Princess Fiona And The Sorcerer

Princess Fiona And The Sorcerer
BAB 9 - Suami Istri



Fiona terkesiap mendengar permintaan Ditrian. Apa pria itu gila?


Tapi Fiona yang percaya diri menyanggupi permintaan Ditrian itu.


"Aku tidak sabar menunggunya." Ditrian mengecup telapak tangan Fiona kemudian menghilang.


"Ck! Dasar penyihir gila!" decak Fiona karena Ditrian selalu datang dan pergi dengan semaunya.


Hari terus berlalu sampai acara pernikahan Fiona dan Ditrian pun tiba. Acara pernikahan diadakan di kediaman keluarga Marquez.


"Kau sangat cantik, Fiona!" seru Juvel yang baru saja datang.


Juvel tidak datang sendiri melainkan dengan Irene juga. Irene memandangi penampilan Fiona, gadis itu meremas gaunnya jika mengingat pengakuan Jullian.


"Benarkan, Irene?"


Irene berusaha tersenyum. "Iya, Fiona semakin cantik!"


"Kau juga harus cepat menikah dengan Jullian, Irene. Kau pasti akan tumbuh jadi wanita dewasa jika sudah menikah," ucap Juvel sambil menggoda Irene. "Cepat baikan dengan Jullian!"


"Irene dan Jullian bertengkar?" tanya Fiona yang jadi tertarik.


"Kenapa? Apa kau senang jika kami bertengkar?" tanya Irene balik. Irene memberanikan dirinya, dia tidak mau dipandang sebelah mata oleh Fiona.


"Aku kan hanya bertanya." Fiona tersenyum tanpa rasa bersalah.


"Kau tidak menikah dengan kekasihmu yang namanya juga Jullian?" tanya Irene begitu menohok.


Juvel yang tahu suasana jadi tidak kondusif mencoba mencairkan suasana.


"Ah, tiba-tiba aku ingin minum. Ayo kita keluar, Irene!" ajak Juvel dengan menggandeng tangan Irene untuk pergi di tempat acara.


Di sana ada Jullian yang sudah beberapa hari tidak bertemu dengan Irene. Saat melihat Irene, Jullian mendekati gadis yang membuatnya tidak bisa tidur itu.


"Irene..." panggil Jullian, dia tahu jika Irene masih sangat marah padanya tapi setidaknya hari ini, mereka harus kelihatan baik-baik saja.


Irene sebenarnya sangat malas berbicara pada Jullian tapi dia juga berpikiran sama, mereka harus kelihatan mesra supaya Fiona melihat itu.


"Mana tanganmu?" tanya Irene.


Jullian mengulurkan satu tangannya yang disambut oleh Irene.


"Ingat Jullian, aku masih marah padamu!" ketus Irene memasang wajah cemberut.


"Pfft! Kau kelihatan sangat imut, Irene," ucap Jullian yang justru gemas sendiri melihat wajah gadis polos itu.


...*****...


Taburan bunga mengiringi saat pengantin wanita diantar menuju pengantin pria. Ditrian siap menyambut Fiona dengan gagah.


"Aku titip putriku padamu, Prince Ditrian. Aku harap kau bisa menjaga dan membimbing Fiona," ucap Erik saat melepas putri tercinta.


"Aku akan melakukan yang terbaik untuk Fiona Esperland," sahut Ditrian yang menyematkan nama belakangnya pada Fiona.


Fiona menerima uluran tangan Ditrian, dia melakukannya setengah hati tapi saat Fiona mengucapkan janji sucinya, gadis itu terlihat begitu fasih. Hal itu membuat Ditrian tersenyum dalam hatinya.


Dan saat upacara pernikahan selesai, waktunya pasangan suami istri itu untuk berciuman.


Ditrian melakukannya begitu lembut yang membuat Fiona memejamkan matanya. Fiona masih membayangkan jika yang menciumnya adalah Jullian.


"Fiona..." panggil Ditrian saat dia sudah melepas ciumannya.


Fiona membuka mata dan mendapati kenyataan jika yang menciumnya bukan Jullian. Saat dia menelisik kursi para tamu undangan, Fiona mendapati jika Jullian dan Irene yang tampak mesra.


"Sekarang, lihatlah aku, Fiona! Aku suamimu!" Ditrian meraih dagu Fiona supaya memandang dirinya.


Fiona melihat wajah Ditrian begitu lekat. "Ya, kau suamiku sekarang tapi aku tidak mencintaimu!"


"Itulah yang aku suka darimu, Fiona. Kau selalu jujur walaupun itu menyakitkan!" sahut Ditrian.