
Pada akhirnya Fiona bersiap untuk menemui mertuanya, dia akan belajar mengurus rumah tangga.
"Kau mulai saja dari menertibkan para pelayan, walaupun ada Marcus, kau harus menertibkan para pelayan sendiri," jelas Anne.
"Iya, aku mengerti," sahut Fiona paham.
"Kau juga harus belajar membaur dengan penduduk, Ditrian akan membawamu berkeliling," tambah Anne.
"Dan Fiona..." Anne menggenggam tangan menantunya. "Kau sedang menstruasi? Selanjutnya pasti adalah masa suburmu, kau harus memiliki keturunan. Saat kau mempunyai pewaris pasti kau akan lebih dihargai sebagai nyonya di Esperland!"
Fiona terkesiap rupanya mertuanya tidak seburuk yang dia kira, mungkin karena bangsawan utara terlalu menutup diri jadi membuat mereka seperti para bangsawan yang anti sosial.
"Terima kasih, Mama." Fiona berkata dengan tulus.
Pada saat itu, Ditrian sudah kembali dari akademi dan sesuai janjinya dia akan membawa Fiona berkeliling dengan berkuda.
"Kuda di sini cukup galak jadi kita memakai satu kuda saja, aku akan mencarikan kuda yang cocok buatmu nanti," ucap Ditrian sambil menaikkan tubuh Fiona ke atas kudanya.
Kemudian Ditrian naik dan duduk di belakang Fiona.
"Kita akan berkeliling wilayah Esperland, kau harus melihat para pengrajin tenun dan juga pembuat lilin," jelas Ditrian.
"Baiklah," jawab Fiona yang sedikit tertarik.
Ditrian memperkenalkan satu persatu pada istrinya dan kehadiran Fiona disambut cukup baik.
"Ah, calon nyonya kita sangat cantik," komentar mereka yang melihat Fiona.
Bahkan ada yang memberi Fiona kain tenun hasil buatan mereka.
"Ya, terima kasih."
Fiona cukup senang karena sambutan yang cukup baik. Walaupun kehidupannya berbanding balik saat berada di keluarga Marquez, Fiona merasa tidak masalah. Ternyata kastil Esperland tidak seburuk yang dia kira. Mungkin Fiona akan melakukan banyak perubahan ke depannya.
"Ditrian, sebenarnya produk buatan di sini cukup bagus, aku bisa memperkenalkannya di pasar dunia, dengan begitu bangsawan utara bisa dikenal akan itu," ucap Fiona pada suaminya.
Ditrian tersenyum tipis. "Rupanya kau mulai tertarik!"
"Yah, dari pada aku tidak punya pekerjaan dan mengurung diri di kamar," sahut Fiona.
"Menjadi istriku bukan berarti kau akan terkekang Fiona. Kau masih bisa melanjutkan apapun yang kau mau seperti saat kau menjadi putri Marquez, aku tidak akan membatasimu," ucap Ditrian bersungguh-sungguh.
Fiona terkekeh mendengarnya. "Kau bisa bangkrut kalau menuruti gaya hidupku, Tuan Penyihir. Aku bisa menghabiskan uang cukup banyak, aku selama ini hidup dengan kemewahan dan selalu berfoya-foya. Mungkin itu salah satu alasan, kenapa daddy ingin aku cepat menikah!"
"Aku sering pergi ke kota dan tidak pulang! Apa kau mau, aku seperti itu?"
Ditrian menggenggam tangan Fiona, dia tahu istrinya tidak seburuk itu.
"Apa kau terbebani dengan statusmu?" tanya Ditrian kemudian.
"Hm, menjadi putri bangsawan dengan banyak aturan, aku tidak bisa melakukan itu. Aku ingin bebas seperti kehidupan Jullian, untuk itu aku dekat dengan sepupuku sendiri. Aku banyak belajar hidup bebas dengan Jullian," jelas Fiona yang jadi mengingat kenangannya bersama Jullian.
"Aku merindukannya," lirih Fiona sambil mengusap air matanya yang jatuh. "Aku sudah memberikan semuanya pada Jullian, hati dan tubuhku! Tapi kenapa dia memilih Irene?"
Fiona merasa sakit hati, ternyata tidak mudah melupakan itu semua.