PRIYA

PRIYA
PRIYA 19



Kiya memilih bungkam, malas berkomentar. Ujung-ujungnya pasti dia tak akan bisa menolak, apalagi Rasti sudah menyetujui. Dua puluh menit kemudian, mobil merah yang dinaikinya berhenti di toko buku yang ada di jalan Sudirman itu. Hampir setengah jam, mereka berada di gedung berlantai tiga tersebut. Prisma membeli dua buku penunjang untuk ujian nasionalnya nanti. Dia juga membelikan Kiya novel. Awalnya Kiya ingin menolak. Tapi Prisma terus mendesak dan akhirnya dia memilih random saja buku di rak terdekat.


Setelahnya Prisma mengajak Kiya untuk makan. Mobil merah ini sekarang berhenti di depan Waroeng Steak yang ada di jalan Kaliurang Km 7. Tepat di depan tempat makan itu terdapat toko pakaian yang menjual pakaian-pakaian batik. Di atas pintu masuknya terpasang banner berukuran sangat besar dengan gambar seorang wanita cantik berhijab.


“Diana Satriawijaya,” gumam Kiya dengan memandang lekat banner itu.


“Kamu kenal?” tanya Prisma sambil mengikuti arah pandangan Kiya.


Kiya dengan cepat menggeleng. “Nggaklah. Mana mungkin aku mengenal artis terkenal seperti Diana Satriawijaya.”


“Kamu mengidolanya?”


Kiya mengangguk mantap. “Film yang diperankannya selalu bagus-bagus.”


“Kamu ingin bertemu dengannya?”


“Maksud Kakak?” Kiya mengerutkan keningnya.


“Aku bisa mempertemukan kalian kalo kamu mau.”


“SERIUS KAK?” Tanpa sadar Kiya melantangkan suaranya dengan pupil mata yang melebar. Kemudian dia mengosok-gosok telinganya. Apa mungkin dia salah dengar? Atau Prisma sedang ingin mengelabuinya saja? Tapi nggak mungkin. Wajah Prisma terlihat sangat serius sangat mengatakannya tadi. Lagian Prisma bukan orang yang suka berbuat jahil seperti kedua temannya, Awan dan Asep.


“Kalo dia datang ke Jogja lagi, aku akan mempertemukan kalian.”


“Kakak kenal dia?”


“Aku lapar. Yuk masuk!” Prisma bukannya menjawab, dia justru menjauh dari mobilnya dan segera masuk ke gedung yang dominan berwarna kuning hitam tersebut. Kiya terpaksa mengekori meskipun rasa penasaran masih menggerogotinya.


^^ P R I Y A ^^


“Gimana Kak?” tanya Kiya penuh harap.


“Nggak.”


Kiya mendesah kasar, kemudian memasang raut masam. Sekarang dia memalingkan mukanya ke jendela. Lebih baik memandang hiruk pikuk jalanan daripada melihat wajah Prisma. Lagi-lagi konsep yang diajukan Kiya untuk tantangan Spemogi ditolak. Ini sudah ketiga kali Prisma tak setuju dengan pendapatnya. Padahal Kiya sangat berharap mereka segera menyelesaikan challenge itu, supaya cepat-cepat memutuskan status pacaran di antara mereka.


Bukan tanpa sebab dia ingin segera mengakhiri status itu. Kiya takut akan terlena dengan sikap Prisma. Selama sebulan lebih ini, Prisma selalu memperlakukan dirinya seperti perlakukan Galih kepada Raika. Bersikap lembut dan penuh perhatian. Apalagi keluarganya juga terlihat sangat mendukung hubungan mereka, terutama Mama Kiya yang sangat menyukai Prisma.


Tiba-tiba jemari Prisma mengusap kepala Kiya. “Wajahmu lucu kalo ngambek.”


“Aku nggak ngambek!” bantah Kiya dengan menepis tangan Prisma.


Prisma tersenyum kecil melihat reaksi Kiya. Dia selalu terpesona dengan sikap gadis itu. Kiya terlihat menggemaskan dengan aksi—Prisma meyakini—ngambeknya. Lalu tiba-tiba suara Adam Levine terdengar. Refleks matanya menoleh ke dashboard. Kemudian menghidupkan lampu sein sebelum menepikan mobilnya. Tidak baik mengangkat telepon saat sedang berkendara. Demi keselamatan diri sendiri dan orang lain.


Karena tidak ingin disangka menguping pembicaraan Prisma dan si penelepon, Kiya membuka tas dan mengambil ponselnya. Dia membuka aplikasi Instagram, berniat melihat-lihat postingan dari beberapa tokoh publik dan teman yang diikutinya. Tepat guliran yang kedua kalinya, mata tak bisa untuk tak membulat lebar. Dia menoleh ke Prisma sebentar. Laki-laki itu masih terlibat perbicangan dengan si penelepon yang diyakini Kiya sebagai Mamanya.


Setelah postingan pertama dengan foto Kiya di Jogjatronik, Prisma semakin sering update foto di Instagram. Padahal sebelum status pacaran itu, hanya ada lima foto di akunnya dan semuanya merupakan foto pemandangan. Tapi sekarang sudah ada sebelas foto, termasuk foto yang baru dilihatnya semenit lalu dan keenam foto adalah foto dirinya yang diambil secara candid.


Kiya kembali lagi memperhatikan foto tiga jam lalu yang diposting Prisma. Dilihat dari latar belakangnya, Kiya yakin foto itu diambil saat dia sedang menemani Yeyen mengantri di gerobak batagor Pak Udin. Dia sungguh nggak sadar kalau dia sedang difoto Prisma kala itu. Kemudian digulirkan foto itu ke atas, ingin mengetahui caption yang ditulis Prisma. Tapi sama seperti sebelumnya, tidak ada tulisan apapun di sana.


“Mama kirim salam,” ucap Prisma tepat setelah mengakhiri panggilan teleponnya.


Kiya terpaksa menengok ke sumber suara. Telinga Prisma sudah tak tertempel benda segiempat lagi. Benda itu sudah kembali ke tempat asalnya, di dalam dashboard.


“Dia juga ingin bertemu denganmu,” tambah Prisma sebelum berniat memutar kunci ke ACC. Namun niatan itu terpaksa berhenti gara-gara ponselnya kembali berbunyi. Dia kembali mengambil benda tersebut dan menempelkan kembali ke telinganya. “Ya Pa?” ucapnya dengan menoleh ke Kiya sebentar.


Manik Kiya kembali fokus ke layar ponselnya. Dia sekarang memilih membuka website Kpopchart, kemudian membaca artikel dari artis atau boyband Korea yang disukainya. Lima menit berselang, Kiya mulai bosan dan memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas. Dilirik ke samping, Prisma terlihat sedang menurun ponsel dari telinganya. Sepertinya percakapan Prisma dan si penelepon sudah berakhir.


“Malam ini kamu ada acara nggak?” tanya Prisma yang mulai mengemudi mobilnya.


“Nggak ada Kak. Memangnya kenapa?”


“Papa ingin bertemu denganmu. Dia juga ngajak makan malam di rumah.”


Mata Kiya membulat lebar. “Seriusan Kak?”


“Nanti malam aku jemput jam tujuh.” Sebelum Kiya melontarkan kalimatnya, Prisma lebih dulu bertukas, “Kata Papa, dia nggak menerima penolakan.”


Kiya mengembuskan napas pasrah. Mengeluarkan kalimat penolakan tak akan berguna juga dalam situasi seperti ini. Ujung-ujungnya dia pasti akan menerima ajakan itu. Sekarang dia tahu darimana sifat pemaksa Prisma berasal. Benar kata pepatah, buah yang jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Sifat anak tak akan jauh dari sifat ayah atau ibunya.


^^ P R I Y A ^^


Untuk kesekian kalinya, Kiya menghela napas kesal melihat Raika yang sedang berdiri di depan lemari yang terbuka. Mata perempuan berusia seperempat abad itu memindai dengan saksama deretan pakaian yang ada dihadapannya. Kiya sungguh tak tahu Mbaknya sering berkomunikasi dengan Prisma. Akibatnya, Raika juga tahu jika Kiya akan bertemu dengan keluarga Prisma malam ini. Sekarang Raika memaksa untuk memilih pakaian untuk Kiya.


“Ini gimana?” Raika menunjukkan gaun berwarna hitam tanpa lengan, tapi tiba-tiba dia melemparkan ke atas kasur. “Nggak kayaknya deh. Sedikit seksi.”


Raika kembali berkutat dengan lemari pakaian Kiya. Sekali-kali dia mengambil pakaian yang menurutnya cocok, menilik dengan saksama, dan langsung melemparkan ke atas kasur ketika pakaian yang dipilihnya belum sesuai.


“Mbak, aku pake kemeja dan celana jeans aja, ya?” Kiya mulai jengah. Lemari pakaiannya hampir kosong, tapi Raika belum menentukan pilihan.


BERSAMBUNG...


LIKE. LIKE. LIKE. COMMENT. COMMENT. COMMENT. VOTE. VOTE. VOTE. AND RATE.