Princess Fiona And The Sorcerer

Princess Fiona And The Sorcerer
BAB 13 - Banyak Bibit



Fiona memang phobia dengan katak karena dulu sewaktu kecil dia pernah diberi katak yang sudah dibedah dari Jullian.


Jadi saat ada yang menakut-nakutinya dengan katak, Fiona jadi penurut.


"Pasti daddy yang memberitahu Ditrian," gumam Fiona dalam hatinya.


Fiona mencoba biasa saja saat menggosok punggung Ditrian tapi saat Ditrian membalik badannya, dia jadi kalang kabut karena melihat sesuatu yang panjang dan besar. Bahkan lebih panjang dan besar dari pada milik Jullian.


"Kenapa wajahmu memerah? Apa kau sakit?" tanya Ditrian seolah tidak tahu apa-apa.


"Ti--tidak, tapi..." Fiona jadi tergagap. "A--aku sepertinya kelelahan!"


"Oh, biar aku menggosok tubuhku sendiri kalau begitu!" Ditrian menangkap tangan kurus Fiona kemudian dia merapatkan istrinya itu ke dinding kamar mandi. "Bagaimana menurutmu?"


"Bagaimana apanya?" tanya Fiona yang merasa pertanyaan Ditrian begitu ambigu.


"Aku membicarakan ukuran, apa itu cukup membuatku bergairah?" Ditrian memperjelas semuanya.


Wajah Fiona semakin memerah, dia ingin pergi saja dari situasi yang membuatnya tidak nyaman. Fiona berlari keluar dari kamar mandi begitu saja.


"Dia pasti sengaja, dia pasti menyihir ukurannya, 'kan?" gumam Fiona menampik apa yang dia lihat. "Hanya Jullian yang perkasa!"


"Ngomong-ngomong sedang apa dia?"


...*****...


Di sisi lain, Jullian membawa Irene pulang ke apartemen walaupun awalnya gadis itu menolak. Bahkan mereka sampai tidur terpisah karena Irene yang masih marah pada kekasihnya. Irene merasa dikhianati.


"Ish, aku membencimu Jullian!" gerutu Irene sambil memotongi sayur di dapur.


Well, walaupun marah, Irene tetap memasak untuk Jullian.


"Kau masak apa sayang?" tanya Jullian sambil memeluk Irene dari belakang.


"Lepaskan aku, Jullian!" teriak Irene sambil berusaha melepaskan diri tapi Jullian yang badannya jauh lebih tinggi dan besar, tidak akan melepaskan Irene semudah itu.


Jullian justru menaikkan Irene ke pantry dapur dan mematikan kompor Irene.


"Tidak perlu memasak karena aku ingin memakanmu!" Jullian menggeram karena menginginkan Irene yang sudah lama tidak dia sentuh.


"Aku tidak mau jadi makananmu!" seru Irene berusaha menolak. Irene mendorong dada Jullian sekuat tenaga tapi semua itu tentu saja sia-sia.


Jullian yang tahu letak daerah sensitif Irene mulai mencumbu bagian itu, Jullian bermain di leher kemudian dada Irene. Tangannya juga tidak bisa diam menyusup ke bagian bawah dan bermain di sana.


"Kau basah sayang," bisik Jullian yang membuat Irene merinding.


Irene malu karena respon tubuhnya yang begitu menikmati permainan Jullian. Apalagi saat Jullian bermain di tubuh bawahnya, Irene rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya bahkan hanya dengan permainan lidah saja, Irene keluar.


"Enak kan sayang?" goda Jullian yang membuat Irene tambah malu.


Tidak mau menunggu lama, Jullian langsung saja memasuki Irene. Tubuh mungil itu langsung tenggelam di badan besar Jullian.


Saat Jullian memasukinya lebih dalam, Irene hanya bisa berteriak. Mulut Irene tidak berhenti menganga.


"Aku keluar, Irene!" Jullian mempercepat gerakan memompa tubuh Irene. Akhirnya dia mencapai puncaknya setelah hampir lima belas menit berlalu.


Jullian mengeluarkan semua di dalam yang membuat Irene memejamkan matanya menerima semburan hangat itu.


Nafas mereka masih tersengal-sengal tapi Jullian sibuk mencumbu Irene karena akan memulai permainan kedua.


"Aku akan menanam bibitku banyak-banyak Irene," gumam Jullian yang bertekad ingin menghamili kekasihnya.