PRIYA

PRIYA
PRIYA 12



Yudi mengulurkan sebelah tangannya. “Yudi.”


“Prisma,” balas Prisma dengan mengambil uluran tersebut.


“Sekarang kalian mau ke mana?”


Kiya mengernyitkan alisnya. Entah kenapa dia tak terlalu suka mendengarkan kata kalian yang diucapkan Yudi. Merasa tak pantas saja. “Aku mau langsung pulang Mas.”


“Pulang dengan siapa, Ki?” tanya Yudi lagi.


“Naik angkot Mas.”


“Mas aja yang ngantarin kamu. Rumah kita kan searah.”


“Nggak merepotkan, Mas?”


Yudi menggeleng pelan. “Nggaklah. Bukan pertama kali juga Mas mengantarmu.”


“Makasih ya Mas,” tutur Kiya sambil tersenyum. Dia sudah menduga kalau Yudi akan berkata seperti itu dan dia pun nggak berniat menolak. Bisa hemat empat ribu juga. Tambahan untuk beli kouta nanti. Zaman milleneal sekarang, kouta merupakan hal pokok layaknya seperti beras.


Melihat interaksi di depannya yang seolah menganggap dirinya tak ada, Prisma mendengus kasar. Kiya dan Yudi mau tak mau mengalihkan pandangan mereka menuju sosok jangkung itu. Masing-masing alis mereka saling bertaut.


“Besok aku tunggu jam sepuluh,” tukas Prisma sebelum pergi, menuju sepeda motornya yang terparkir tidak terlalu jauh dari posisi mereka.


Alis Kiya semakin kuat bertaut. Bukankah tadi Prisma mengatakan kalau dia sedang menunggu seseorang, kok sekarang pergi? Juga Kiya belum memutuskan untuk menyetujui tentang ke kosan Bumi Putra, kok Prisma bisa berkata sepertu itu? Fix, selain terkesan galak, Prisma sepertinya juga seorang pemaksa. Kiya semakin nggak ingin memiliki urusan dengan cowok itu, meskipun situasinya sekarang nggak memungkinkan. Dia memang harus berurusan dengan Prisma.


“Masih ada yang mau dibeli?” tanya Yudi setelah mereka terdiam cukup lama dan setelah Prisma tak tertangkap retina mereka lagi.


Kiya menggeleng. “Nggak Mas.”


“Pulang sekarang?”


“Yuk!” angguk Kiya.


“Kamu akrab dengan dia?” Yudi mulai berjalan diikuti Kiya yang mensejajarkan langkahnya.


Alis sebelah kanan Kiya terangkat. “Sama Kak Prisma?”


Yudi mengangguk dengan menunjukkan sedikit raut tak suka.


“Nggak Mas.”


“Syukurlah.” Yudi menghela napas lega.


“Memangnya kenapa Mas?” tanya Kiya yang merasa ganjil dengan reaksi Yudi yang tak biasa.


“Nggak ada papa kok,” jawab Yudi diakhiri dengan senyuman.


^^ P R I Y A ^^


Malam minggu adalah malamnya bagi anak muda. Hampir seluruh tempat makan didonimasi oleh mereka. Kata sebagian orang, malam minggu juga malam untuk mengakrabkan diri, baik dengan pasangan ataupun sesama teman. Kata sebagian orang lagi, makanan merupakan interkasi sosial untuk memperkuat silaturahmi. Makanya banyak orang yang menjadi akrab setelah makan bersama.


Disinilah Kiya dan Yeyen berada, di sebuah lesehan yang ayam geprek sebagai menu utama. Kedua gadis itu sudah sering ke sini. Sebagian pelayan bahkan mengenal mereka. Bisa dikatakan kalau lesehan Pak Amin ini adalah salah satu tempat makan favorit mereka. Selain harganya yang terjangkau, makanan yang disajikan juga terkenal enak. Pokoknya recommende banget bagi suka kuliner sambil santai-santai.


“Jadi besok kamu akan ke kosan Bumi Putra?” tanya Yeyen sebelum memasukkan nasi ke dalam mulut. Ini suapan kesekiannya. “Tapi menurutku, sebaiknya kamu ke sana aja,” tambah Yeyen lagi.


Kiya mengembus napas pelan. Sampai sekarang dia masih belum memutuskan. Dia masih ragu apakah besok akan pergi ke sana atau tidak. Apakah dia harus menyetujui atau mengabaikannya saja tentang pertukaran yang dikatakan Prisma itu? Ah... Bingung. Bingung. Bingung. Satu sisi dia tak ingin berurusan dengan Prisma lagi. Tapi di sisi lain, dia ingin video itu segera dihapus agar tak menimbulkan prahara.


Ada dua alasannya kenapa Kiya masih ragu-ragu memutuskannya. Pertama, melihat dari sikap Prisma kemarin yang memberikan syarat atas pertolongannya, Kiya yakin Prisma bukanlah sosok yang mudah diajak bernegosiasi. Kedua, Kiya tidak tahu mengapa Prisma menyuruhnya datang ke kosan itu. Walaupun jauh di lubuk terdalamnya, Kiya menyakini Prisma tak akan mencelakainya.


“Aku ke WC dulu ya. Kebelet nih gara-gara kebanyakan minum.” Yeyen berdiri, kemudian segera menjauh dengan tergesa-gesa. Gadis itu menghabiskan dua gelas es teh tadi.


“Sama siapa ke sini Ki?”


“Sama Yeyen Mas. Tapi dia sedang ke kamar mandi sekarang,” jawab dengan Kiya sambil tersenyum. Kemudian dia memperhatikan penampilan Yudi dengan tas selempang berwarna coklat yang menggantung di pundaknya. “Mas habis kuliah, ya?” tanya Kiya meskipun dia nggak yakin dengan pertanyaan yang dilontarkannya. Masa iya kuliah di malam minggu begini?


“Nggak kok. Habis rapat untuk acara di Kampus Ki.” Yudi menduduki bangku kayu yang tadi diduduki Yeyen. “Kalian udah mau selesai?” imbuhnya dengan melihat piring-piring yang hampir bersih di depannya.


“Iya Mas. Nih bentar lagi mau—” Tiba-tiba Kiya menghentikan ucapnya. Dia merasa ada seseorang yang sedang menatapnya dengan tajam, membuat bulu romanya sedikit bergidik. Ditolehkannya ke arah selatan, menatap pintu masuk yang sudah berdiri laki-laki beralis tebal dengan raut masam dan tatapan tajam.


Prisma berjalan menghampirinya, kemudian melewati mereka tanpa menoleh menuju meja kasir yang berada dua meja dari posisi Kiya dan Yudi. Dia terlihat berbincang dengan laki-laki paruh baya berseragam merah. Dia menyerahkan selembar uang dua puluh ribu sebelum membalikkan badan.


Prisma akan kembali melewati meja bernomor limabelas itu. Entah kenapa Kiya merasa jantungnya berdetak kencang kini. Bak seolah ada pemburu yang sedang mengintai dan bersiap untuk memangsanya. Detak itu semakin kuat tatkala Prisma yang berhenti di sampingnya.


“Besok aku tunggu jam sepuluh. Jangan telat.” Setelah berkata seperti itu, tanpa menunggu respon Kiya, Prisma pergi menjauh.


Yeyen yang baru saja kembali dari refleks WC mengernyitkan. “Dia Kak Prisma, kan?” Yeyen lagi-lagi mengernyit saat memandang Yudi yang sudah ada di tempat duduknya. “Dan Mas ngapain di sini?”


“Mau makanlah. Emangnya apalagi?” tukas Yudi.


“Sendiri? Atau sama pacar Mas?”


“Pacar? Memangnya sejak kapan Mas punya pacar?” ujar Yudi dengan nada sedikit ketus.


“Siapa tahu,” sahut Yeyen sambil mengedikkan bahunya.


“Mas ke sini sama teman-teman Mas, “ terang Yudi, dia mengangkat sedikit dagunya ke tempat ketiga temannya duduk.


“Sana gih! Nih tempat dudukku.” Yeyen menggerak-gerakkan jemari ke depan, mengusir.


Yudi mendengus tak suka sambil berdiri. “Mas ke teman-teman dulu ya Ki?” ucap Yudi yang dibalas anggukkan singkat Kiya.


“Hush, pergi jauh-jauh!” kata Yeyen seraya berdecak kesal.


Yudi sekali lagi mendengus, lebih terdengar kasar dari sebelumnya. Sementara Kiya hanya tersenyum kecil. Interaksi keduanya terlihat menarik. Yudi tipikal sosok yang kalem saat di depan orang lain, termasuk dirinya. Tetapi kalau di depan Yeyen, Yudi tampak berbeda. Dia lebih ekspresif dan lebih sering menunjukkan suaranya.


“Ganggu malam minggu orang aja!” gerutu Yeyen. “Trus tadi ngapain Kak Prisma ke sini?” sambungnya yang tiba-tiba teringat dengan sosok Prisma.


“Mesen makanan mungkin.”


“Hanya itu? Tapi kayaknya tadi aku lihat dia ngomong samamu.”


Tiba-tiba Kiya memasang wajah memelas dan memohon. “Yen, besok temenin aku ya?”


“Ke mana?”


“Ke kosan Bumi Putra.”


“Oke deh. Jam berapa?”


“Jam sepuluhan.”


“Sip.” Yeyen menunjukkan jempol kanannya. Kemudian dia berdiri sambil melirik jam tangan. “Pulang yuk!”


Kiya juga ikut melirik jam di pergelangan. “Yuk!”


Yeyen menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan ke Kiya dan menyuruhnya untuk membayar ke kasir. Kemudian dia pergi menuju meja Yudi dan teman-temannya. Sepertinya ada yang ingin dibicarakannya.


BERSAMBUNG...


THANK YOU SO MUCH. PLEASE LIKE, VOTE, COMMENT, AND RATE 👍