
Ditrian langsung memeluk istrinya walaupun Fiona memikirkan lelaki lain, dia akan bersabar sampai Fiona melupakan Jullian.
"Apa kau ingin berbulan madu dan berlibur?" tanya Ditrian untuk menghibur istrinya.
"Kau kan sibuk mengurus akademi, bagaimana mungkin kita akan pergi?"
"Masih ada papa, Lily dan Lila juga bisa mengurus semua itu, aku seorang Sorcerer jadi walaupun ada bahaya pun, aku bisa kembali dengan cepat,"
"Aku kadang lupa kalau kau bisa berteleportasi,"
Keduanya pun tertawa dan interaksi mereka dilihat oleh penduduk yang mereka kunjungi.
Salah satu wanita paruh baya mendekati Fiona yang membuat Ditrian melepas pelukannya.
"Semoga selalu diberkati, Nyonya," ucap wanita paruh baya itu memberikan sebuah gelang pada Fiona.
Fiona jadi teringat kata-kata para peri, dia jadi takut dan memeluk Ditrian lagi.
"Mereka juga melihat bayangan kematian?" tanyanya.
"Tidak, itu hanya gelang jimat. Kau tahu seorang penyihir hanya mencintai satu orang seumur hidup mereka jadi itu semacam bentuk kasih sayang," jelas Ditrian.
Fiona jadi memandangi Ditrian, dia baru tahu hal seperti itu. Pantas saja Ditrian banyak berkorban untuk dirinya.
"Bolehkah saya memakaikannya, Nyonya?" tanya wanita paruh baya itu lagi.
"I--iya, silahkan!" Fiona akhirnya mengulurkan satu tangannya.
Setelah gelang itu terpasang, Fiona menatap gelang itu sejenak kemudian berterima kasih pada pemberi gelang.
"Kau mau makan di luar malam ini?" tanya Ditrian.
"Boleh,"
"Ada restaurant di pinggir pantai, aku akan membawamu ke sana,"
Ditrian yang Mana-nya sudah terisi penuh membawa Fiona ke tempat favoritnya.
"Akh!" teriak Fiona saat Ditrian menggunakan sihir teleportasinya. Fiona mulai terbiasa tapi masih saja kaget kalau mereka berpindah tempat dalam waktu yang cepat.
Tempat yang mereka kunjungi benar-benar di pinggir pantai di mana ada pondok-pondok kecil yang dihias di sana.
"Apa Jullian tidak pernah mengajakmu?" tanya Ditrian.
"Mafia tidak seromantis itu,"
"Berarti kau mengakui kalau aku lebih unggul,"
Mereka berdua menghabiskan waktu bersama, setelah makan Fiona dan Ditrian berjalan di tepi pantai.
"Jadi keluargamu mempunyai sekolah sihir?" tanya Fiona yang mulai tertarik dengan kehidupan Ditrian.
"Hm, kami membentuk itu supaya keturunan penyihir tidak punah, kita harus selalu waspada pada The Witch!"
"The Witch?"
"Penyihir wanita yang jahat, kalau kau sering membaca dongeng kau pasti tahu yang namanya nenek sihir,"
"Oh God! Ternyata hal seperti itu benar adanya,"
"Mereka dulu adalah penyihir baik tapi mereka mempelajari sihir hitam yang membuat mereka menjadi jahat, mereka ingin menguasai tanah Esperland untuk itu kita harus menjaganya,"
Ditrian menjelaskan sambil membuat cahaya dari tangannya. "Aku akan melindungimu Fiona jadi jangan khawatir!"
"Pasti mereka mempunyai kelemahan, 'kan? Bagaimana kalau mereka mengincarku? Aku kan istrimu, penyihir agung!" Fiona jadi cemas sendiri.
Ditrian tersenyum miring, biasanya Fiona akan membahas perceraian mereka tapi sekarang sepertinya Fiona mulai menerima garis hidupnya.
"Pakailah ini," ucap Ditrian sambil memberikan Fiona sebuah kalung dengan peluit sebagai liontinnya. "Saat dalam bahaya, kau harus meniup peluitnya!"
"Aku mempunyai gelang jimat dan juga peluit ini, aku pasti aman. Aku pasti tidak akan menjadi katak, 'kan!"
Tapi sedetik kemudian, Fiona merasakan ada sesuatu yang berjalan di kakinya.
"Aaaa... Katak!" Fiona melompatkan diri pada suaminya. "Kau sengaja ya!?"
Fiona tahu pasti itu ulah Ditrian, bukannya merasa bersalah Ditrian justru tertawa terbahak-bahak.
"Ayo kita pulang, Ratu Katak!"