
"Kenapa kau mengatakannya padaku, Jullian? Jika alasanmu mengatakan itu karena telah menyesali perbuatanmu, aku memilih tidak tahu apa-apa," ucap Irene dengan menitikkan air matanya.
"Maafkan aku tapi aku tidak memakai pengaman jadi kemungkinan Fiona akan..." Jullian tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Dia sadar sepenuhnya telah menyakiti Irene.
"Hamil?" tanya Irene memperjelas. "Bukankah kita juga tidak memakai pengaman?"
"Jika aku dan Fiona sama-sama hamil, bagaimana Jullian?"
Irene langsung menjauhkan dirinya. Padahal dia berharap Jullian akan segera melamarnya tapi apa ini?
"Irene, aku..."
"Cukup!"
Irene tidak mau mendengar apapun lagi. Dia memilih pergi dari apartemen. Dan Jullian yang tahu itu segera menghubungi Neil dan Zack untuk meminta bantuan. Neil dan Zack adalah mantan anggota klan mafianya dulu.
"Tolong jemput Irene dan bawa ke tempat orang tuaku!" pinta Jullian.
...*****...
Tidak seperti wanita pada umumnya, Fiona menyerahkan semua rencana pernikahan pada orang tuanya. Dia tidak mau ikut campur dengan pernikahannya sendiri.
"Aku percaya padamu, Mom," ucap Fiona pada Maudy.
"Tapi mommy bingung, kau juga harus ikut memilih!" Maudy memberikan beberapa rancangan pesta pada Fiona.
"Pilihan mommy adalah pilihan terbaik!" Fiona tetap menolaknya.
Fiona memilih mengurung diri di kamarnya.
"Aku merindukan, Jullian!" gumam Fiona sambil bermain dengan ponselnya tapi dia tidak berani menghubungi Jullian karena beberapa kali dia mencoba menghubungi lelaki itu, Jullian memaki Fiona yang membuatnya sakit hati.
Rupanya Ditrian selalu mengawasi gerak-gerik Fiona, dia sadar sepenuhnya akan menikahi wanita yang tidak mencintainya sama sekali bahkan calon istrinya mengharapkan hamil dari lelaki lain.
Bagi para penyihir cinta itu hanya datang satu kali, waktu itu Ditrian pertama kali bertemu dengan Fiona saat berada di sebuah pesta. Ditrian langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Fiona walaupun gadis itu tidak pernah mengenalnya sama sekali.
Pada saat itu, Ditrian masih menjadi mage. [penyihir pemula]
Dan semenjak pertemuannya dengan Fiona, Ditrian melatih dirinya menjadi penyihir yang kuat supaya bisa melindungi Fiona.
"Tidak ada kata terlambat," ucap Ditrian yang akan melakukan apapun untuk Fiona.
Ditrian menggunakan sihir teleportasinya untuk ke kamar Fiona. Dia membawa beberapa buah tangan untuk calon istrinya.
"Ditrian!" seru Fiona saat melihat calon suaminya datang. "Kenapa kau kemari?"
"Apa aku tidak boleh bertemu dengan calon istriku?" tanya Ditrian dengan menelisik kamar Fiona.
"Kau mau menertawakan aku, 'kan? Betapa menyedihkannya aku sekarang!?" Fiona membuang wajahnya karena enggan melihat Ditrian.
"Tidak, kau kelihatan rapuh dan kesepian!" Ditrian mendudukkan dirinya di samping Fiona dan memberikan buah tangan yang dia bawa. "Makanlah, ini makanan yang hanya ada di wilayah bangsawan utara. Kau harus membiasakan diri karena setelah menikah, kau akan tinggal di sana!"
"A--apa? Aku tidak mau! Setelah kita menikah, kau yang ikut tinggal di keluarga Marquez!" tolak Fiona yang masih setengah hati menerima Ditrian jadi suaminya.
"Kalau itu aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu, istri harus ikut dengan suaminya!" tegas Ditrian.
"Terserah mu saja! Aku juga tidak akan lama tinggal bersamamu saat aku hamil anak Jullian nanti, kita akan langsung berpisah!"
"Tapi jika kau tidak hamil anak Jullian, kau harus bersedia hamil anakku, Fiona!"