
Hubungan antara Fiona dan Ditrian mulai menghangat, sikap arogan Fiona pelan-pelan mulai terkikis. Fiona tidak hidup mewah dan foya-foya seperti sebelumnya, dia memilih menyibukkan diri untuk membaur dengan penduduk Esperland.
"Bagaimana?" tanya Fiona yang meminta pendapat hasil sulamannya.
"Lumayan, Nyonya," sahut salah satu penenun yang mengajari Fiona.
"Aku ingin mengirim ini pada keluargaku. Aku merindukan mereka." Fiona jadi bersedih. Semenjak dia menikah, keluarganya tidak pernah menghubunginya sama sekali.
"Mereka pasti senang, Nyonya."
"Semoga saja!"
Fiona bergegas kembali ke kastil untuk membungkus hasil sulamannya. Tapi di tengah jalan, dia berpapasan dengan Lily dan Lila.
Well, mereka masih tidak menyukai Fiona begitu juga dengan Fiona yang tidak menyukai kedua adik iparnya itu.
Fiona lebih memilih mengabaikan mereka.
"Ish, coba lihatlah. Dia sangat angkuh!" komentar Lily.
"Iya benar, aku mendengar dari Marcus jika setiap malam kak Ditrian tidur di menara sihir, itu pasti karena Fiona!" tambah Lila.
"Ternyata memang hubungan mereka tidak sedalam itu, kenapa kak Ditrian melindungi Fiona?"
"Pasti ada sesuatu!"
Lily dan Lila masih terus mencari kesalahan Fiona.
...*****...
Di sisi lain, Jullian begitu gelisah karena dia tidak mendapat kabar apapun dari Fiona. Dia ingin memastikan Fiona tidak hamil anaknya karena hubungannya dengan Irene jadi merenggang.
Irene lebih banyak diam dari pada sebelumnya.
"No! No! No!" tolak Juvel saat Jullian meminta bantuan padanya. Pada saat itu usia kandungnya sudah memasuki usia 7 bulan jadi Juvel menjaga kandungannya sebaik mungkin, dia tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan Jullian mengingat tekanan darahnya yang tinggi.
"Aku hanya memintamu untuk menghubungi Fiona dan memastikan dia tidak hamil," ucap Jullian memaksa.
"Iya aku tahu makanya bantu aku,"
"Ck! Kau memang menyebalkan!"
Akhirnya Juvel mencoba menghubungi Fiona, dia bingung cara bertanya perihal kehamilan Fiona dan sepertinya Fiona menyadari itu.
"Apa Jullian yang memintamu menghubungiku?" tanya Fiona kemudian.
"Hah! Sepertinya bukan rahasia lagi, aku harap kau tidak hamil Fiona," desaah Juvel penuh harap.
"Aku ingin mengatakan sendiri keadaanku pada Jullian, aku menunggunya di tempat kami biasa bertemu!" tuntut Fiona yang ingin bertemu Jullian untuk terakhir kalinya.
Juvel melirik ke arah Jullian dan Jullian mengangguk menyetujuinya.
Malam itu, Fiona keluar dari kastil Esperland tanpa memberitahu siapa pun. Dia pergi ke tempat pemandian air panas di mana dia dan Jullian biasa bertemu.
Fiona menunggu Jullian di kamar pribadi mereka.
Dan setelah satu jam menunggu Jullian akhirnya datang juga.
"Jullian!" panggil Fiona dengan mata berkaca-kaca.
"Kau sudah menikah Fiona," ucap Jullian mencoba menjaga jarak dari mantan kekasihnya. "Katakan jika kau benar-benar tidak hamil!"
Fiona menangis terlebih dahulu sebelum mengatakan jika dia memang tidak hamil. Dia harus merelakan Jullian mulai sekarang atau bayangan kematian akan terus mengikutinya.
"Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya? Aku akan menjawabnya di pelukanmu," pinta Fiona.
Jullian mendekat dan langsung memeluk Fiona, dia sebenarnya sangat merasa bersalah pada gadis itu. "Maafkan aku, Fiona!"
"Jullian..." Fiona menangis di pelukan Jullian kemudian dia berkata. "Aku tidak hamil anakmu!"
"Kau bisa katakan itu pada Irene! Kau akan memiliki empat bayi kembar bersama Irene nanti!"