
Ditrian buru-buru memasang kembali baju tidur istrinya. Dia tidak mau melakukan hubungan suami istri jika Fiona memanggil nama lelaki lain.
"Tidurlah, aku tidak akan mengganggumu!" gumam Ditrian sambil mengusap rambut Fiona.
Malam itu, Ditrian hanya tidur berbaring di samping Fiona.
Dan keesokan paginya, Ditrian bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan.
"Kenapa kau menyiapkan sarapan? Seharusnya Fiona!" tegur Maudy yang melihat menantunya ada di dapur.
"Fiona kelelahan!" jawab Ditrian yang disalah artikan oleh Maudy.
Maudy mendekati menantunya dan bertanya. "Jadi kalian sudah nana nini nunu, 'kan?"
"Mmm..." Ditrian bingung harus menjawab apa.
"Semoga Fiona cepat hamil, Oh astaga, aku akan menjadi nenek. Aaaa..." Maudy jadi berteriak sendiri. "Aku harus melakukan perawatan, jangan sampai aku mempunyai keriput!"
Ditrian tertawa sendiri melihat tingkah mertuanya, andai saja Fiona juga seperti itu. Pasti dia tidak akan makan hati terus-terusan.
Setelah menyelesaikan masakannya, Ditrian membawa masakan itu ke kamar istrinya. Ditrian membangunkan Fiona sampai istrinya itu terbangun.
"Fiona! Bangunlah..." Ditrian begitu sabar menunggu Fiona bangun.
"Engh! Jangan menggangguku!" Fiona masih memejamkan matanya.
"Kita harus ke wilayahku jadi bangunlah!"
Fiona yang sudah sadar langsung membuka matanya, dia lupa kalau sudah menikah.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Fiona pada Ditrian sampai ingatannya kembali pada acara pernikahannya dan penolakan Jullian. "Huh, ternyata itu semua memang terjadi!"
"Makanlah, aku sudah membuatkanmu sarapan kemudian kita akan bersiap-siap pergi!" Ditrian memberikan nampan makanan di pangkuan Fiona.
"Kau sangat tahu jika aku memang kelaparan," ucap Fiona yang langsung memakan sarapannya.
Beberapa menit berlalu, Fiona membersihkan dirinya dan bersiap untuk pergi ke kastil Ditrian.
"Kita tidak bisa menggunakan sihir di tempat umum dan tidak semua orang tahu jika bangsawan utara itu adalah keturunan penyihir," jelas Ditrian.
"Berarti orang tuaku tidak tahu kalau kau seorang penyihir?"
"Ya, begitulah."
Fiona merasa itu semua tidak penting jadi dia tidak bertanya lebih jauh. Sebelum pergi mereka berpamitan dulu dengan Erik dan Maudy.
"Jadilah istri yang baik," ucap Maudy sambil memeluk putrinya.
"Aku akan berusaha, Mom," sahut Fiona yang membalas pelukan ibunya kemudian dia berpindah memeluk Erik. "Aku akan merindukanmu, Dad!"
Erik tampak bersikap dingin pada Fiona yang membuat gadis itu bingung.
"Apapun yang terjadi, kau tidak boleh berpisah dari Ditrian. Kalau sampai hal itu terjadi, kau tidak boleh kembali ke sini, di keluarga Marquez," tegas Erik.
"A--apa? Dad..." Fiona ingin protes tapi Erik membalik badannya kemudian menarik Maudy untuk kembali masuk ke dalam mansion.
Fiona menatap punggung kedua orang tuanya yang semakin menjauh. Dia merasa dijual dan dibuang.
"Aku tidak suka seperti ini," ucap Fiona.
Ditrian merangkul istrinya dan membawa Fiona masuk ke dalam mobil.
"Kau akan mendapat apapun saat sampai di kastilku nanti," bujuk Ditrian supaya Fiona tidak bersedih.
Fiona hanya diam, dia seperti itu sepanjang perjalanan. Sampai mobil berada di gerbang utama kastil Esperland dan gerbang itu terbuka.
"Selamat datang di kastil Esperland, semoga kau suka tinggal di sini," ucap Ditrian.
Mata Fiona membulat karena kastil Esperland tidak begitu mewah, tidak seperti bayangannya.
"Aku rasa kastilnya ketinggalan jaman," komentar Fiona begitu menyebalkan.