Princess Fiona And The Sorcerer

Princess Fiona And The Sorcerer
BAB 14 - Penolakan



Irene meneteskan air mata saat Jullian bertindak semena-mena pada dirinya. Dia memang tidak punya tempat untuk pulang dan hanya Jullian harapan satu-satunya tapi Jullian juga yang membuatnya kecewa.


"Maafkan aku, Irene," ucap Jullian sambil memeluk Irene lagi. Dia memang lelaki brengseek yang sudah mempermainkan perasaan wanita sepolos itu. "Percayalah padaku!"


Irene masih menangis, bagaimana dia bisa percaya? Dari pada menikahi Irene, Jullian lebih memilih menghamili gadis itu.


Bagi Jullian, menikah tidak semudah itu apalagi dia bangkrut besar-besaran setelah klan mafianya runtuh.


"Semua akan baik-baik saja, okay."


...*****...


Di sisi lain, Fiona sibuk memilih gaun yang cocok untuk dipakai saat makan malam bersama keluarga suaminya.


Fiona yang tahu jika keluarga Ditrian setengah hati menerimanya jadi menantu, ingin tampil cantik dan anggun.


"Masih belum siap juga?" tanya Ditrian.


"Aku bingung harus memilih warna apa," sahut Fiona sambil memperlihatkan dua gaun pada suaminya. "Menurutmu bagus warna apa?"


Ditrian menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena kedua gaun yang diperlihatkan Fiona warnanya mirip.


"Semuanya bagus!" komentarnya kemudian.


"Percuma minta pendapatmu, aku bingung antara warna soft pink atau dusty pink," ketus Fiona yang masih bingung memutuskan.


"Bukankah kedua warna itu sama?"


"Sama apanya, jelas-jelas beda!"


Ditrian mendekati Fiona kemudian menarik pinggang istri tercinta. Dia jadi suka menghabiskan waktu bersama apalagi jika berdebat begini, berdebat tanpa nama Jullian.


"Apapun yang kau pakai pasti akan cantik, Fiona," ucap Ditrian.


Sejenak Fiona terpaku melihat wajah Ditrian tapi buru-buru dia memalingkan wajahnya.


"Sepertinya soft pink lebih bagus, aku akan memakainya." Fiona buru-buru ke walk in closet untuk berganti baju.


"Mentang-mentang pengantin baru jadi lama datangnya, kami sudah lama menunggu," ketus Lily, adik perempuan Ditrian itu menatap sinis pada Fiona.


"Lily!" tegur Anne supaya Lily bersikap sopan pada kakak iparnya.


"Tidak apa-apa, mama mertua. Ditrian dari tadi tidak mau melepasku jadi aku terlambat, iya kan sayang?" Fiona menggunakan Ditrian jadi alasan.


Ditrian agak kaget karena Fiona yang memanggilnya sayang di depan keluarganya.


Sementara orang tua dan kedua adik Ditrian jadi malu sendiri mendengar alasan Fiona, mereka berpikir Fiona dan Ditrian melakukan hubungan intim seharian ini.


"Cepat duduk dan kita mulai makan!" Gustav akhirnya mencairkan suasana.


Ditrian membawa Fiona untuk duduk bersama kemudian mereka makan malam dalam diam. Keluarga Ditrian membuat Fiona begitu canggung. Seharusnya mereka tinggal di mansion sendiri jadi Fiona tidak perlu mendapatkan tatapan sinis atau diremehkan.


"Besok kita akan mulai berkeliling kastil, Fiona. Jadi bangunlah pagi-pagi," ucap Anne setelah selesai makan. Semua anggota sedang memakan hidangan penutup.


Fiona menendang kaki Ditrian supaya suaminya itu memberi alasan yang logis karena Fiona akan menolak ajakan mertuanya.


"Fiona akan bersamaku besok jadi istriku belum bisa ikut," sahut Ditrian mewakili Fiona.


"Mama memaklumi karena kalian pengantin baru tapi Fiona harus segera melakukan tugasnya,"


"Iya, aku mengerti."


Fiona yang tidak mengerti bertanya pada Ditrian saat mereka sudah berdua saja.


"Memang tugasku apa di kastil ini?" tanyanya.


"Tentu saja mengurus rumah tangga kastil Esperland," jawab Ditrian yang membuat Fiona tidak percaya.


"Jadi aku akan jadi ibu rumah tangga?"


"Bukankah setiap wanita yang menikah akan jadi ibu rumah tangga?"


"Tapi aku tidak mau melakukan hal semacam itu!"