
Fiona memandangi wajah Ditrian saat bangun tidur, dia mengingat kata-kata suaminya itu dan dia mulai merasakan ketulusan Ditrian.
"Apa keturunan penyihir memang sebodoh dirimu?" gumam Fiona.
Sebagai balasan hari ini Fiona ingin menyiapkan sarapan untuk Ditrian.
Fiona sengaja bangun pagi-pagi kemudian dia mencari kepala pelayan yang bernama Marcus. Dia meminta bantuan pada Marcus untuk menyiapkan bahan-bahan yang dia butuhkan.
"Kau pernah menonton kartun Doraemon? Aku ingin membuat dorayaki untuk sarapan suamiku," ucap Fiona.
"Dorayaki?" tanya Marcus memastikan.
"Iya, hanya itu yang bisa aku buat karena aku menyukainya. Di kastil ini apakah memasaknya juga menggunakan sihir?" tanya Fiona penuh selidik. Dia takut melakukan kesalahan dan disihir menjadi katak.
"Yang bisa melakukan sihir hanya keturunan penyihir saja, Nona," jelas Marcus.
Marcus menyiapkan bahan yang dibutuhkan Fiona kemudian Fiona dengan cepat membuat dorayaki sebelum mertua dan saudara-saudara Ditrian menyusul ke dapur.
"Tolong bilang pada mertuaku jika aku dan suamiku sarapan di kamar kami," pinta Fiona saat dorayaki yang dia buat selesai. Fiona juga membuat susu madu untuk Ditrian.
"Baik, Nona."
Fiona dengan langkah cepat naik ke kamarnya lagi di mana Ditrian sudah mandi dan bersiap akan pergi ke sekolah sihir.
"Kau yang membuat semua ini?" tanya Ditrian tidak percaya.
"Hanya ini yang bisa aku buat jadi hargai usahaku," sahut Fiona memelas.
Ditrian tergelak karena Fiona yang bersikap manis seperti itu.
"Tenang saja, aku akan menghabiskan semuanya," ucap Ditrian yang benar-benar memakan sarapan buatan istrinya.
Selesai sarapan, Ditrian bergegas pergi karena dia sudah ditunggu di akademi.
"Aku pergi jika butuh sesuatu minta pada Marcus saat aku pulang nanti, kita akan berkuda dan berkeliling wilayah Esperland," ucap Ditrian sambil mengecup bibir Fiona. "Terima kasih untuk sarapannya!"
Disisi lain, Lily dan Lila pergi ke pohon oak untuk memanggil peri-peri yang bertemu dengan Fiona semalam.
"Princess Lily dan Lila, apa kabar?" sapa peri-peri itu.
"Bukankah kita sering bertemu?" Lily menyilangkan kedua tangannya dan bertanya pada mereka. "Kenapa kalian takut melihat Fiona?"
"Iya cepat jawab," timpal Lila tidak sabaran. Para peri itu bingung harus menjawab sampai akhirnya mereka mengaku juga.
"Kami melihat bayangan kematian!" jelas mereka.
Lily dan Lila kemudian saling pandang satu sama lain.
"Bangsa peri tidak mungkin berbohong!" ucap Lila.
"Iya, kau benar. Fiona akan celaka, kenapa kak Ditrian menikah dengan wanita itu?" kesal Lily.
Akhirnya keduanya mendatangi Fiona yang tengah bersantai di kamarnya.
"Kalian rupanya?" ucap Fiona saat membuka pintu kamarnya. Dia sengaja menghindari keluarga Ditrian tapi Lily dan Lila justru ke kamarnya.
"Seharusnya kau menemui mama dan melakukan tugasmu!" tegas Lily yang tidak suka.
"Kalian tidak mendengarnya, aku kan sakit!" sahut Fiona memberi alasan.
"Kau hanya datang bulan, kita semua juga mengalaminya setiap bulan," timpal Lila.
Fiona memijit pelipisnya karena kesal pada kedua adik iparnya itu.
"Aku sedang sibuk, okay. Tugasku hanya melayani suamiku jadi aku tidak perlu menyibukkan diri, apa perlu aku menambah pelayan untuk melakukan pekerjaanku!?" ketus Fiona yang akan menggunakan kekuatan uang.
"Ck! Aku bukan putri Marquez lagi!" sambung Fiona dalam hatinya. Dia langsung sadar jika telah dibuang.