
Sekitar pukul tiga kurang, mobil berwarna merah itu berhenti di depan rumah bertingkat dua dengan pagar besi bercat hijau. Kiya langsung menghela napas panjang. Akhirnya dia sampai juga di rumahnya. Dia sangat merasa bosan selama perjalanan pulang mereka dari toko kue Annisa ke perumahan Indah Permata ini. Dia dan Prisma tidak sedikitpun membuka mulut sejak meninggalkan pelantaran parkiran toko tersebut.
“Besok aku jemput.”
Kiya yang sedang membuka save belt spontan menoleh ke kanan. Dia memandang wajah Prisma dengan kening yang mengerut.
“Jam tujuh kurang sepuluh kamu sudah harus di depan,” ucap Prisma lagi sambil mengambil kotak kue yang ada di belakangnya, kemudian keluar dari mobil.
Kening Kiya kian mengerut tajam. Dia heran kenapa laki-laki itu ikut keluar dari mobilnya seraya menjinjing kotak tersebut. Apa Prisma berniat untuk bertandang ke rumahnya? Tidak. Tidak. Tidak mungkin. Lagian untuk apa Prisma datang ke kediamaku. Aku juga tak berniat untuk mengundangnya, bantah Kiya di dalam hati.
Bertepatan Kiya menutup pintu mobil, sebuah mobil yang cukup familiar di matanya berhenti di belakang mobil Prisma. Pintu bagian kiri dan kanan mobil itupun terbuka, menampakkan sepasang kekasih dengan pakaian berwarna senada. Raika dan Galih terlihat sangat serasi dengan baju batik tersebut. Mereka baru saja pulang dari kondangan pernikahan teman mereka.
“Dari mana Dek?” tanya Raika setelah berdiri di depan Kiya. Lalu mata Raika beralih ke Prisma yang beberapa langkah di depannya dengan tatapan penasaran.
Melihat kegelagatan ingin tahu dari perempuan yang memiliki wajah hampir mirip dengan Kiya, Prisma datang mendekat dan segera menyodorkan tangan. “Perkenalkan Mbak, saya Prisma Mbak.”
Raika menyambut uluran tangan itu dengan ramah. “Aku Mbaknya Kiya, Raika. Dan Ini...” Raika mengapit lengan Galih sebelum melanjutkan perkataanya. “Galih, tunanganku.”
Prisma kembali menyodorkan tangan ke Galih sambil menyebutkan namanya. Galih juga menyambut uluran tangan tersebut sambil menyebutkan namanya juga.
“Kamu siapanya Kiya?” Raika benar-benar sangat penasaran dengan status remaja beralis tebal dihadapannya kini. Setahunya Kiya tak banyak memiliki teman laki-laki. Dia juga tak pernah mengajak mereka bermain di rumah. Ini pertama kalinya. Jadi wajar kalau sekarang Raika menjadi sangat kepo.
“Saya pacarnya Kiya, Mbak,” jawab Prisma dengan percaya diri.
Kiya yang mendengarkan jawaban tak terduga itu kontan terlonjak kaget. Matanya refleks membulat besar. Apa-apaan jawaban itu. Meskipun status mereka sudah berpacaran beberapa jam lalu, cuma jelas status itu berbeda jauh dengan makna kata pacaran selama ini. Sebenarnya Kiya ingin membantah, hanya mulut ini lagi-lagi tidak bisa diajak kompromi. Mulut ini terus mengatup rapat. Seolah membenarkan saja semua perkataan Prisma.
“Maaf saya baru bisa berkunjung dan memperkenalkan diri sekarang,” tambah Prisma dengan menunjukkan sedikit raut penyesalan.
Raika lantas menoleh ke Kiya, kemudian mengacak-ngacak poni gadis itu sambil tersenyum sumringah. “Aduh, nggak nyangka adik kecil Mbak udah bisa pacaran.”
“Kamu sekolah di SMAN 24 juga?” tanya Galih yang ikut-ikutan kepo. Bagaimana pun dia sudah menganggap Kiya sebagai adik kandungnya sendiri. Dia patut tahu tentang seseorang yang menjadi kekasih Kiya, setidaknya identitas umum saja. Seperti tempat sekolah Prisma, misalnya.
“Iya Mas. Saya kakak kelasnya Kiya.”
“Berarti sekarang kelas 12, kan?” timpal Raika memastikan.
Prisma mengangguk kecil. “Iya Mbak.”
“Kita ngobrol di dalam yuk! Sekalian kamu kenalan dengan Mama juga,” ajak Raika seraya kembali mengapit tangan Galih sebelum berjalan memasuki pagar rumah.
Prisma tampak tak berniat menolak ajakan Raika. Dia hendak ikut masuk, tapi pertanyaan Kiya memaksanya tetap bergeming di tempat. “Kenapa Kak Prisma berkata seperti itu?”
“Berkata apa?” balas Prisma pura-pura tak mengerti.
Kiya mendengus kasar. “Kalau aku pacar Kakak.”
“Kamu memang pacarku, kan?”
Kiya sekarang berdecak tak suka. “Kita memang pacaran. Tapi kita nggak—”
Dengusan kasar kembali terdengar dari mulut Kiya sebelum mensejajarkan langkahnya dengan Prisma. Dengusan itu semakin keras saat melihat reaksi Mama yang menyambut Prisma dengan riang. Dia memang tak berharap jomlo selamanya. Cuma dia tak menduga—bahkan tak pernah membayangkan apalagi terlintas di otaknya—kalau Prisma adalah laki-laki pertama yang diperkenalkan ke Rasti.
^^ P R I Y A ^^
“Kamu pintar cari pacar. Mama menyukainya.”
Kiya berhenti mengunyah nasi gorengnya, dia mendelik ke Rasti sebentar. Sejak kepulangan Prisma setelah berkunjung ke rumah mereka, sudah sering Rasti memujinya. Sikap Prisma ginilah, sifatnya gitulah, wajahnya gantenglah, dan pujian-pujian lain yang membuat Kiya ingin menutup telinga. Padahal Mamanya nggak tahu saja bagaimana sikap Prisma sebenarnya. Menurut Kiya, Prisma tipikal pemaksa akut. Harus dituruti kemauannya. Prisma juga termasuk sosok alpha male yang membuat orang-orang tak bisa membantahnya.
“Besok undang dia ke sini lagi, Nak. Kenalin sama Papa juga,” ujar Rasti dengan sedikit menyungging lebar.
Tidak akan, jawab Kiya dalam hati. Kemarin adalah untuk pertama dan terakhirnya. Status pacaran mereka hanya karena saling membutuhkan. Lagian dia tak berniat untuk melanjutkan hubungan ini menjadi benar-benar pacaran. Dia juga tak pernah terpikir memiliki kekasih yang diidolakan banyak orang, terutama anak-anak di sekolahnya. Dia hanya ingin memiliki kekasih yang biasa-biasa saja.
Tok...Tok... Tok...
Mata Kiya dan Rasti spontan menuju ke sumber suara, ke arah pintu yang bisa dilihat dari ruang makan ini. Mata mereka kemudian saling berpandangan. Siapa kira-kira yang bertamu di pagi hari seperti ini.
“Kamu makan aja, biar Mama yang buka,” kata Rasti saat Kiya hendak berdiri.
Kiya kembali melanjutkan sarapan paginya. Sedangkan Rasti berjalan menuju pintu yang tadi diketuk. Selang beberapa menit kemudian, dia sudah kembali dengan seorang anak laki-laki berseragam putih abu-abu yang mengekorinya.
“Kak Prisma ngapain ke sini?” celetuk Kiya dengan mata terbelalak, begitu terkejut dengan ke datangan Prisma ke rumahnya lagi, di pagi-pagi hari seperti ini. Ada apa gerangan?
“Mau jemput kamu.”
Ah iya, jemput. Kiya benar-benar melupakan tentang ucapan Prisma kemarin. Dia segera melirik jam di pergelangannya. Sudah jam tujuh kurang sepuluh. Sebaiknya mereka berangkat sekarang bila tak ingin terlambat.
Kiya bangkit dari tempat duduknya. Kemudian segera mengambil tas selempangnya yang di letakkan di kursi sebelahnya. “Ma, sebaiknya kami berangkat sekarang.”
Rasti terlihat tak mengindahkan ucapan Kiya. “Kamu udah makan, Nak Prisma?”
“Udah Tan. Terima kasih,” jawab Prisma ramah.
“Ma, aku berangkat.” Kiya segera menyalami Rasti, kemudian beranjak menjauhi dari dapur.
Prisma ikut menyalami Rasti. “Saya berangkat ya, Tan.”
“Titip Kiya, ya Nak dan hati-hati di jalan.”
“Iya Tan. Saya pasti menjaga Kiya dengan baik-baik,” jawab Prisma mantap.
“Ayuk, Tante antar ke depan,” tawar Rasti.
Sekali lagi Prisma berpamitan dengan Rasti sebelum menghampiri Kiya yang sudah berdiri di samping mobilnya. Perlahan mobil Toyota itu mulai meninggalkan kawasan perumahan Indah Permata blok C tersebut. Selama perjalanan menuju sekolah, Kiya lebih banyak memandang jendela di sampingnya, menatap hiruk-pikuk jalanan yang dipenuhi dengan kendaraan roda dua dan empat.
BERSAMBUNG...
TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR. BAGAIMANA TANGGAPANMU TENTANG BAB INI?