
Mata Kiya menilik saksama ke dalam kelas. Masih tidak dilihatnya wujud jangkung beralis tebal. Mungkin cowok itu sudah ada di kantin. Ketika Kiya memutuskan untuk mengajak Yeyen ke kantin, suara bass tiba-tiba menghentikan niatannya.
“Kamu cari Prisma?”
“Iya Kak,” jawab Kiya dengan anggukkan singkat.
Sedangkan Yeyen yang berdiri di samping Kiya mulai salah tingkah. Gadis itu bahkan tak berani mendongakkan kepalanya. Entah ke mana sikap berani yang selalu mendominasinya. Yeyen memang selalu bersikap seperti ini saat bertemu Awan, seperti gadis-gadis lain yang berdekatan dengan sosok disukainya. Bahkan wajahnya sampai bersemu merah.
“Hari ini dia masih belum masuk. Dia katanya pulang ke Jakarta.”
Kiya mengerutkan kening. Sebenarnya dia bertanya kenapa Prisma ke Jakarta, hanya saja dia merasa kalau pertanyaan bukan ranahnya. Memang kalau dia tahu alasan laki-laki itu Ke Jakarta, dia mau apa? Mau menyusulnya? Nggak mungkin.
“Ya udah Kak, terima kasih atas infonya. Permisi Kak,” ujar Kiya sebelum membalikkan badan dan menarik Yeyen yang masih membeku di tempatnya. Tapi baru beberapa langkah kakinya bergerak, dia membalikkan badan. Kiya kembali mendekati Awan yang belum beranjak dari pintu.
Awan menaikkan sebelah alisnya. Menatap heran sosok Kiya yang menghampirinya lagi. “Ada apa—”
Belum selesai Awan melontarkan kalimatnya, Asep terlebih dahulu berceletuk, “Cie... Ada demez, dedek gemez. Mau ngapelin Abang ya dek?”
Kiya mendengus kecil. Dia benar-benar nggak berharap bertemu Asep hari ini, ataupun hari-hari yang lain. Laki-laki berambut jabrik itu selalu membuatnya jengkel, terutama sebutan dedek gemez itu. Emang dia kira dia bocah SD yang masih unyu-unyu apa. “Kak Awan, boleh aku bertanya?” Kiya mengalihkan semua fokus matanya pada wajah Awan yang terkekeh kecil, pasti gara-gara ucapan Asep.
“Tanya apa?”
“Apa Kakak punya akun Youtube?”
Awan mengangkat sebelah alisnya sebelum menjawab. “Punya. Memangnya kenapa?”
^^ P R I Y A ^^
Raut wajah Kiya kontan sumringah. Jauh di lubuk hati terdalamnya, dia memang sangat berharap kalau akun BigGames memang milik Awan. Yah, meskipun Awan pernah menjahilinya, setidaknya sosok Awan adalah sosok yang ramah dan murah senyum. Sangat berbanding terbalik dengan Prisma yang selalu memasang wajah dingin.
“Apakah namanya BigGames?” tanya Kiya dengan menggebu-gebu.
“BigGa—”
“Bukankah itu punya Prisma, Wan?” Lagi-lagi Asep memotong ucapan Awan.
Raut wajah Kiya kini menegang. Kiya sungguh nggak ingin mendengar fakta ini. Sementara Awan kembali melanjutkan kalimatnya. “BigGames bukan punyaku, tapi punya Prisma. Kalo punyaku namanya Heroes.”
Kiya menghela napas panjang. “Ya udah Kak. Terima kasih. Permisi,” ucap Kiya sebelum membalikkan badan dengan lesu. Memang kadangkala harapan tak selalu sesuai dengan fakta yang ada. Dan sebagai seorang manusia hanya bisa menerima. Biarkan seperti air sungai yang mengalir saja sekarang.
Awan dan Asep mengerutkan kening mereka masing-masing. Sedikit bingung dan juga penasaran. Tapi tidak ada satupun diantara mereka yang berniat menghentikan langkah Kiya dan bertanya. Setelahnya mereka saling mengedikkan bahu. Tak ingin peduli. Kemudian mereka masuk ke dalam kelas.
Yeyen—yang ternyata masih menunggu Kiya—juga menatap dengan mimik bingung. “Kok wajahmu gitu? Kayak orang mau dijatuhi hukuman mati saja.”
Kiya membalasnya dengan helaan napas panjang.
“Apa yang terjadi?”
Kiya mengambil napas sedalam-dalamnya sebelum mengembus dengan pelan. “Akun itu bukan punya Kak Awan.”
“Maksudnya akun BigGames?”
Kiya mengangguk kecil.
“Jadi itu milik Kak Prisma?”
Tiba-tiba Yeyen tertawa terbahak-bahak. “Mungkin aja kalian udah berjodoh.”
“Jangan ngelantur deh!” cibir Kiya nggak terima.
“Yeee... Aku nggak ngelantur. Kan udah aku bilang, Kak Prisma kayaknya-Ki, tunggu!” Belum selesai Yeyen mengemukakan dugaan-dugaannya, Kiya sudah terlebih dahulu melenggang menjauhinya. Yeyen segera menyusul dan mensejajarkan langkah mereka.
^^ P R I Y A ^^
“Yen, ke tempat Bu Asih yuk! Udah lama kita nggak makan cilok di sana,” ajak Kiya sambil memasukkan peralatan sekolahnya ke dalan tas. Bel pulang baru saja berbunyi semenit yang lalu.
Yeyen mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Dia juga memasang raut menyesal. “Maaf Ki. Hari ini nggak bisa. Aku udah janji nemenin Mama ke Pasar Sidoarjo.”
“Mau cari batik lagi?”
Yeyen mengangguk singkat sebelum menyahut, “Iya Ki. Pelanggan Mama makin banyak dan kami harus semakin banyak lagi mencari kain-kain batik.” Sekali lagi Yeyen menunjukkan raut menyesal. “Maaf ya Ki. Gara-gara kesibukan Mama, kita jadi jarang hangout bareng lagi.” Lalu tiba-tiba Yeyen menyungging senyum lebar. “Gimana kalo malam ini kita ke lesehan Pak Amin? Kamu nggak ada acara kan?” usul Yeyen.
“Boleh. Boleh. Udah lama juga kita nggak ke sana.”
“Sip deh. Kita—” Ucapan Yeyen spontan berhenti saat suara indah Jeon Jongkook BTS berdendang. “Kayaknya Mamaku udah di depan. Nanti kamu Line aja kita berangkat jam berapa,” sambungnya dengan menggantungkan tali tas selempangnya di bahu.
“Oke, nanti kita bahas lagi di Line.”
“Aku pulang dulu ya. Dah!” Yeyen melambaikan sebelah tangan, berpamitan.
“Hati-hati di jalan. Salam untuk Tante Yuniar ya,” lontar Kiya sebelum membalas lambaian Yeyen.
Setelah tubuh Yeyen menghilang dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Kiya segera beranjak meninggal kelas. Karena rencana ke tempat Bu Asih gagal, Kiya memutuskan untuk pergi ke Indomart di depan kampus Universitas Islam Indonesia saja. Dia akan membeli beberapa snack yang bisa menemani bermain Harvest Moon nanti. Permainannya sudah sampai akhir musim Fall tahun kedua. Dia juga sudah menyelesaikan event mecha keempat, berarti permainannya sudah mendekati ending.
Dari blog-blog yang telah dibacanya, ada empat ending dari Harvest Moon Hero of Leaf Valley yang bisa terjadi. Salah satunya adalah best ending dan Kiya berencana untuk mendapatkannya. Untunglah selama permainan ini, Kiya tak menemukan hambatan yang fatal. Walau diakui, dia cukup kewalahan menyelesaikan event mecha keempat ketika balapan kuda dengan Charles.
Hampir mendekati gerbang sekolah, Kiya sedikit memperlambat langkahnya. Bukan tanpa alasan. Sebab di samping gerobak penjual batagor ada sosok Awan dan Asep yang sedang bercengkrama di atas sepeda motor masing-masing.
“Sore demez! Mau pulang ya?” sapa Asep saat Kiya baru saja melewati gerbang.
Kiya nggak merespon. Menganggap cowok itu tidak ada.
“Mau Abang anterin nggak?”
“Jangan ganggu dia, Sep. Nanti ada yang ngamuk,” peringat Yoyok sambil terkekeh kecil diakhir kalimatnya, diikuti ketiga temannya yang lain termasuk Awan yang baru saja memasukkan sepotong batagor ke dalam mulutnya.
Asep cengengesan. “Mumpung si Pangeran Demez belum di sini,” serunya.
“Kapan dia masuk sekolah Wan?” tanya Yoyok.
“Mungkin besok,” sahut Awan sebelum memakan lagi sepotong batagor.
“Jadi mau Abang anterin nggak?” Sepertinya Asep masih ingin mengganggu Kiya meskipun gadis mungil itu tak menanggapi. Entah sejak kapan dia suka menggodanya.
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA TINGGAL JEJAK, SUPAYA AKU SEMAKIN SEMANGAT 😁