
Para penjaga membawa barang-barang Fiona dan saat Fiona akan memasuki kastil seluruh pelayan berjajar menyambut kedatangannya. Keluarga Esperland yang lain juga menyambut anggota baru keluarga mereka.
"Setidaknya jangan tunjukkan ketidaksukaanmu di depan keluargaku atau kau akan disihir jadi katak," bisik Ditrian pada Fiona yang membuat gadis itu takut.
Fiona merangkul lengan Ditrian saat berjalan memasuki kastil.
"Selamat datang, Fiona," sambut Anne, ibu dari Ditrian.
Fiona melihat keluarga Ditrian hanya sekilas saja saat acara pernikahan kemarin. Fiona tidak mau mendekatkan diri pada mereka.
Para saudara Ditrian menatap sinis pada Fiona tapi mereka ikut menyambut kedatangan putri bangsawan itu.
"Semoga kau akan mendampingi Ditrian sampai akhir hayatmu," ucap Gustav, ayah dari Ditrian.
Tatapan Gustav begitu dingin yang membuat Fiona takut.
"I--iya, Papa mertua," sahut Fiona hormat.
"Aku akan membawa Fiona ke kamar kami, kita bertemu saat makan malam tiba," pamit Ditrian menggandeng tangan Fiona untuk pergi ke kastil penyihir miliknya.
Ditrian memakai sihir teleportasinya seperti biasa.
"Keluargamu sepertinya tidak menyukaiku," komentar Fiona saat dia sudah berdua dengan suaminya.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Ditrian.
"Dari tatapan mereka sudah terlihat, apa benar mereka memang melamarku dan ingin aku jadi menantu di keluarga Esperland?" tanya Fiona jadi curiga.
"Jangan terlalu banyak berpikir, Fiona. Pikirkan yang baik-baik saja," sahut Ditrian sambil menggandeng tangan Fiona menuju balkon kastil untuk melihat semua wilayah Esperland dari atas.
Fiona melihat itu semua, tampak luas dan hijau. Seperti menyatu dengan alam.
"Aku akan mengajakmu berkeliling nanti, kau harus tahu semua tempat di kastil ini," ucap Ditrian yang kini memeluk Fiona dari belakang. "Kami mungkin tidak sekaya wilayahmu karena penghasil tambang karena kami semua di sini hidup dengan sederhana!"
"Bukankah kalian penyihir? Seharusnya hidup kalian lebih keren, bukan?" tanya Fiona tidak habis pikir.
"Banyak hal yang tidak kau ketahui, Fiona," sahut Ditrian sambil menunjuk pohon-pohon yang ada di sekitar kastil. "Kau tahu di pohon-pohon itu adalah rumah bangsa peri!"
"Bangsa peri?" tanya Fiona semakin penasaran.
"Hm, sebenarnya semua yang ada di sini hanya kedok, kami mempunyai hidup di dunia sihir," jelas Ditrian yang akan menjelaskan semuanya pelan-pelan.
"Aku tidak mengerti." Fiona berusaha menjauhi Ditrian, dia merasa tidak perlu tahu semuanya karena dia hanya tinggal sementara di kastil itu. Tapi ada yang mengganggu pikirannya. "Apa keluargamu tahu jika ini adalah kehidupan keduaku?"
"Tidak ada yang tahu kecuali kita!" jawab Ditrian sambil memberikan Fiona sebuah kertas.
"Apa ini?" tanya Fiona.
"Password wifi, kami tidak ketinggalan jaman, Fiona," sahut Ditrian sambil berlalu ke kamar mandi.
Fiona menerima kertas itu dengan tersenyum. "Setidaknya aku bisa nonton film sepuasnya, 'kan?"
Tak lama dari dalam kamar mandi, Ditrian memanggilnya.
"Fiona, bisakah kau ambilkan handuk? Handuknya ada di lemari!"
"Baiklah,"
Fiona mencari handuk di lemari dan masuk ke kamar mandi, di dalam sana dia melihat Ditrian yang tidak memakai apapun.
Sebenarnya Fiona kaget tapi dia berusaha baik-baik saja.
"Aku akan menaruh handuknya di atas wastafel," ucap Fiona memalingkan wajahnya. Dia ingin cepat pergi tapi tangannya ditahan oleh Ditrian.
"Kau harus menggosok tubuh suamimu," ucap Ditrian yang tahu kelemahan Fiona. "Atau kau akan berubah jadi katak kalau membantah suami!"