PRIYA

PRIYA
PRIYA 22



Kiya tak langsung mengganti piyamanya. Dia justru membuka aplikasi Instagram, ingin melihat foto yang dikatakan Yeyen. Benar dugaan Kiya, foto itu memang fotonya yang ada di dalam mobil Prisma. Lagi-lagi foto itu diambil secara candid. Kemudian Kiya menggeser ke atas. Memang ada caption di sana. Dan sekarang Kiya mulai bertanya-tanya, mengapa Prisma semakin sering memposting fotonya? Apa ini hanya untuk challenge Spemogi? Atau ada maksud lain?


Apa benar kata Yeyen kalo Kak Prisma menyukaiku, batinnya.


Lalu Kiya berdecak keras sebelum masuk ke kamar mandi. Tidak mungkin.


^^ P R I Y A ^^


“Dek, ada yang cari kamu di bawah.”


Kiya yang baru selesai menyisir rambutnya lantas menoleh ke pintu. Tapi Raika sudah nggak berada di sana. Kiya melirik jam dinding di atas meja belajar. Sudah jam delapan lewat dua puluh lima menit.


Apa mungkin Kak Prisma? Kiya membatin.


Sekali lagi Kiya melihat penampilannya di cermin seluruh badan yang ada di depannya. Kemudian dia keluar dan langsung menuju teras rumah. Di kursi rotan yang memang sengaja di letakkan di sana sudah terduduk sosok berkacamata.


“Mas Yudi,” seru Kiya.


Yudi tersenyum lembut dan segera berdiri. “Pagi Ki. Maaf ya mengganggu.”


“Nggak papa kok Mas. Memangnya ada apa Mas ke sini?”


“Mas tadi baru habis jogging di Graha Sabha. Waktu pulang, Mas tiba-tiba teringat kamu. Makanya Mas ke sini. Udah lama kita nggak bertemu, kan?”


“Kayaknya Mas sibuk banget ya belakangan ini?” Lalu dengan isyarat tangganya, Kiya mempersilahkan lagi Yudi untuk duduk. “Duduk Mas!”


“Iya Ki. Sebagai panitia ospek, banyak yang harus dipersiapkan untuk menyambut mahasiswa baru.” Tiba-tiba mata Yudi menilik saksama. Menatap sedikit ganjil penampilan Kiya yang tampak rapi dengan celana jeans pensil dan kaos bermotif stripes, seolah hendak pergi keluar saja. Setahunya di hari minggu di jam seperti ini, Kiya masih berbalut piyama dan masih belum mandi. Hampir sama dengan adik semata wayangnya. “Kamu mau pergi keluar, ya Ki?” tanyanya.


Kiya mengangguk pelan. “Mau ke Bantul Kak.”


“Bareng keluargamu?”


“Nggak Kak. Sama—”


Belum sempat Kiya menyelesaikan kalimatnya, sebuah mobil Toyota yang hampir sebulanan ini dinaiki Kiya, berhenti di depan pagar. Sejak kepindahan Prisma ke Balle Hinggil, laki-laki itu memang tidak pernah membawa motor sport-nya lagi. Pergi sekolah atau pergi ke manapun, Prisma memang lebih sering menggunakan mobil berplat AB tersebut.Dan sekarang manik Yudi yang biasa terlihat hangat, kini berubah menjadi sangat tajam saat Prisma keluar dari mobil dan mendekati teras. Tatapan Yudi seolah elang yang sedang memperhatikan musuh atau mangsanya.


“Berangkat sekarang?” tanya Prisma setelah berdiri tepat di sampingnya.


“Nanti aja, Kak. Ada Mas Yudi.”


Prisma menoleh ke Yudi. Dia juga memberikan tatapan tajam—bak sedang membalas intimidasi laki-laki itu—sebelum menatap Kiya lagi dengan tatapan lembut dan penuh sayang. “Om Bimo dan Tante Rasti ada di rumah?”


Kiya menggeleng. “Mereka keluar pagi-pagi sekali. Nggak tahu mau ke mana.”


“Mbak Raika?”


“Ada di dalam. Tapi mungkin sebentar lagi mau keluar dengan Mas Galih.”


“Kamu udah sarapan, kan?”


“Udah Kak. Tadi Mbak Raika beli nasi kuning.”


“Ki, Mas udah ada janji dengan Mama Mas, mau menemaninya ke Malioboro. Sebaiknya Mas pulang sekarang.” Yudi memperhatikan jam di pergelangannya dengan mimik serius, seolah-olah dia memang sedang dikejar waktu atas janji itu. Nyatanya dia nggak memiliki janji apapun. Dia hanya jengah dan tidak suka melihat interaksi akrab antar dua lawan jenis di depannya. Ditambah lagi, hatinya mendadak nyeri. Seperti di tusuk-tusuk. “Aku pulang dulu, ya Ki?!” ujarnya sebelum meninggalkan teras dan mendekati sepeda motornya.


Kiya mengernyitkan alis. Dia pernah mendengarkan pertanyaan itu. Dari orang yang sama dan kalimat yang hampir sama. Kali ini Kiya memilih mengabaikannya. Lagian pertanyaan itu bukanlah pertanyaan penting. Dia juga sudah pernah menjawabnya. Hingga sekarang, jawaban itu masih sama. Dia selalu menganggap Yudi sebagai kakak laki-lakinya, sama halnya seperti Galih.


“Aku ambil tasku dulu, baru kita pergi,” ucap Kiya, kemudian meninggalkan Prisma yang masih menunjukkan ekspresi menuntut jawaban.


^^ P R I Y A ^^


“Kamu marah?”


“Hah?” respon Kiya sambil menoleh ke kemudi.


“Kamu marah karena pertanyaanku tadi?”


Alis sebelah kiri Kiya terangkat. Dia sungguh tak tahu pertanyaan mana yang Prisma maksud. Karena sejak meninggalkan area perumahannya, mereka memang tidak banyak bicara. Kiya lebih memilih memandang ke jendela, memperhatikan bangunan-bangunan yang mobil ini lewati. Dia banyak menemukan tempat-tempat makan unik yang patut dicobai. Dia juga sudah mencatat di otaknya, berencana akan mengajak Yeyen nanti.


“Pertanyaanku tentang kamu yang menyukai Yudi?” jelas Prisma.


“Nggak Kak.”


“Lalu kenapa kamu hanya diam saja?”


Kembali alis sebelah kiri Kiya terangkat. “Nggak ada apa-apa Kak. Lagian bukankah kita memang banyak diam kalo di dalam mobil?”


Tiba-tiba Prisma mengaruk-garuk kepalanya. Bukan gatal, hanya ekspresi kalau sebenarnya dia nggak mengerti dan sepaham dengan pemikiran Kiya. Awal-awal dekat, mereka memang jarang bicara. Tapi beberapa hari ini, intensitas mulut mereka mengeluarkan suara saat bersama bisa dikatakan sangat sering.


“Dan kalo seandainya aku mengatakan menyukai Mas Yudi, memangnya kenapa?” Kiya sungguh tak mempunyai maksud tertentu. Dia sekadar ingin tahu saja. Sudah dua kali Prisma melontarkan pertanyaan yang sama.


“Jadi kamu beneran suka dengan Yudi?” Mata Prisma mendelik tajam.


Kiya menghela napas panjang. Apa-apaan sikap laki-laki itu. Delikan yang Prisma tunjukkan jelas bukan tatapan terkejut, tapi delikan yang menunjukkan kemarahan. Kiya jadi merasa kalau laki-laki itu seolah sedang cemburu. Lalu ada apa dengan telinga Prisma.? Dia tidak pernah mengatakan kalau dia menyukai Yudi, tapi kenapa dia mengeluarkan pertanyaan pembenaran?


“Masih lama kita tibanya Kak?” tanya Kiya, mencoba mengalih pembicaraan.


Setelah kebersamaan mereka, Kiya mulai tahu bagaimana mengontrol Prisma. Bila tak ingin laki-laki itu cerewet-ini salah satu sifatnya yang baru diketahui Kiya sejak mengenalnya, padahal dari penampilannya, Prisma terlihat seperti orang yang pendiam-maka patuhi saja keinginannya. Karena ujung-ujungnya, Kiya pun tak akan bisa menolak. Bila ingin menghindari pembicaraan yang bersifat sensitif, alihkan saja topiknya. Biasanya hal itu selalu berhasil. Meskipun beberapa kali Prisma akan mengungkitnya di lain waktu.


“Bentar lagi. Setelah lewati Pasar Ngoto, sekitar dua menita kita udah sampai di rumah Mbah,” jawab Prisma.


“Apa kita nggak berhenti di supermarket, beli beberapa makanan untuk Mbahmu?”


“Aku udah beli buah kesukaan Mbah, Kok.” Prisma sedikit melirik ke belakang.


Tubuh Kiya mengikuti arah pandangan Prisma, didapatinya satu plastik putih besar yang berisikan beberapa buah naga dan sebuah semangka. “Kapan kamu membelinya? Biasanya toko buah belum buka kalo pagi-pagi?”


“Malam tadi. Setelah mengantarmu pulang,” sahut Prisma sambil membelokkan mobilnya hingga dia dan Kiya bisa melihat gerbang bertuliskan Cluster Prajae.


Sama halnya dengan rumah Prisma di Balle Hinggil, rumah di sini juga terlihat elit dan berkelas. Semua bangunan bertingkat dua dengan warna kuning pudar yang mendominasi dinding, dipadu dengan warna hitam di bingka jendela dan pintunya. Mobil merah ini berhenti di rumah ketiga dari gerbang. Namun rumah di depan Kiya kini tampak sedikit berbeda dari yang lain, dengan berbagai jenis bunga berkelopak menghiasi halaman. Selain bunga, juga ada sebuahpohon manga di sudut kiri dan pohon jambu air di sudut kanan.


BERSAMBUNG...


MOHON KRITIK, SARAN, VOTE, RATE, DAN LIKE-NYA.