
Fiona gugup karena Ditrian yang bertelanjang dada terus mendekat padanya. Fiona mencoba menutupi tubuhnya memakai selimut tapi Ditrian menariknya begitu saja.
"Kenapa malu begitu?" tanya Ditrian.
"Aku tidak malu hanya saja aku tidak mau melakukannya," sahut Fiona sambil menutupi tubuhnya dengan tangannya.
Tiba-tiba dia merasakan sakit di perutnya yang membuatnya sampai meremas lengan Ditrian.
"Sakit, Ditrian!" keluh Fiona.
Ditrian jadi panik, dia segera memeriksa keadaan istrinya. Ditrian langsung menggunakan mantra sihirnya untuk menghangatkan perut Fiona.
"Aku akan memanggil dokter kemari," ucap Ditrian yang ingin berniat memanggil dokter di kastil Esperland. Dokter di sana menggunakan sihir mereka saat mengobati pasien.
"Tunggu!" Fiona menahan suaminya. Sepertinya dia sudah tahu apa penyebab perutnya sakit.
"Tolong bawa aku ke kamar mandi!" pintanya kemudian.
Ditrian menuruti permintaan istrinya, dia segera menggendong Fiona ke kamar mandi. Di dalam sana Fiona memeriksa dan memastikan sesuatu.
"Hiks... Hiks..." Fiona bersimpuh dan menangis karena dugaannya benar adanya.
"Fiona, apa yang terjadi?" tanya Ditrian begitu cemas. Dia yang menunggu Fiona di luar sampai mendengar tangisan istrinya. "Buka pintunya!"
Ditrian menunggu beberapa menit tapi Fiona tak juga membuka pintu akhirnya dia kehilangan kesabaran. Ditrian memaksa masuk dengan sihir teleportasinya.
"Fiona!" pekiknya saat melihat istrinya bersimbah darah dengan mengguyur dirinya sendiri di bawah pancuran shower.
"Aku datang bulan, Ditrian. Aku tidak hamil anak Jullian," ucap Fiona dengan isak tangisnya.
Ditrian terkesiap mendengar itu tapi buru-buru dia membantu Fiona membersihkan dirinya. Sudah tengah malam, Ditrian takut Fiona akan jatuh sakit.
Beruntung ada tampon yang dibawa Fiona jadi gadis itu segera memakainya.
Fiona hanya diam tapi dia menerima batu pemberian Ditrian, dia melakukan sesuai arahan Ditrian dan benar saja perutnya menghangat.
"Terima kasih, Ditrian," ucap Fiona tulus. Padahal Fiona sering kali menyakiti suaminya tapi Ditrian masih bersikap baik padanya.
"Itu adalah tugas suami jadi jangan bilang terima kasih," sahut Ditrian dengan mengecup kening Fiona. Dia ingin pergi ke menara sihir karena takut mengganggu waktu istirahat istrinya.
Tapi saat Ditrian akan pergi, Fiona menahannya sejenak.
"Mau kemana?" tanya Fiona.
"Aku akan ke menara sihir dan tidur di sana jadi kau bisa tenang ada di sini," jawab Ditrian.
"Apa kata orang tuamu dan saudara-saudaramu nanti, tidurlah bersamaku!" pinta Fiona sambil menepuk sisi ranjang yang kosong.
Ditrian mendekat dan membaringkan dirinya, dia melirik Fiona yang memiringkan tubuhnya.
"Apa masih sakit?" tanya Ditrian memastikan.
"Sudah tidak sakit lagi, aku sering mengalami sakit seperti ini jadi aku bisa menahannya," jawab Fiona sambil memejamkan matanya.
Sirna sudah harapan Fiona, ternyata dia tidak hamil. Padahal satu bulan ini dia sudah menantikan janin yang akan tumbuh di rahimnya.
"Kau harus memberitahu Jullian jika kau tidak hamil jadi hubungannya dengan Irene akan membaik," ucap Ditrian memberi saran.
Fiona bimbang antara jujur atau berbohong pada Jullian.
"Kau tahu Fiona seandainya kau hamil anak Jullian, aku bersedia bertanggung jawab!" tambah Ditrian bersungguh-sungguh.
...*****...
Yang masih setia sama cerita ini. Maaf lama banget up nya. Mulai up rutin hari ini ya. 😘