Princess Fiona And The Sorcerer

Princess Fiona And The Sorcerer
BAB 29 - Don't Go...



"Kalau kau mati, aku juga mati," ucap Ditrian sambil berdiri dan membalas ciuman Fiona.


Mereka berciuman dan saling melepas sejenak untuk menghirup oksigen kemudian berciuman lagi.


"Bayangan kematian itu tidak mau pergi, aku harus bagaimana?" tanya Fiona.


"Kita hadapi semuanya bersama, kau percaya padaku, 'kan?" tanya Ditrian balik.


"Aku mempercayaimu!" sahut Fiona tanpa ragu.


Hubungan Fiona dan Ditrian semakin menghangat, mereka setiap menghabiskan waktu berdua. Fiona akan mengurus rumah tangga saat ditinggal Ditrian dan dia melakukan perubahan-perubahan yang menurutnya tidak cocok.


"Semua perabotan harus diganti, aku sudah membuat daftar dan anggarannya," ucap Fiona memberikan daftarnya pada Marcus.


Kemudian Fiona mengajak Lily dan Lila untuk menemui para penenun.


"Hasil tenun ini bisa kita pasarkan lebih luas lagi, kita harus membuat hasil tenun Esperland dikenal dunia," ucapnya.


"Apakah bisa? Kami sudah mencoba di akun media kami tapi tidak terlalu banyak yang tertarik, menurut mereka terlalu kuno!" sahut Lily.


"Ck! Followers kalian berapa? Dan aku sudah membuat desain yang tidak terlihat kuno!" decak Fiona dengan memperlihatkan hasil rancangannya.


"Bangsawan utara dianggap ketinggalan zaman jadi kami tidak terlalu percaya diri!" ungkap Lila.


Fiona memutar bola matanya malas, dia akhirnya meminta kedua adik iparnya itu untuk ke masuk ke kamarnya. Fiona membuka laptopnya dan membuka akun sosial media yang dia punya.


"Kalian beruntung mempunyai kakak ipar sepertiku, aku banyak fans di dunia maya dan jumlah followersku jutaan," ucap Fiona menyombongkan diri. "Sekarang kita harus berdandan dulu memakai kain tenun dan melakukan live streaming!"


Lily dan Lila tentu saja sangat setuju, dengan begitu jumlah followers mereka akan bertambah.


Mereka bertiga melakukan live streaming dan berusaha meyakinkan followers untuk membeli kain tenun mereka.


Lily dan Lila saling pandang kemudian memeluk Fiona. "Jangan pergi!" ucap mereka kompak.


Mendengar itu, Fiona jadi mengingat undangan pernikahan Jullian dan Irene. Dia menghela nafasnya berat sekali.


"Kalau aku tidak ada, kalian harus menjaga nama baik Esperland, okay." Fiona meminta itu pada kedua adik iparnya.


...*****...


Disisi lain, Elena dan para The Witch lain yang percaya dengan Elena sudah merencakan sesuatu untuk menculik Fiona lagi.


"Aku harap perkataanmu benar adanya," ucap salah satu rekannya.


"Aku tidak berbohong, gadis itu berdiri diantara hidup dan mati. Putra mahkota sudah memakai sihir terlarang untuk memutar waktu," jelas Elena lagi.


Saat hari pernikahan Jullian dan Irene, mereka akan melancarkan aksi mereka. Mereka berencana untuk menyerang Ditrian di sana.


Tapi rupanya Ditrian sudah mempersiapkan untuk menangkal hal itu terjadi. Ditrian mengumpulkan para muridnya untuk membentuk perlindungan pada Fiona.


"Kalian semua harus melindungi istriku!" perintahnya.


Ditrian berharap garis kematian itu sudah berhenti supaya semua usahanya selama ini tidak sia-sia. Ditrian mencoba berbicara pada bangsa peri di pohon oak untuk menanyakan hal itu dan jawaban mereka masih sama, bayangan kematian itu masih mengikuti Fiona.


"Apa Fiona masih tidak bisa melupakan Jullian?" gumam Ditrian sambil mengacak rambutnya.


Akhirnya Ditrian memutuskan untuk melihat istrinya di kamar. Pada saat itu, Fiona kurang enak badan jadi wajahnya memucat.


"Tidak, tidak, tidak!" Ditrian meraup wajah Fiona.