PRIYA

PRIYA
PRIYA 24



Kiya tak merespon. Dia ingin menjadi pendengar yang baik saja. Ditambah lagi dilihat dari wajah Diana, perempuan itu seperti memiliki beban yang berat dan butuh seseorang untuk bisa mendengarkan ceritanya.


“Ini semua salah kami. Dia berubah sejak perceraianku dengan Papanya saat dia kelas enam SD. Sejak itu, dia jarang tersenyum dan menjadi lebih pendiam. Dia juga seperti membatasi diri dengan orang-orang. Bahkan saat mau masuk SMP, dia menolak bersekolah di Jakarta dan memilih sekolah di sini. Dia seolah ingin menjauh dari Tante dan Adrian.” Diana mengusap kelompak matanya yang sekarang berkaca-kaca.


Kiya benar-benar tak tahu harus bereaksi seperti apa. Haruskah dia memeluk wanita itu? Atau hanya membiarkan saja? Dan akhirnya, Kiya memilih opsi kedua. Seperti Diana masih mau melanjutkan kisahnya.


“Tapi sebulan belakangan ini, dia tak pernah lagi mengabaikan telepon atau video call dari Tante. Dia juga lebih sering tersenyum. Dan saat melihat postingan-postingannya di Instagram, Tante yakin kalo kamulah alasan kenapa dia bisa berubah seperti itu.” Tiba-tiba Diana menggenggam kedua tangan Kiya sambil menatapnya dengan penuh harap. “Maukah berjanji kepada Tante kalo kamu akan terus bersamanya?”


Dan saat itu, Kiya terpaksa mengiyakan. Dia tak punya pilihan. Tatapan penuh harap Kiya menyihirnya untuk menyetujui permintaan Diana. Kiya kemudian menoleh ke samping kanannya, menatap Prisma yang fokus mengemudikan mobil. Jika seandainya dia di posisi Prisma, apa mungkin dia juga bersikap seperti laki-laki itu, bersikap menutup diri?


^^ P R I Y A ^^


Kiya berlari tergesa-gesa menuju kelasnya. Pagi tadi dia bangun kesiangan. Untungnya dia masih sempat mandi. Sebenarnya dia nggak akan terlambat bila Rasti membangunkannya seperti biasa. Rasti akan mengedor-ngedor pintu kamar Kiya bila jam enam lebih lima belas, gadis itu belum keluar dari kamar. Tapi karena keasyikan bercengkrama dengan Prisma sambil sarapan pagi, dia jadi lupa waktu dan membiarkan Kiya tetap lelap dalam dunia mimpinya.


Kelas Prisma terletak di bagian depan sekolah, berbeda sekali dengan kelasnya yang sedikit terpelosok. Dia butuh kekuatan ekstra untuk sampai di kelasnya sebelum Pak—guru fisikanya—masuk.


“Kok tumben telat, Ki?” Yeyen mengernyit alisnya saat menatap Kiya yang terengah-engah dengan napas memburu. Butir-butir keringat juga tampak memenuhi area sekitar dahi Kiya. Tidak biasanya gadis itu datang di waktu mepet seperti ini.


Kiya tak menjawab. Dia lebih memilih mengatur pernapasan yang masih mengembus keras-keras. Dia sangat bersyukur tidak terlambat. Atau kalau tidak, dia pasti di suruh berdiri di luar kelas hingga pelajaran pertama ini berakhir. Dan saat Pak Marwan memasuki kelas, Kiya segera mengeluarkan buku catatan dan buku paket Fisikanya.


“Ki,” panggil Yeyen sambil menyenggol Kiya dengan sikunya.


Pandangan Kiya yang tertuju ke papan tulis lantas menoleh ke samping. “Kenapa?”


“Berita kalo Kak Prisma anaknya Diana Satriawijaya itu benar?”


“Kok kamu bisa tahu?” tanya Kiya heran. Dia kira hanya dia yang mengetahui fakta itu. Karena kalau fakta itu sudah diketahui sejak dulu, Kiya juga pasti mengetahuinya sejak dia menjadi siswi di SMAN 24 Sleman ini, bukan kemarin saat Prisma mengatakannya. Inikan termasuk berita besar yang bisa menjadi rahasia umum.


Melihat respon Kiya yang tidak terkejut, Yeyen langsung sumringah lebar dan memberikan binar-binar kagum di matanya. “Wah, jadi bener ya berita itu. Pantas aja wajah Kak Prisma cakep gitu. Maknya aja artis.” //tambahkan tentang Adrian.


Di bawah meja, tangan Kiya menepuk kasar paha Yeyen. Suara gadis itu terlalu besar. Pak Marwan sekarang menjadi melihat ke arah mereka. Kiya lantas berpura-pura kembali fokus dan mencatat beberapa soal yang sudah tertulis di papan tulis.


“Kamu tahu info itu dari mana?” tanya Kiya setelah Pak Marwan kembali menghadap papan tulisan dan menambahkan lagi tulisannya ke papan tulis.


“Dari IG-nya Diana Satriawijaya.”


“Dia posting foto Prisma?”


Yeyen mengangguk sebelum menambahi, “Juga fotomu.”


“Kiya, Yeyen. Maju ke depan! Kerjakan soal nomor satu dan dua,” suruh Pak Marwan yang membuat kedua gadis itu terlonjak kaget-kaget.


Kiya berdiri dengan ragu-ragu. “Ba-baik Pak.”


Setelah duduk, Kiya berhati-hati mengambil ponselnya di dalam tas yang terletak di bawah kolong meja. Dia ingin melihat sendiri foto yang diucapkan Yeyen tadi. Dia bisa paham kalau foto Prisma yang diposting. Tapi mengapa Diana Satriawijaya juga harus memposting fotonya.


Dibuka aplikasi Instagram, kemudian dipilih menu search dan mengetik nama Diana Satriawijaya hingga menampilkan beberapa nama yang disarankan. Dia memilih akun bergambarkan wajah Diana yang di close up.


Seperti perkataan Yeyen, Diana memang memposting fotonya dan Prisma, lebih tepatnya foto mereka bertiga. Kiya ingat, foto itu diambil sebelum dia dan Prisma pulang. Diana memaksanya untuk berfoto bersama, sebagai kenang-kenangan katanya. Semula Prisma menolak, tapi karena bujukan Diana yang bersekongkol dengan Kiya, akhirnya dia terpaksa menerimanya.


Dia menggeser ke atas, ingin melihat caption yang Diana tulis. Cukup panjang dan kata-katanya sangat menyentuh: Terima kasih untuk hari ini anakku. Aku bisa merasakan lagi bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Kamu mau tersenyum lagi untukmu. Dan terima kasih yang sangat banyak untukmu gadis kecil. Kamu telah memberikan kebahagiaan untuknya. Kiya bisa merasakan kalau Diana sangat menyayangi Prisma.


“Huh, lega!” ucap Yeyen dengan berbisik setelah duduk di bangkunya, kemudian dia membalikkan buku catatannya ke halaman belakang dan mulai menulis sesuatu.


Kiya segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Dia nggak mau maju ke depan dan disuruh mengerjakan soal lagi. Dia belum tentu bisa mengerjakan soal-soal tersebut. Ada yang bilang, bilang kamu mengerti materi Fisika, kamu juga akan mengerti materi Matematika. Tetapi sebaliknya, bila kamu mengerti materi Matematika, belum tentu kamu mengerti materi Fisika. Itu yang dialami Kiya.


Yeyen menggeser buku yang tadi ditulisnya ke arah Kiya.


Kapan kamu bertemu Diana Satriawijya?


Kamu nggak pernah bilang apa-apa


Kiya melirik ke Pak Marwan sebentar sebelum menulis.


Nanti aku ceritakan


Pak Marwan sedang memperhatikan kita


Setelah itu Kiya menggeser pelan-pelan buku itu ke pemiliknya. Lalu dia memperbaiki posisi duduknya lebih tegak agar terlihat kalau dia sedangserius memperhatikan instruksi Pak Marwan.


^^ P R I Y A ^^


“Baik Tan. Nanti saya sampaikan,” ucap Kiya pada sosok di balik telepon sambil melirik ke kemudi. “Iya, Tan. Sama-sama,” ucapnya lagi sebelum menjauhkan ponsel itu dari telinganya dan memasukkan lagi ke dalam tas.


“Mama?” tanya Prisma dengan menoleh sebentar ke Kiya.


“Kakak marah sama Tante Diana gara-gara foto itu?”


Prisma memilih bungkam. Dia lebih memfokuskan ke jalanan yang tampak ramai, apalagi di jam-jam pulang kerja seperti ini. Bahkan tadi mereka sedikit terjebak macet saat di depan jalan masuk Universitas Islam Indonesia.


BERSAMBUNG...


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA. SUDAH MAMPIR.