
“Mbak, aku pake kemeja dan celana jeans aja, ya?” Kiya mulai jengah. Lemari pakaiannya hampir kosong, tapi Raika belum menentukan pilihan.
“Hush, nggak boleh! Kamu mau bertemu orang tua Prisma, jadi kamu pake pakaian yang anggun dong. First impression itu sangat penting,” ujar Raika tanpa memandang mata lawan bicaranya dan tetap asyik memindai pakaian Kiya.
“Tapi sebentar lagi jam tujuh, Mbak.”
Tiba-tiba Raika menepuk jidatnya. “Oh iya, kok aku bisa lupa ya.”
Setelahnya Raika keluar dari kamar Kiya. Lima menit kemudian dia sudah kembali dengan sebuah gaun berwarna soft pink sebatas lutut, berlengan tiga perempat dengan pita berwarna putih di lingkaran pinggangnya, dan di bawahnya terdapat renda-renda yang semakin membuat gaun itu terlihat cantik dan anggun. Raika juga membawa tas kecil bertali dengan warna senada.
“Pake ini!” Raika meletakkan gaun itu ke tangan Kiya.
Kiya mau tak mau harus mengambilnya dan segera menuju kamar mandi. Mata Raika menatap takjub saat Kiya telah keluar dengan penampilan yang berbeda dari hari-hari biasanya. Kiya terlihat cocok menggunakan gaun di bawah lutut itu. Dia terlihat angun dan girly. Sementara Kiya sebenarnya sedikit merasa risi. Dia jarang menggunakan gaun seperti ini, kecuali bila acara penting. Itupun karena dipaksa Rasti atau Raika.
“Sekarang kamu duduk di kasur, biar Mbak make up kamu,” suruh Raika dengan menarik tangan Kiya dan menuntunnya untuk duduk di atas tempat tidurnya.
“Nggak usah Mbak. Pake bedak dan lipgloss aja,” Kiya mencoba menolak. Terlalu berlebihan menurutnya kalau dia harus menggunakan make up.
Namun Raika nggak mengindahkan. Dia tetap pergi ke kamarnya, mengambil kotak peralatan make up-nya sebelum kembali ke kamar Kiya. Dia dengan antusias memoles Kiya, mulai dari wajah hingga tatanan rambutnya.
Tepat pukul tujuh lewat lima, Kiya keluar dari kamarnya diikuti Raika. Kiya berjalan tergesa-gesa menuju teras, takut Prisma sudah menunggunya di sana. Tapi langkahnya spontan berhenti ketika tiba di ruang tamu. Kini Prisma sedang berdiri dengan binar mata yang menatap takjub. Rasti dan Bimo yang melihat reaksi remaja di depannya menyungging senyum kecil.
“Gimana Pris? Adek Mbak cantik, kan?” tanya Raika meminta pendapat.
“Iya Mbak. Cantik,” jawab Prisma dengan malu-malu dan manik mata yang tidak lepas memandang Kiya.
“Sebaiknya kalian pergi sekarang. Takutnya nanti kalian kemalaman,” saran Rasti.
Prisma segera melihat jam di pergelangan tangan. “Pergi sekarang?” tanyanya.
“Sebaiknya iya Kak,” jawab Kiya sambil mendekati Rasti dan Bimo.
“Saya izin bawa Kiya, ya Om, Tan. Sebelum jam sepuluh, saya janji Kiya udah pulang,” izin Prisma.
“Iya. Hati-hati di jalan,” sahut Rasti.
“Salam untuk orang tuamu,” timpal Bimo.
Kepala Prisma mengangguk kecil. Kemudian dia menyalami Rasti dan Bimo bergantian. Kiya juga menyalami kedua orang tuanya sebelum menyusul Prisma yang sedang menunggu di depan pintu. Mereka masuk ke mobil dalam suasana kikuk. Prisma sekali-kali menatap kagum Kiya yang terus memandang ke jalanan di depannya. Malam ini Kiya terlihat sangat berbeda. Kiya terlihat lebih cantik dari hari-hari biasanya. Dia terlihat sangat cocok menggunakan gaun berwarna soft pink itu.
Perjalanan ini terasa sangat cepat. Kiya sampai nggak sadar kalau mobil yang dinaikinya sudah melewati gerbang perumahan Balle Hinggil. Tahu-tahunya mobil ini sudah berhenti di rumah bertingkat dua bernomor 8 E. Kini detak jantung Kiya kian lebih cepat dan lebih kencang. Beberapa butir keringat sedikit menumpuk di kening. Dia benar-benar sangat gugup, takut orang tua Prisma tak menyukainya.
“Yuk turun!” ajak Prisma seraya membuka save belt.
Prisma mengusap-ngusap kepala Kiya. “Yuk kita keluar! Papa pasti udah nunggu.”
“Aku—”
“Papa orangnya nggak galak kok. Kamu nggak usah takut.”
Kiya terpaksa menganggukkan kepala. Setelahnya dia membuka pintu mobil. Prisma memegang tangan Kiya dan mengajaknya menuju pintu rumah. Ketika mereka tiba di teras, pintu itu tiba-tiba terbuka, menampakkan seorang wanita berhijab yang sedang memamerkan senyum ramah.
“Akhirnya kalian datang juga,” seru wanita itu riang. “Ini yang namanya Kiya?” tambahnya sambil memindai Kiya dari ujung kaki ke ujung kepala.
Kiya sebenarnya merasa sedikit risi dengan tatapan wanita berhijab biru itu. Tapi dia tetap menyodorkan tangannya, bentuk dari penghormatan untuk orang yang lebih tua. “Malam Tante. Saya Kiya.”
“Nama Tante, Kamila. Tapi panggil aja Tante Mila,” sahut Mila dengan menyambut hangat uluran Kiya. Lalu tiba-tiba wanita itu memeluk Kiya. “Aduh, kamu cantik bangeeet. Pantas aja anak Tante sangat tergila-gila denganmu.”
Kiya tak menanggapi. Bingung juga harus berkomentar seperti apa. Lagian dari sudut pandangannya, apa yang diucapkan wanita itu jelas tidak benar. Prisma nggak mungkin menyukainya. Mereka jarang berinteraksi langsung selama setahun belakangan ini, kecuali saat insiden surat itu dan awal mulanya insiden video skandal Papanya hingga sekarang.
“Papa udah pulang, Tan?” tanya Prisma.
“Sudah. Sekitar sepuluh menit setelah kamu pergi, Papamu datang. Sekarang dia ada di ruang makan,” jawab Mila sambil menuntun Kiya untuk masuk ke rumah. “Yuk kita ngobrol-ngobrol di dalam!” ajaknya.
“Iya, Tan,” sahut Kiya sambil mengekori langkah Mila. Sebenarnya Kiya sangat penasaran dengan status Tante Mila. Dikiranya wanita itu adalah Mama Prisma. Tapi melihat panggilan Prisma dan sikap membatasi seolah ada tembok besar yang ditunjukkan Prisma, Kiya mulai ragu. Apa mungkin orang tua kandung Prisma sudah berpisah dan Tante Mila adalah Mama Tirinya?
Saat mereka memasuki ruang makan, Kiya cukup terpukau dengan laki-laki dewasa yang duduk di meja paling ujung. Laki-laki itu terlihat sangat mirip dengan Prisma, dengan alis tebal dan mata tajam yang menjadi ciri khasnya, bak Kiya sedang melihat versi dewasa Prisma di masa depan.
“Kalian sudah datang,” sambut Adrian—nama Papa Prisma.
“Malam Om. Saya Kiya. Maaf, saya telat datangnya,” kata Kiya seraya mengulurkan tangannya, ingin bersalaman.
“Nggak papa kok, Nak Kiya. Sekarang kan malam minggu, pasti jalanan macet,” balas Adrian dengan menyambut hangat uluran tangan itu.
“Pris, ajak Kiya duduk. Bunda mau panggil adik-adikmu dulu,” suruh Mila sebelum meninggalkan ruang makan tersebut.
Prisma segera menarik kursi terdekatnya, terpisah satu kursi dengan Adrian. Kemudian dengan isyarat matanya, dia menyuruh Kiya untuk duduk. Tepat saat Prisma duduk di kursinya—di tengah-tengah kursi Kiya dan Adrian—suara cadel khas anak-anak memaksa ketiga sosok itu menoleh ke sumber suara. Sekali lagi Kiya kembali terpukau. Kedua gadis itu terlihat seperti Prisma versi cewek. Mereka benar-benar sangat cantik.
“Kita makan dulu ya, baru ngobrol-ngobrol?!” ucap Mila yang mulai menyendokkan mangkuk nasi dan meletakkannya ke dalam piring.
BERSAMBUNG...
TERIMA KASIH SUDAH SETIA UNTUK MENANTI.