PRIYA

PRIYA
PRIYA 18



“Entahlah. Aku nggak peduli. Yang penting mereka nggak mengangguku.”


“Tapi kalo memang benar ada yang mengancam mereka, kira-kira siapa ya?”


Kiya sedikit mengedikkan bahunya.


“Kalo menurutmu gimana, Ki?”


Kiya tidak lagi mengubris. Pandangannya sekarang tertuju ke koridor kelas XII IPS 4. Ada empat remaja laki-laki yang sedang berdiri di depan pintu kelas, salah satunya Prisma yang juga sedang memandangnya. Kiya sebenarnya sangat enggan untuk melewati koridor itu. Malas untuk bersinggungan dengan Prisma dan ketiga temannya, tapi cuma jalan itu yang menghubungi gerbang SMAN 24 Sleman.


“Pulang sekarang?” tanya Prisma tatkala Kiya sudah sejajar dengannya dan Yeyen sudah berpamitan dengan berbisik pelan di telinga Kiya.


Belum sempat Kiya menjawab, Asep sudah dulu berujar, “Demez, makasih ya.”


Kening Kiya spontan mengerut. Tidak mengerti. Memang apa yang telah dilakukannya sehingga Asep harus berterima kasih.


“Karena kamu jadian dengan Prisma, aku dan teman sekelas bisa makan sepuasnya di kantin,” tambah Asep menerangkan.


Pupil mata Kiya seketika membesar. Kemudian dia menatap ke wajah Prisma. Ingin mengetahui kebenaran yang diucapkan Asep. Namun Prisma tak menunjukkan ekspresi apa-apa. Hanya ekspresi datar yang memang sering ditunjukkannya. Kiya menjadi tak bisa menebak-nebak, kenapa Prisma mau menghabiskan uang jajannya hanya untuk status yang jelas-jelas tidak patut dirayakan.


“Yuk pulang!” ajak Prisma sebelum beranjak pergi.


“Duluan ya, Kak.”


Meskipun dia tak terlalu mengenal ketiga laki-laki tersebut, Kiya tetap berpamitan, menunjukkan rasa hormat kepada seniornya di sekolah. Usia mereka memang berbeda setahun, tapi mereka tetap lebih tua darinya dan wajib dihormati. Kemudian dia segera mengekori langkah Prisma.


Saat Kiya dan Prisma tiba di area parkir siswa yang terletak persis di samping kelas XII IPS 4, hampir semua pasang mata terlihat menunjukkan intensi atas kehadiran mereka. Akhirnya Kiya terpaksa menundukkan kepala. Dia merasa terganggu. Sementara Prisma terlihat biasa-biasa saja, merasa tak terusik sedikitpun. Mungkin juga menganggapnya sudah biasa. Dengan wajah tampan yang dimilikinya, pasti dia sering mengalaminya.


“Kenapa Kakak memposting foto itu?” Baru saja mobil yang dikemudikan Prisma ini melewati gerbang sekolah, Kiya tak tahan lagi untuk mengungkapkan keganjalan di hatinya.


“Foto apa?”


“Fotoku yang Kak Prisma posting di IG Kakak?”


Prisma menoleh sejenak ke samping. “Oh, itu.”


“Jadi kenapa, Kak?” Tanggapan Prisma yang singkat itu jelas tak memuaskan Kiya.


“Cuman ingin yang lain tahu kalo kita sedang pacaran.”


Kiya mendengus. Bukan kalimat itu yang ingin didengarnya. Setidaknya ada alasan logis yang bisa diterima otaknya. “Tapi kenapa Kak Prisma nggak mendiskusikan dulu denganku. Aku merasa dirugikan karena foto itu. Lagian kita nggak benar-benar pacaran. Nggak selayaknya Kakak ato aku mempublikasikannya.”


“Menurutku tidak,” bantah Prisma tak sependapat.


“Maksud Kakak?”


“Aku sudah membebaskanmu untuk melakukan apapun dengan video itu. Jadi juga sudah sepantasnya bila kamu membiarkan aku melakukan sebebas apapun untuk persiapan challenge Spemogi ini, termasuk mempublikasikan status kita ke orang-orang,” jelas Prisma.


Kiya tak bisa lagi berkata-kata. Mulutnya mendadak terkunci. Apa yang dilontarkan Prisma memang benar. Laki-laki itu membiarkannya menghapus foto skandal tersebut tanpa meminta penjelasan apapun. Tapi ada sesuatu yang masih menganjalnya. Dia benar-benar lupa menanyakan waktu menghapus foto itu.


“Apakah Kakak masih punya rekap video itu?” ungkap Kiya.


“Jadi video itu hanya ada di youtube Kakak saja?” tanya Kiya ingin memastikan. Bukan maksud mencurigai. Hanya antisipasi saja. Kalau Prisma masih mempunyainya, dia berharap Prisma mau menghapusnya. Kiya tak ingin video itu menjadi perkara di masa depan.


“Setelah video itu diupload ke Youtube, aku langsung menghapusnya dari laptopku. Jadi video itu hanya ada di Youtube saja,” terang Prisma sambil menoleh Kiya sebentar sebelum kembali fokus mengemudi.


“Trus kapan kita mulai challenge-nya Kak?”


“Apa kamu pernah pacaran sebelumnya?”


Kiya spontan menoleh ke samping kanan. Matanya dan Prisma seketika bertemu. Kalimat yang dilontarkan Prisma jelas bukan jawaban. Dan apa pula hubungan pertanyaan bersifat privasi itu dengan challenge Spemogi?


“Karena Spemogi adalah challenge mengulang kenangan, mungkin kita bisa memakai kenanganmu untuk diulang bila kamu pernah pacaran,” papar Prisma sebelum mengambil ponselnya yang ada di dashboard yang tiba-tiba bergetar. Ada sebuah panggilan telepon. Kiya sempat melihat nama Awan yang tertera di layar. Namun Prisma meletakkan lagi ponsel itu ke dalam dashboard, tak berniat untuk menjawabnya. “Jadi kamu pernah pacaran sebelumnya?” ulang Prisma lagi. Kiya belum menjawab pertanyaannya tadi.


Kiya menggeleng. “Nggak Kak.”


“Aku juga nggak pernah.”


Kiya menaikkan sebelah alisnya. Lalu? batinnya dalam hati.


“Bila kamu menginginkan challenge itu cepat dilaksanakan, mulai sekarang kamu harus memikirkan kenangan yang bagaimana yang harus direka ulang. Tapi ingat, kenangan itu harus masuk akal dan nggak lebay seperti adegan-adegan sinetron,” papar Prisma.


Kiya manggut-manggut. Paham. Dia juga berencana akan bertanya ke Raika nanti. Sebenarnya dia juga penasaran awal pertemuan Mbaknya dengan Galih. Ditambah lagi hubungan pacaran Raika dan Galih sangat awet. Mereka sudah pacaran selama delapan tahun dan sebentar lagi mereka akan menikah. Tentunya banyak kejadian yang tak terlupakan yang sudah mereka lakukan. Mungkin kenangan Raika dan Galih bisa dipakai untuk melakukan tantangan Spemogi nanti.


“Ehm, Kak. Boleh aku bertanya?” Gara-gara melihat nama Awan di layar ponsel Prisma tadi, dia jadi kepikiran dengan apa yang diucapkan Yeyen.


“Apa?”


“Apa orang ingin Kakak tantang itu adalah Kak Awan?”


Prisma terdiam cukup lama sebelum berujar, “Mungkin.”


Mungkin? Berarti bisa iya, bisa juga tidak, batin Kiya. Sebenarnya dia nggak puas dengan jawaban itu. Terlalu taksa. Tapi dia juga enggan bertanya-tanya lagi. Bukan urusannya juga siapa yang ingin ditantang Prisma untuk melakukan challenge Spemogi itu. Dia bertanya tadi juga karena ingin mengetahui dugaan Yeyen benar atau tidak. Lagian sepertinya Prisma tampak tak ingin menceritakan sosok misterius yang ditantang tersebut.


^^ P R I Y A ^^


Rasti benar-benar terlihat sangat menyukai Prisma. Bisa dikatakan kalau wanita paruh baya itu telah menganggap Prisma sebagai anaknya sendiri. Tak hanya Rasti, Bimo—yang baru bertemu satu kali dengannya—dan Raika juga tampak menyukainya. Mereka mengatakan kalau Prisma merupakan menantu idaman karena sifat baik dan sikap sopannya. Sementara Kiya, melihat sikap keluarganya dan mendengar kalimat “menantu idaman” itu hanya bisa mencebik.


Seperti hari-hari sebelumnya, di hari sabtu ini Kiya kembali pulang bersama Prisma. Selama hampir dua mingguan ini, Kiya memang berangkat dan pulang bareng dengan laki-laki itu. Dia sebenarnya malas satu mobil dengan Prisma. Tapi dia juga nggak ingin mendengarkan ocehan Rasti gara-gara menolak tumpangan Prisma. Katanya, lebih merasa amanlah daripada Kiya pulang pergi dengan angkot. Katanya, beliau tidak terlalu khawatir jika bersama Prisma. Katanya lagi, bisa lebih hemat. Dasar emak-emak!


“Temani aku ke Gramedia dulu ya!”


“Tapi—”


“Aku sudah minta izin ke Mamamu. Kamu akan pulang telat.”


Kiya memilih bungkam, malas berkomentar. Ujung-ujungnya pasti dia tak akan bisa menolak, apalagi Rasti sudah menyetujui. Dua puluh menit kemudian, mobil merah yang dinaikinya berhenti di toko buku yang ada di jalan Sudirman itu. Hampir setengah jam, mereka berada di gedung berlantai tiga tersebut. Prisma membeli dua buku penunjang untuk ujian nasionalnya nanti. Dia juga membelikan Kiya novel. Awalnya Kiya ingin menolak. Tapi Prisma terus mendesak dan akhirnya dia memilih random saja buku di rak terdekat.


BERSAMBUNG...


YUK, MASUK CHAT GRUP ALSAEIDA. BISA KEPO-KEPOIN DI SANA. JANGAN LUPA LIKE, COMMENT, AND VOTE.