heran pada beling-beling yang ada di depannya.


Kiya tak mengindahkan pertanyaan-pertanyaan Yeyen. Lebih memilih mengumpulkan pecahan yang berserakan di lantai secepat mungkin. Sejujurnya Kiya sedang kesal dengan Yeyen sekarang. Gadis itu tadi duduk di mana sih tadi, sehingga dia tak bisa menemukan keberadaannya di ruangan berukuran 7 meter x 12 meter ini.


“Ki!” seru Yeyen mencoba menarik perhatian Kiya.


Kiya menatap Yeyen tajam. “Kamu tadi dari mana sih?”


Yeyen nyengir lebar. “Aku tadi kebelet pipis. Makanya aku ke WC dulu. Memang kenapa?”


“Nanti aku ceritakan. Sekarang bantu aku pungutin beling-beling ini.”


Yeyen tak bertanya-tanya lagi. Tangannya segera memungut pecahan-pecahan yang ada di dekatnya. Kalau Kiya mengatakan akan menceritakan nanti, dia pasti akan menceritakannya. Kiya jarang berbohong dan juga tak pernah ingkar janji.


Setelah memastikan tidak ada satupun pecahan mangkuk yang tertinggal di lantai, Kiya langsung menuju gerobak Pak Tarno. Dia ingin membayar kerugian mangkuk yang tidak sengaja dipecahkannya. Namun Pak Tarno menolak. Beliau tidak mempermasalahkannya, bahkan dia memaklumi. Kemudian dia dan Yeyen segera menuju ke kamar mandi terdekat. Kiya ingin menemui Prisma dan memastikan kondisi cowok itu. Dia juga ingin meminta maaf. Dan selama perjalanan menuju kamar mandi yang terletak di samping perpustakaan, Kiya secara singkat memceritakan kronologis yang telah terjadi.


“Benar Kak Prisma ada di dalam sana?” Mata Yeyen memindai tajam pada pintu bercat coklat yang sedang tertutup. Sudah hampir lima menit dia dan Kiya berdiri di sini, tapi tak ada seorangpun yang keluar dari WC khusus laki-laki tersebut.


“WC terdekat dari kantin kan hanya ini,” jawab Kiya.


Yeyen menempel telinganya di dinding pintu. “Tapi kok nggak ada suara apa-apa ya? Apa mungkin Kak Prisma nggak di sana?” Yeyen melambai-lambaikan tangan pada cowok tambun yang datang dari arah kantin. Dia salah satu teman sekelasnya. “Yon, sini bentar!”


“Ada apa?” tanya Rion sambil mendekat.


“Tolong lihatin di dalam, apakah ada Kak Prisma?”


“Oke, bentar ya,” ucap Rion sebelum hilang dari balik pintu.


Kiya yang sejak tadi melihat interaksi Yeyen dan Rion lantas menghela napas lega. Yeyen memang bisa diandalkan di situasi-situasi seperti ini. Dia sosok yang cepat berpikir dan bertindak.


“Gimana?” tanya Yeyen setelah beberapa detik menunggu, akhirnya Rion kembali keluar menampakkan wujudnya.


Rion menggeleng. “Nggak ada.”


“Kak Awan juga nggak ada?”


“Oh oke. Thanks ya.”


“Sama-sama.” Merasa tidak lagi dibutuhkan, Rion langsung berpamitan. “Aku duluan ya,” ujarnya sebelum pergi menjauh.


“Kira-kira Kak Prisma ada di mana, ya Yen?” tanya Kiya.


“Kalian cari Kak Prisma ya?”


Kedua gadis itu spontan menoleh, mendapati sosok gadis berkacamata yang datang menghampiri mereka. Namanya Kalia, salah satu teman sekelasnya mereka juga.


“Tadi aku lihat Kak Prisma ada ke UKS,” timpal Kalia.


“Kapan Kal?”


“Baru aja. Tadi aku baru saja dari sana.”


“Yuk kita ke UKS, Yen,” ucap Kiya sambil menarik lengan Yeyen. “Makasih infonya ya Kal,” sambungnya sebelum beranjak menjauh.


Tujuan berikutnya adalah UKS. Seharusnya Kiya bisa menduga kalau Prisma pasti di sana. Cowok itu pasti butuh sesuatu untuk meredakan rasa terbakar di kulitnya. Tapi tinggal beberapa langkah lagi dia sampai di pintu UKS, bel tiba-tiba berbunyi. Kiya dan Yeyen terpaksa melanjutkan langkah kaki mereka untuk menuju ke kelas. Pelajaran selanjutnya adalah matematika dan yang mengajar adalah Pak Hilman. Mereka sebaiknya tidak boleh terlambat untuk masuk ke dalam kelas. Beliau tidak mentoleran keterlambatan sedikitpun.


Napas Kiya sedikit terengah-engah saat tiba di depan pintu kelas XII IPS 4. Matanya langsung memindai seisi ruangan. Kelas itu sudah terlihat sepi. Apa yang dikhawatirkan Kiya memang terjadi. Tidak terlihat Prisma di sana. Hanya ada Awan dan beberapa anak cowok yang tidak dikenalnya. Yang lainnya pasti sudah pulang ke rumah masing-masing. Kelas Kiya memang keluar sedikit terlambat. Pak Hilman masih asyik menulis di papan tulis meskipun bel pulang sudah berbunyi dan tidak ada satupun yang berani menginterupsi.


“Cari Prisma ya?” tanya Awan yang beranjak menjauh dari gerombolan.


“Iya Kak,” angguk Kiya.


“Prisma udah pulang sejak mapel ketiga.”


Raut wajah Kiya spontan menegang. Matanya membulat lebar. Dia mulai berpikir yang tidak-tidak. Apakah karena tumpahan itu yang menyebabkan Prisma pulang lebih awal? Apakah Prisma terluka parah? Tapi masa sih? Apakah gara-gara kuah panas bisa menyebabkan luka bakar?


Awan tiba-tiba terkekeh. Mimik Kiya sangat membuatnya terhibur. Gadis itu terlihat sangat menggemaskan.


Melihat reaksi Awan, alis Kiya lantas mengernyit. “Kok tertawa Kak?”


“Kamu lucu.”


“Hah?” Kiya mengerut dahinya.


“Kamu nggak perlu khawatir. Prisma baik-baik saja kok. Tumpahan panas karena kuah bakso nggak akan membuatnya mati. Dia tadi izin pulang duluan karena ada urusan keluarga,” jelas Awan.


Kiya menghela napas panjang. Lega. Untunglah Prisma baik-baik saja. Tidak seperti yang dipikirkannya. “Syukurlah Kak Prisma baik—”


“WAH, ada dedek gemez! Mau kasih surat cinta lagi ya?” potong Asep dengan menyeringai lebar sambil mendekati pintu kelas, kemudian dia merangkul pundak Awan.


BERSAMBUNG...



Baca juga karya-karyaku yang lain...