PRIYA

PRIYA
PRIYA 06



Yeyen cepat-cepat merogoh saku baju dan mengambil ponselnya. Dia bermain sebentar dengan touchscreen ponselnya sebelum menyodorkan ke Kiya. “Lihat nih!” suruhnya dengan menunjukkan sebuah foto dari aplikasi Instagram.


Kiya terpaksa mengambil sodoran itu. Sebenarnya dia nggak terlalu tertarik dengan apa yang ingin Yeyen perlihatkan, apalagi yang berhubungan dengan Awan.


Tak ada yang aneh dari postingan itu. Hanya foto tangan yang saling menggenggam satu sama lain. Caption-nya pun tidak ada kata-kata romantis. Hanya ucapan singkat selamat ulang tahun yang dilengkapi tanda hati di awal dan akhir kalimatnya.


“Coba kamu baca comment Kak Prisma!” suruh Yeyen lagi.


Kiya yang hendak menyerahkan ponsel merek terkenal itu lantas mengurungkan niatnya. Kemudian dia menggulir ke kolom komentar dan mencari akun bernama Prisma. Kalau komentar yang lain kebanyakan menanyakan pertanyaan siapa yang berulang tahun atau pertanyaan yang menjurus maksud tanda hati tersebut, Prisma justru menuliskan”semoga tetap langgeng ya. Jangan lupa pajak jadiannya” sehingga komentarnya dipenuhi dengan balasan-balasan beruntun.


“Menurutmu gimana? Apa benar Kak Awan punya pacar?” tanya Yeyen meminta pendapat.


Kiya mengedik bahunya. “Entahlah. Mungkin saja.”


Bahu Yeyen kontan melemas. Wajahnya langsung memasang mimik terluka. Foto beserta caption penuh makna tersirat itu tentunya meluluh lantahkan hatinya yang sangat mengidola Awan. Hampir setiap hari dia men-stalking media sosial cowok itu, berharap ada peluang untuk mereka dekat suatu hari nanti. Atau kalau dia beruntung, dia bisa menjalin kasih dengannya.


“Sudah, jangan bersedih! Masih banyak cowok lain,” ucap Kiya seraya menepuk-nepuk pelan pundak Yeyen, mencoba menyemangati.


“Tapi dia cinta pertamaku.”


“Cinta pertama nggak mesti harus jadi pacar pertama. Karena kebanyakan orang menikah bukan sama pacar pertama mereka, tetapi dengan pacar terakhir mereka.”


“Ck, kamu sok tahu! Padahal kamu kan belum pernah pacaran,” decak Yeyen.


“Biarin! Weeekkk!” Kiya menjulurkan lidahnya. “Tapi kenapa sih kamu bisa suka sama Kak Awan? Apa karena wajahnya mirip Zayn Malik?” Kiya sudah sejak dulu ingin bertanya, tapi dia selalu lupa hingga satu tahun sudah berlalu begitu saja.


Kepala Yeyen dengan cepat mengoyang ke kiri dan kanan. “Bukan. Bukan karena itu saja. Tapi karena dia baik dan pernah menolongku saat MOS,” jawab Yeyen dengan tatapan berbinar. “Kamu ingat kan kalo hari pertama MOS aku sedikit telat masuk ke barisan gara-gara dari WC. Padahal kejadiannya nggak seperti itu. Hari itu aku telat bangun. Jadinya aku terlambat datang. Saat itu Kak Awan juga telat. Trus dia membantuku masuk ke sekolah lewat pagar belakang. Dia juga yang memberitahuku agar berpura-pura dari WC supaya aku nggak di hukum sama panitia,” ceritanya dengan sumringah. Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah menjadi nelangsa kembali. Dia teringat lagi dengan postingan di akun Instagram Awan.


“Sudah, jangan bersedih lagi!” Sekali lagi Kiya menepuk-nepuk pundak Yeyen. “Aku traktir bakso deh!” tambahnya sebelum melewati pintu kantin.


“Sebenarnya aku nggak nafsu makan. Tapi karena gratis, aku mau deh,” sahut Yeyen dengan raut wajah yang masih tak bersemangat.


Kiya kontan terkekeh kecil melihat ekspresi Yeyen. Memang tidak ada yang bisa menolak makanan gratis, meskipun dalam kondisi tragis sekalipun. Makanan gratis itu ibarat mendapatkan hadiah lotre dengan nilai yang fantastis. Harus dan wajib diterima.


Kiya menyuruh Yeyen untuk mencari bangku yang kosong. Sementara dia sendiri akan menuju pojok kantin. Untungnya istirahat kedua ini kantin tidak terlalu ramai. Tidak terlalu banyak antrian di gerobak bakso Pak Tarno. Kebanyakan siswa-siswi SMAN 24 Sleman memilih nongkrong-nongkrong di depan kelas sambil ngemil dan bincang-bincang. Atau sebagian anak-anak cowoknya memilih bermain sepak bola atau basket di lapangan.


“Baksonya dua yang Pak,” pesan Kiya setelah berdiri di dekat gerobak.


“Baik Neng,” sahut Pak Tarno.


“Yang satu cabenya banyakin Pak. Yang satunya sedang aja.”


“Iya Neng,” sahut Pak Tarno lagi sambil mengambil dua buah mangkuk.


Kiya ingin segera memutuskan kontak mata mereka, tapi entah kenapa manik ini tidak mau berpaling dan justru membalas tatapan tajam Prisma. Benaknya mulai bertanya-tanya, mengapa Prisma menatapnya seperti itu? Apakah ini ada sangkut pautnya dengan kejadian setahun lalu? Apa dia dendam?


“Neng, ini baksonya!”


Telinga Kiya seolah tuli. Ucapan Pak Tarno bagai angin lalu yang hanya lewat sepintas. Matanya masih betah menjalin kontak dengan Prisma.


“Neng!” panggil Pak Tarno dengan sedikit lebih keras.


Kiya spontan tersentak. “I-Iya Pak. Ada apa?”


Pak Tarno menyodorkan baki di tangannya. “Ini baksonya Neng.”


“Ini uangnya Pak.” Kiya meletakkan uang berwarna hijau tua itu ke atas papan kecil pemotong daun seledri sebelum mengambil baki yang sudah terdapat dua mangkuk bakso komplit.


“Yang di sebelah kiri yang banyak cabenya ya, Neng.”


“Ya Pak. Terima kasih.”


“Hati-hati panas, Neng,” peringat Pak Tarno sebelum Kiya menjauhi gerobaknya.


Kepala Kiya kini celingak-celinguk. Dia masih belum menemukan keberadaan Yeyen. Entah di mana gadis itu duduk. Karena terlalu fokus mencari posisi Yeyen, dia tak menyadari ada sosok jangkung yang sedang mendekatinya dari belakang. Ketika Kiya membalikkan badan, baki yang ada di tangannya kontan menabrak tubuh laki-laki itu, menyebabkan kuah bakso mengenainya sebelum mangkuk itu jatuh ke lantai.


Suasana kantin yang sedikit ricuh mendadak sunyi. Semua pasang mata sekarang sedang tertuju ke suara pecahan dan suara pekikan yang berasal dari mulut Kiya.


^^ P R I Y A ^^


Kiya berjalan tergesa-gesa menuju kelas XII IPS 4, berharap masih ada Prisma di sana. Setelah insiden bakso tumpah tadi, dia belum sempat meminta maaf karena Prisma sudah terlanjur keluar dari kantin. Ketika Kiya ingin menyusul ke UKS, bel tanda masuk tiba-tiba berbunyi. Mengingat kalau Pak Hilman akan mengajar di pelajaran berikutnya, Kiya terpaksa mengurungkan niatnya dan segera menuju kelas. Jika Bu Desi adalah guru tergalak versi cewek, makanya Pak Hilman adalah guru tergalak versi cowoknya. Bagi anak-anak SMAN 24 Sleman, dua guru tersebut sebaiknya dihindari bila ingin hidup sejahtera di sekolah.


Sampai sekarang Kiya masih mengutuk atas kecerobohannya saat itu. Di sini ada lebih lima ratus siswa-siswi yang menuntut ilmu, tapi kenapa harus Prisma yang terkena tumpahan itu, kenapa tidak orang lain saja.


“Ka-kamu nggak papa, Kak?” tanya Kiya sambil mendekat ke posisi Prisma yang hanya satu langkah di depannya.


Kiya tahu kalau pertanyaan itu adalah pertanyaan bodoh yang tak seharusnya dilontarkan. Prisma jelas tak terlihat baik-baik saja. Dia terlihat meringis kesakitan sambil mengibas-ngibas seragamnya, berharap kain itu tidak menempel di perutnya dan bisa sedikit meredakan rasa terbakar di kulitnya. Kuah bakso itu pasti sangat panas hingga membuat Prisma belingsatan. Tapi Kiya tak tahu harus bertindak bagaimana selain melontarkan kalimat tak berguna tersebut.


BERSAMBUNG...


Yuk, gabung di grup Alsaeida!!!