
“Pris, kamu dengarkan? Jadi kamu harus mengajak Kiya,” tukas Asep dengan memandang ke arah belakang Kiya.
Prisma yang menghampiri mereka hanya mendengus kasar. Kemudian dia menatap Kiya dengan lembut. “Maaf ya, kamu pasti udah nunggu lama kan?!”
“Nggak kok. Nggak papa.”
“Tadi anak-anak iseng banget. Baksoku dikasih cabe yang sangat banyak. Dan sekarang aku masih sakit perut,” adu Prisma dengan mengusap-ngusap perutnya.
“Cih, dasar manja! Jijik!” seru Asep sambil bergidik.
Prisma mendelik tajam. “Siapa yang manja? Aku nggak manja.”
Asep kembali berdecih. “Kamu tahu nggak Ki, sejak kamu pacaran dengan Prisma, dia yang semulanya pendiam, sekarang jadi cerewet. Seperti cewek cabe-cabean aja. Tapi meskipun begitu, aku lebih menyukai sosoknya yang sekarang. Lebih ekspresif. Kalo dulu kayak manusia patung. Datar.”
Prisma kian menatap tajam ke Prisma, tapi Asep tampak tak peduli. Sedangkan Kiya terkekeh pelan. Sebenarnya dia tak terlalu melihat perubahan Prisma. Mereka baru dekat lebih kurang sebulanan ini. Tapi dari pengungkapan Diana dan Asep, Kiya cukup bahagia mendengar perubahan positif Prisma.
“Yuk kita pulang, jangan demgarkan dia lagi!” Setelah itu, Prisma langsung membalikkan badan dan bergerak menjauh.
“Kak, kami duluan ya!” pamit Kiya.
“Hati-hati di jalan. Jangan lupa datang nanti malam ya. Ajak Yeyen juga,” ujar Asep sebelum Kiya melangkah terlalu jauh.
Saat kakinya dan Prisma sudah sejajar, tiba-tiba ponsel yang masih di tangannya bergetar. Ada sebuah chat Line. Dari Yudi yang ingin mengajaknya makan es krim bersama. Kiya membalas dengan kalimat penolakan sehalus mungkin. Beberapa hari ini, Yudi semakin sering mengirim pesan padanya. Kiya tak bisa mengabaikannya karena Yudi sudah bersikap baik selama ini dan juga karena kakak Yeyen.
“Siapa?” tanya Prisma ketika mereka masuk ke dalam mobil.
“Mas Yudi.”
“Kenapa dia?”
“Ngajak makan es krim.”
“Tolak,” celetuk Prisma dengan nada sedikit lantang. “Aku yang akan mengajakmu makan es krim. Kamu mau yang di mana? Yang dekat sini? Atau kamu mau yang dekat UGM?”
“Nggak usah Kak. Kita langsung pulang-”
“Kenapa? Kamu nggak mau makan es krim denganku?” potong Prisma dengan napas sedikit memburu, dia terlihat marah.
Kiya menggeleng kuat-kuat. “Nggak gitu Kak. Aku ingin cepat-cepat pulang supaya bisa bersiap-siap. Aku juga belum beli kado untuk Kak Asep.”
“Nggak usah kasih dia kado,” cegah Prisma.
“Tapi aku merasa nggak enak. Dia kan juga teman Kakak.”
Prisma menghela napas sebelum mengembusnya pelan. “Maaf, tiba-tiba aku jadi emosian. Aku hanya nggak suka kamu chat-an sama Yudi. Kamu kan pacarku, seharusnya kamu nggak chat dengan cowok lain.”
“Iya, aku minta maaf,” lirih Kiya meskipun dia tak yakin kenapa harus meminta maaf.
“Nanti kita beli sama-sama. Nanti aku jemput jam 7-an.”
“Ya,” lirih Kiya yang tak bisa lagi menolak keinginan Prisma.
^^ P R I Y A ^^
Seperti perkataan Prisma, laki-laki itu menjemputnya jam tujuh kurang. Mereka menjemput Yeyen dulu sebelum pergi membeli kado. Kiya memaksa Yeyen untuk ikut dengannya karena dia yakin kalau di sana hanya ada kakak-kakak kelas.
Saat sampai di rumah Yeyen, gadis itu sudah bersiap-siap dan sedang menunggunya di teras rumah dengan Yudi. Melihat keberadaan laki-laki berkacamata itu, moodnya langsung berubah buruk. Raut wajahnya seketika cemberut masam. Kian masam kala Yudi memgajaknya berbicara. Matanya pun sering mendelik tajam.
“Besok setelah pulang sekolah, kita makan es krim, ya?” ajak Kiya setelah mobil cukup jauh dari perumahan Yeyen, berharap mood-nya segera membaik.
Kiya menghela napas lega. Akhirnya wajah cemberut itu hilang juga. Dan tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada chat WhatsApp yang masuk. Dari Yeyen. Dia membaca pesan itu sebentar sebelum menoleh ke jok belakang, kemudian memberikan tatapan tajam.
“Dari siapa?” tanya Prisma.
“Dari Mama,” bohong Kiya. Nggak mungkin kan dia bilang dari Yeyen yang berada satu mobil dengan mereka. Kiya membaca lagi chat itu.
[Yeyen 19:06]
Kak Prisma sdg ngembek ya?
Aku bru tahu Kak Prisma bsa ngambk jg
Setelah membacanya, Kiya memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, tak berniat untuk membalas. Dan beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah distro pakaian khusus cowok yang terletak di jalan Gejayan. Kiya dan Yeyen berencana membeli topi untuk hadiah Asep. Sedangkan Prisma berniat memberikan sepasang sepatu. Hampir dua puluh menit mereka di sana, akhirnya mereka menenteng barang-barang tersebut yang sudah dibungkus dengan kertas kado.
Ketiga remaja itu tiba di Amoura Cafe tepat pukul delapan. Ketika sudah bertatap muka dengan Asep, Kiya langsung menyerahkan kado yang dibelinya dan Yeyen tadi. Tidak banyak yang diundang Asep. Ada tiga orang laki-laki—termasuk Prisma—dan empat orang perempuan—termasuk dirinya dan Yeyen.
Kiya memang tidak pernah berbicara langsung dengan mereka. Tapi Kiya cukup tahu kalau mereka adalah teman-teman terdekat Asep di kelas. Kiya juga tahu nama-nama mereka. Yang duduk dekat jendela, namanya Amanda. Disusul Ratri dan Agus. Yang duduk berhadapan dengan ketiga remaja tersebut, ada Yoyok dan Nando.
“Kak Awan nggak datang, ya Ki?” bisik Yeyen.
Baru saja Kiya hendak mengedikkan bahu, sosok yang dibicarakan itu membuka pintu kafe bersama seorang gadis berambut sepinggang. Tangan mereka saling bergandengan tangan. Tiba-tiba Kiya teringat perbincangan beberapa minggu, tentang postingan Awan di Instagram dengan caption romantis. Benar kata Yeyen, Awan sudah mempunyai pacar dan gadis itu mungkin memang pacarnya.
Mata Kiya melirik ke samping kiri, ingin melihat ekspresi Yeyen. Kemudian dia menghela napas lega. Yeyen tampak biasa-biasa saja. Merasa tidak terlalu terganggu dengan gadis yang dibawa Awan. Mungkin perasaan pada laki-laki berbulu mata lentik itu hanya rasa kagum saja, layaknya seorang pengemar kepada sang idola.
“Sambil menunggu makanannya, bagaimana kalo kita saling kenalan dulu?! Di sini pasti ada yang masih belum tahu nama-nama yang ada di sini, kan? Terutama gadis cantik yang duduk di samping Awan?” usul Asep sambil cengar-cengir setelah seorang pelayan berseragam merah mengambil nota makanan mereka. “Kita mulai dari mana nih?” sambungnya.
“Searah jarum jam aja,” saran Amanda.
“Oke, dimulai dari Prisma.”
“Namaku Prisma,” ucap Prisma.
“Whuuu, kok perkenalannya cuma segitu. Nggak asyik bangeeettt nih,” celetuk Agus.
Melihat tingkah Prisma, Asep terkekeh kecil sebelum menyuruh Kiya, “Ki, giliranmu!”
“Namaku Kiya. Aku adik kelasnya Kak Asep,” ucap Kiya.
“Boleh nanya, nggak?” tanya Yoyok sambil mengangkat sebelah tangannya.
“Ehm, boleh Kak.”
“Kok kamu mau pacaran sama Prisma, dia kan dingin banget?”
Spontan Asep, Agus, Yoyok, Nando, dan Awan terbahak-bahak. Sedangkan Amanda dan Ratri hanya terkekeh kecil.
“Jawab dong!” tukas Yoyok.
Kiya memandang ke muka Prisma. Laki-laki itu terlihat ingin tahu juga jawabannya. Sudah jelas kan mereka pacaran karena saling win-win solution. Tapi nggak mungkin dia mengatakan seperti itu. Apa kata mereka nanti. “Ehm, soalnya Kak Prisma orangnya baik dan perhatian,” jawabnya dengan sedikit tersipu malu.
“Jadi surat cinta itu benar darimu?” tanya Agus.
BERSAMBUNG...
TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR. JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, RATE, DAN SHARE YA. PLEASE KRITIK DAN SARANNYA.