PRIYA

PRIYA
PRIYA 15



Prisma tampak tak terpengaruhi. Sudah biasa melihat sikap kekanakan Asep. Dia justru melangkahkan kaki menuju mobilnya. Sedangkan Kiya hanya mendengus pelan sebelum mengekori Prisma.


“Kak Awan dan Kak Asep nggak jadi makan?” tanya Kiya dengan tatapan heran. Dikiranya kedua laki-laki itu akan menaiki mobil Prisma juga untuk pergi ke Lesehan Pak Amin. Namun mereka justru menuju motor matic berwarna hitam yang terparkir tepat di belakang mobil Prisma.


“Jadi kok. Tapi pake motor ini aja.” Asep menepuk-nepuk jok motornya. “Kami nggak mau ganggu kalian. Ya, kan Wan?”


Awan yang baru saja memasang helmnya terkekeh kecil.


“Jangan lupa pajak jadiannya ya?!” tukas Asep riang.


Kiya tak menanggapi lagi, lebih mengikuti Prisma yang membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Sekarang Asep menjadi orang pertama yang ada di black list-nya. Sebisa mungkin dia harus meminimalisir interaksi di antar mereka.


Perjalanan menuju rumah makan Pak Amin ditempuh lebih kurang lima menit. Kalau siang hari seperti ini, tempat itu memang sangat ramai hingga mereka hampir saja tak mendapatkan tempat duduk. Selain rasa di sini memang terkenal enak, harganya bisa dibilang cukup murah dan cocok untuk kantong anak sekolahan ataupun mahasiswa. Kiya dan Yeyen juga sering makan di sini. Lesehan yang berlokasi di Kaliurang Km 13 menjadi salah satu tempat makan favorit mereka.


Selama makan Kiya tidak banyak mengeluarkan suara dan nimbrung perbincangan ketiga kakak kelasnya tersebut. Bukan karena dia sangat menikmati nasi beserta ayam goreng di depannya, hanya malas saja dan dia juga tak mengerti apa yang mereka bahas. Dan tiga puluh menit kemudian, acara makan siang keempat remaja itu telah selesai. Mereka keluar dari lesehan itu dengan wajah puas.


Seperti perkataan Prisma tadi, kini mobil yang dinaikinya dan Kiya sedang menuju ke Brigjen Katamso. Sudah seperempat jalan mereka lalui dalam keheningan. Kiya terlalu sibuk memikirkan bagaimana memulai percakapan mengenai video itu. Sementara Prisma terlihat berkonsentrasi menyetir.


“Ehm... Kak—”


“Kamu suka dengan Kakaknya Yeyen?”


Sejak beberapa jam bersamanya, Kiya jadi tahu kalau Prisma suka memotong kalimatnya. Cowok itu juga tidak suka basa-basi. Langsung to the point. Hanya saja dia tidak menduga akan mendapatkan kalimat seperti itu. Pertanyaan bersifat cukup sensitif tersebut tak sepatutnya terucap dari mulut Prisma. Mereka tidak dekat hingga harus menceritakan perasaan masing-masing.


“Jadi benar kamu menyukainya?” ulang Prisma lagi.


“Aku sudah menganggap Mas Yudi sebagai kakak laki-lakiku,” jawab Kiya akhirnya, walaupun dia sebenarnya enggan menjawab. “Memangnya kenapa?” tambahnya yang menurut Kiya, dia nggak seharusnya memberikan pertanyaan itu.


“Ada seseorang yang kamu sukai?”


Dahi Kiya kontan mengerut. Pertanyaan apalagi ini?


“Ada seseorang yang kamu sukai?” ulang Prisma lagi.


“Nggak Kak,” jawab Kiya dengan kerutan di dahinya yang kian jelas.


“Mulai detik ini kita pacaran.”


Kiya bungkam. Dia merasa telinganya sedang bermasalah hingga mendengarkan kalimat-kalimat yang sangat menggelitik hatinya itu.


“Kamu tahu challenge Spemogi?”


Kepala Kiya terangguk pelan. Dia pernah mendengarkan istilah itu. Dia juga pernah beberapa kali menemukan video Spemogi di Youtube. Spemogi kepanjangan dari special moment with my girlfriend yang merupakan tantangan untuk mengulang kembali kenangan indah bagi sepasang kekasih. Setelah sepasang kekasih itu telah melaksanakannya, mereka harus menunjuk pasangan lain untuk melakukannya juga. Hampir miriplah dengan tantangan ice breaker challenge.


Lalu apa hubungannya denganku, batin Kiya.


“Aku ingin melakukan challenge itu agar bisa memberikan challenge ke seseorang. Makanya aku membutuhkanmu untuk melakukannya. Jadi kamu harus menjadi pacarku,” jelas Prisma sambil menolek Kiya sebentar sebelum kembali menatap jalanan di depannya. “Dan apakah kamu ingat apa yang aku ucapkan kemarin, tentang permintaan berarti pertukaran?” ucap Prisma lagi.


Kiya mengangguk tegas. Itulah alasannya kenapa dia bisa terdampar di kosan Bumi Putra dan ada di mobil ini.


“Aku akan menghapus video itu, asal kamu mau menjadi pacarku dan mau melakukan challenge itu.”


“Tapi kakak bilang kemarin, kakak akan menghapus video itu kalau aku datang ke kosan Bumi Putra.”


Kiya coba mengingat-ngingat percakapan mereka kemarin. Memang benar kata Prisma. Dia memang tidak pernah menjanjikan untuk menghapus video skandal tersebut. Sekarang dia merutuki mengapa baru menyadarinya. Dia menjadi buang-buang waktu saja dan harus berhadapan dengan situasi seperti ini.


“Kenapa harus aku, Kak?” Kiya bukan kegeeran kalau Prisma mungkin menyukainya. Hanya ingin tahu alasannya saja. Prisma kan bisa memilih cewek lainnya yang lebih cantik. Apalagi Prisma merupakan salah satu cowok populer di sekolah. Pasti ada beberapa cewek yang sukarela menjadi kekasihnya dan mau melakukan challenge Spemogi.


“Karena kita saling membutuhkan.”


Jawaban Prisma cukup ambigu. Namun Kiya cukup memahaminya. Dia membutuhkan Prisma untuk menghapus video itu. Sedangkan Prisma membutuhkannya sebagai partner untuk melakukan challenge Spemogi.


Prisma melepaskan sebentar tangan kanan yang memegang stir dan mengulurkannya. “Gimana? Deal?”


“Bisakah aku memikirkannya dulu?”


“Kamu harus menjawabnya sekarang atau nggak sama sekali.”


Ah, Kiya melupakan kalau Prisma termasuk orang yang suka memaksa. Dia pasti tak akn memberikannya waktu untuk berpikir. Cih, dasar angry bird!


“Deal?” ujar Prisma lagi kembali mengulurkan tangannya.


Kiya mengambil uluran tangan itu dengan hati yang penuh bimbang. Dia ingin mencari solusi lain, tapi tak ada solusi terbaik selain menerima tawaran Prisma. “Deal. Tapi aku ingin videonya dihapus secepatnya.”


“Setelah aku mempunyai HP nanti, kamu bisa langsung menghapusnya,” sahut Prisma.


^^ P R I Y A ^^


Melihat kemewahan tempat tinggal Prisma yang ada di Balle Hinggil, Kiya tahu kalau keluarga Prisma termasuk golongan kelas atas. Ditambah lagi dengan penampilannya yang menggunakan barang-barang bermerek, seperti kemeja Valcon dan sepatu Nike yang sekarang sedang dipakainya. Jadi wajar kalau ponsel yang dibelinya bernilai cukup fantastis dan juga merupakan produk terbaru dari Iphone.


“Nih!” Prisma menyodorkan ponselnya yang sudah diisi kartu yang berisi nomor lamanya.


Kiya takut-takut mengambil benda segiempat itu. Bagaimana pun ponsel itu bernilai delapan digit. Kalau tiba-tiba jatuh dan rusak, dia yakin dia tak akan mampu untuk menggantinya.


Kiya segera membuka aplikasi Youtube yang terlampir di depan layar, kemudian mencari video yang bermasalah itu dan segera menghapusnya. Setelahnya Kiya membuka ponselnya sendiri untuk memastikan apakah video itu sudah benar-benar terhapus dan tidak bisa dilihat orang lain lagi.


Helaan napas lega keluar dari mulut Kiya. Saran yang dianjurkan Yeyen sudah dilakukannya. Video itu tak akan menjadi masalah lagi di masa depan. Kini dia hanya harus memfokuskan bagaimana mengetahui hubungan wanita itu dengan Papanya. Setidaknya dia harus tahu—minimal—namanya.


“Sudah?”


Huh! Kiya hampir melupakan masalah baru yang tepat di depan matanya. Dia lantas menyodorkan kembali ponsel itu ke Prisma. “Sudah Kak. Terima kasih.”


“Ya,” ujar Prisma seraya bermain dengan touchscreen ponsel barunya.


“Jadi kapan kita melakukan challenge Spemogi Kak?”


“Nanti.”


Kiya refleks mengernyitkan alisnya. Kata nanti itu banyak maknanya. Bisa hari ini. Bisa besok. Atau mungkin beberapa tahun lagi. Namun Kiya tidak bertanya-tanya lagi karena Prisma sudah menempelkan ponselnya ke telinga.


“Setelah ini, temani aku ke toko kue,” ucap Prisma sebelum kata sapaan halo terlontar dari mulutnya. [ ]


BERSAMBUNG...


YUK SALING LIKE, COMMENT, AND VOTE. PLEASE RATE JUGA.