
Fiona tidak tahu harus kemana, dia yang tanpa tujuan membuat supir taksi merasa jengah karena terus berkeliling kota beberapa kali.
"Sebenarnya tujuan Nona itu ke mana?" tanyanya.
Fiona menghela nafasnya, sebenarnya dia juga tidak mempunyai uang. Akhirnya Fiona membuka anting yang dia pakai kemudian dia berikan pada supir taksi itu.
"Saya rasa ini lebih dari cukup," ucap Fiona.
Ada sebuah danau yang sering Fiona kunjungi saat kecil, di sanalah dia berada sekarang. Fiona duduk termenung sampai ada seorang wanita yang mendekat padanya.
Wanita itu tampak seumuran dengan Fiona, dia duduk di samping Fiona dan mengajak berkenalan.
"Namaku Elena," ucapnya.
Fiona melirik sebentar, dia tidak tertarik sama sekali. Padahal dia ingin sendiri tapi ada saja pengganggu.
"Aku Fiona," jawabnya malas.
"Auramu sangat berbeda Fiona, kau berjalan antara hidup dan mati," komentar Elena yang membuat Fiona terhenyak.
"Apa Elena juga seorang penyihir atau peri?" batin Fiona tapi dia mencoba setenang mungkin.
"Kita baru saja bertemu jadi tidak sopan berbicara seperti itu, lebih baik kau pergi dari sini karena aku yang duduk di sini duluan," ucap Fiona mencoba mengusir.
Elena justru tertawa mendengarnya, dia kemudian berdiri sambil membuat percikan cahaya dari tangannya.
"Aku bisa membawamu ke dunia di mana kau bisa merubah takdirmu, mungkin kau bisa bersama orang yang kau cintai," ucap Elena.
Dari situ Fiona sadar jika Elena pasti juga seorang penyihir.
"Bagaimana?" tanya Elena berusaha membujuk.
Tapi Elena tidak membiarkan Fiona pergi, dia justru menarik Fiona dan langsung membentuk portal dan membawa Fiona masuk ke portal itu.
"Aaaaa...." Fiona berteriak karena baru pertama kali masuk ke portal seperti itu. Ternyata Elena membawanya ke dunia sihir.
"Kenapa kau membawaku ke sini!" teriak Fiona ketakutan.
Elena membawa Fiona ke rumahnya yang di tengah hutan. Fiona jadi mengingat buku dongeng yang pernah dia baca dan mengingat cerita Ditrian tentang The Witch.
"Apa aku sedang diculik oleh nenek sihir?" batin Fiona menjerit.
Saat masuk ke rumah Elena, penyihir wanita itu meminta Fiona untuk melihat bola kristal miliknya. Elena membaca mantra dan memperlihatkan Fiona gambaran kehidupan bahagianya jika bersama Jullian..
"Apa kau ingin seperti itu?" tanya Elena.
Fiona terbuai sejenak, dia memandangi gambaran dirinya dan Jullian. Di sana dia tampak bahagia dengan lelaki itu bahkan mereka memiliki anak-anak yang lucu.
Itu adalah tipu muslihat yang diperlihatkan Elena. Jika Fiona tetap menolak garis hidupnya maka Fiona akan mati dan Ditrian juga akan mati karena Ditrian yang membuat Fiona menjalani kehidupan keduanya.
Maka jika sudah begitu Esperland tidak akan ada lagi penyihir agung seperti Ditrian. Elena akan mudah merebut wilayah dan juga kekuasaan yang dimiliki para penyihir suci.
"Bagaimana Fiona? Aku bisa membawamu ke sana?" Elena terus membujuk Fiona.
Fiona memundurkan badannya dan menggeleng. "Itu bukan takdirku! Aku tidak mau menyakiti Irene!"
"Kau sangat naif Fiona, aku tahu kau menginginkan kebahagiaan, kau sudah dibuang dan kau tidak punya harga diri lagi sebagai menantu di Esperland," ucap Elena penuh tipu daya.
Fiona tetap kukuh dengan pendiriannya. Dia tidak mau melawan takdirnya lagi. Dia masih ingin hidup.
"Aku tidak mau!" Fiona meraih kalungnya dan mencoba meniup peluit untuk memanggil Ditrian.