
Ditrian bersikap begitu sabar pada Fiona tapi sikap itu rupanya tidak membuat hati Fiona tergugah, gadis itu masih keras kepala. Dari kecil semua permintaan Fiona selalu dituruti oleh Erik jadi kebiasaan itu mendarah daging saat dewasa.
"Jadi, kau tetap mau menikahiku walaupun kau tahu aku sudah tidak suci lagi?" tanya Fiona to the point.
Ditrian mengangguk. "Aku tidak mempermasalahkan hal seperti itu!"
"Baiklah, kita menikah tapi jika memang aku hamil anak Jullian, kita akan langsung berpisah!" ucap Fiona berharap Ditrian benar-benar memikirkan ulang keputusannya.
"Hm, aku setuju," balas Ditrian yang sangat yakin jika Fiona tidak akan hamil.
"Baiklah, aku ingin pulang! Aku akan bicara pada daddy ku jika lamaran Prince Ditrian, aku terima," ucap Fiona, dia berdiri dan memeluk perut Ditrian. "Gunakan sihirmu lagi!"
Ditrian terkekeh mendengarnya. "Itu namanya sihir teleportasi, sihir untuk berpindah tempat secara cepat!"
"Jadi, penyihir sepertimu tidak butuh kendaraan?" tanya Fiona jadi penasaran.
"Kami tidak menggunakan sihir dengan seenaknya, kami masih membutuhkan kendaraan kadang-kadang," jelas Ditrian sambil memeluk perut Fiona juga. "Bersiap-siaplah!"
Dalam sekejap Ditrian dan Fiona sudah berpindah tempat di depan gerbang mansion keluarga Marquez.
"Ternyata teleportasi membuatku mual," keluh Fiona yang tidak terbiasa.
"Kalau kau sudah biasa pasti tidak akan mual, beristirahatlah, Fiona," balas Ditrian dengan mengecup kening Fiona sebelum pergi. "Aku pulang dan sampai bertemu kembali!"
Fiona menggelengkan kepala, dia tidak percaya akan bersinggungan dengan penyihir. Gadis itu kemudian masuk ke dalam mansion, Fiona langsung mencari Erik di ruang kerja sang daddy.
"Dad..." panggil Fiona yang langsung membuka pintu.
"Kau sudah pulang?" tanya Erik saat melihat putrinya masuk.
"Baiklah, aku menerima lamaran Ditrian!" ucap Fiona tanpa basa-basi.
Erik bertepuk tangan. "Daddy tahu, kau pasti tidak bisa menolak pesona Ditrian!"
...*****...
Irene akhirnya juga kembali ke apartemen, dia yang masih marah pada Jullian, tidak mau memasak. Jullian dengan terpaksa memesan makanan.
"Irene, ayo makan dulu!" Jullian mencoba membangunkan Irene yang tertidur, lelaki itu mengguncang pelan bahu Irene.
Irene membuka matanya perlahan saat melihat Jullian, dia membalik tubuhnya.
"Ayo makan, aku sudah memesan banyak makanan!" ajak Jullian lagi.
"Aku tidak lapar dan tidak mau makan!" tolak Irene.
"Jangan marah-marah terus Irene, nanti kau cepat tua!" Jullian mulai menakut-nakuti.
"Apa hubungannya? Aku tidak percaya, jangan terus membohongiku!" Irene masih kukuh dan mencoba menjadi gadis cerdas.
Jullian jadi ikut berbaring dan memeluk Irene dari belakang.
"Bukannya aku tidak mau menyentuhmu tapi aku memikirkan masa depan kita jadi kita harus menunda dulu memiliki anak," jelas Jullian.
"Kau tidak akan membuangku, 'kan?" tanya Irene yang takut Jullian akan membuangnya lagi.
"Tentu saja tidak, kau adalah gadis yang berharga bagiku!" Jullian semakin mengeratkan pelukannya. Dia sangat merasa bersalah pada Irene, dia takut kehilangan gadis itu jadi dia akan membuat pengakuan. "Irene..."
"Aku tidur dengan Fiona!"
Irene mengerutkan keningnya. "Tidur bersama? Kapan kalian bertemu?"
"Tidur yang aku maksud adalah...." Jullian mengatur nafasnya. "Seperti yang biasa kita lakukan!"
Irene meremas seprai karena mulai mengerti arah pembicaraan mereka. "Jadi itu alasanmu tidak mau menyentuhku lagi?"