Princess Fiona And The Sorcerer

Princess Fiona And The Sorcerer
BAB 30 - Ending



"Aku tidak apa-apa, Ditrian!" Fiona mencoba tersenyum. "Ayo kita datang ke pernikahan Jullian dan Irene!"


"Aku sudah mempersiapkan baju untukmu!"


Fiona menunjukkan baju yang dia rancang pada suaminya. "Apa kau menyukainya?"


"Kau pasti akan kelihatan semakin tampan!"


Ditrian tahu jika Fiona berusaha baik-baik saja padahal hari ini adalah hari kematiannya.


"Aku menyukainya. Sini aku juga akan membantumu untuk bermake-up!" Ditrian mencoba membantu Fiona menutupi wajah pucatnya.


Dutrian mengambil perona pipi dan mengusapnya di wajah istrinya.


"Aku bisa sendiri, ini terlalu merah. Nanti aku dikira badut," ucap Fiona sambil melihat tampilannya di cermin dengan pipi yang sangat merah.


Kemudian dia tertawa bersama Ditrian dengan suaminya yang memeluknya.


"I love you, Fiona. Aku menyukaimu dikehidupan pertama atau keduamu!" ucap Ditrian tertunduk seraya memejamkan matanya.


...*****...


Elena dan para The Witch sudah mengintai Fiona dan Ditrian di acara pernikahan Jullian dan Irene tapi tidak semudah itu mereka menyerang karena para mage atau murid Ditrian membuat perlindungan untuk Fiona.


Di dalam pesta, Fiona menghabiskan waktu bersama keluarganya. Dia mencurahkan perhatiannya pada Erik, Maudy dan adik-adiknya.


"Aku membuatkan Daddy, Mommy dan adik-adikku baju hangat dari bulu domba," ucap Fiona.


"Domba?" tanya Erik.


"Di Esperland, kami mempunyai beberapa peternakan, salah satunya domba. Jadi aku berinisiatif untuk membuat baju hangat untuk keluargaku. Sebenarnya ini sebagai promosi, aku ingin memajukan wilayah utara," jawab Fiona antusias.


Erik mengelus rambut putrinya. "Kau banyak berubah!"


"Wah, kau memang berbakat sayang," sanjung Maudy saat memegang baju hangat buatan putrinya.


Ditrian melihat itu semua dari kejauhan karena dia mengkhawatirkan keadaan di luar. Dia tidak mau para The Witch mengacaukan acara.


"Kalau aku memang mati hari ini maka para The Witch juga harus mati supaya tidak mengganggu wilayahku!" batin Ditrian yang sudah memikirkan hal buruknya.


Rupanya Fiona menyadari itu, dia jadi tidak tega melihat suaminya. Malam ini, dia akan memberi kejutan pada Ditrian.


"Ditrian, ayo kita hadapi bersama!" ucap Fiona.


"Kita hadapi bersama para The Witch itu!" jelas Fiona.


"Apa? Aku tidak akan menempatkan mu dalam bahaya!"


"Percayalah padaku!"


Fiona menarik tangan Ditrian untuk keluar dari tempat acara. Dia mengatur nafasnya dan memberanikan dirinya.


"Perintahkan para mage untuk membuka perlindungan sihirnya!" ucap Fiona percaya diri.


"Ini berbahaya!" tolak Ditrian.


"Trust me!"


Akhirnya mau tidak mau, Ditrian memerintahkan mage untuk mundur otomatis para The Witch langsung mengepung Fiona dan Ditrian.


"Kalian ingin membuktikan jika aku berada di garis kematian, 'kan!?" tantang Fiona. Dia maju dan menatap Elena di sana. "Sekarang lihatlah baik-baik!"


Elena menggunakan sihir gelapnya dan juga para The Witch lain untuk melihat garis kematian itu. Tapi tidak seperti yang Elena lihat sebelumnya, garis kematian itu tidak ada lagi.


"Kau membohongi kami, Elena!" teriak rekannya.


"Ba--bagaimana bisa, aku sangat yakin melihat garis kematian itu!" Elena kebingungan.


Para The Witch memutuskan untuk pergi sebelum Ditrian menghabisi mereka.


"Apa yang sebenarnya terjadi para peri bilang..." Ditrian sama bingungnya dengan Elena.


"Aku yang meminta para peri untuk berbohong," ucap Fiona.


Fiona meraih tangan Ditrian dan menempelkan tangan itu di perutnya. "Ada calon penyihir di perutku yang membuat garis kematian itu hilang!"


"A--apa?" Ditrian tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Kau hamil Fiona?"


Fiona mengangguk dan berjinjit untuk mencium suaminya. "I love you, Ditrian. Terima kasih telah membuatku hidup kembali dan merasakan semua ini!"


...*****...


...TAMAT...