
Setelah acara pemberkatan selesai, acara berlanjut ke acara resepsi. Kesempatan itu digunakan Fiona untuk berbicara dengan Jullian.
Fiona membawa Jullian ke tempat sepi dan langsung memeluk lelaki itu.
"Aku merindukanmu Jullian, aku terpaksa menikah dengan Ditrian," ucap Fiona sambil memejamkan matanya tapi sedetik kemudian Fiona merasakan tubuhnya di dorong mundur.
"Jangan seperti ini, Fiona! Kau sudah menikah! Aku tegaskan sekali lagi, aku memilih Irene!" Jullian berbalik ingin pergi tapi ditahan oleh Fiona.
"Jika aku hamil, aku akan merusak hubunganmu dengan Irene!" ancam Fiona.
"Cintamu berubah menjadi obsesi, Fiona. Hentikan itu atau kau akan semakin terluka!" Jullian tetap pergi sebelum ada orang yang melihat mereka.
Fiona rasanya ingin berteriak dan pada saat itu Ditrian datang untuk mengajak istrinya berdansa.
"Kau melihat semuanya?" tanya Fiona.
"Ya begitulah, aku melihat istriku memeluk laki-laki lain di hari pernikahan kami dan aku juga melihat istriku menangis di hari yang seharusnya membuatnya bahagia," sahut Ditrian sambil mengusap air mata Fiona. Dia memang sakit hati tapi lebih sakit hati jika melihat Fiona menangis.
"Ayo kita kembali ke tempat acara!" ajak Ditrian kemudian.
Ditrian dan Fiona kembali ke acara dan berdansa bersama. Sepanjang mereka berdansa, Fiona hanya terdiam karena fokusnya pada Jullian dan Irene yang juga berdansa. Di sana Fiona melihat bagaimana tubuh mungil Irene yang harus mengimbangi Jullian.
"Mereka tidak cocok!" komentar Fiona.
"Bagiku mereka sangat cocok karena mereka saling melengkapi," sahut Ditrian.
Kemudian Ditrian mengalihkan arah pandang Fiona ke arah adik-adiknya dan orang tuanya.
"Lihatlah keluargamu, mereka sangat bersedih dan kehilangan saat kau mati, Fiona," ucap Ditrian.
"Padahal selama ini aku selalu membuat masalah, aku juga sering mengabaikan adik-adikku, aku terlalu egois dan selalu memikirkan diriku sendiri," sahut Fiona sadar sepenuhnya dengan apa yang dia lakukan.
"Maka berubahlah, kau harus mengubah jalan kematian yang akan kau alami nanti," ucap Ditrian.
"Kau benar-benar tidak ingin aku mati lagi?" tanya Fiona.
"Semua sudah jelas, Fiona," sahut Ditrian sambil mengecup bibir istrinya. "Malam ini kita harus melakukan malam pertama!"
Fiona terkekeh. "Kau harus seperkasa Jullian karena laki-laki seperti itu yang membuatku bergairah!"
"Lihatlah nanti," bisik Ditrian.
Dan saat pesta selesai, Fiona dan Ditrian berada di kamar pengantin mereka.
Fiona langsung menyingkirkan bunga-bunga yang ada di atas ranjang. "Tidak ada malam pertama, malam ini!"
"Lagi pula aku sedang menunggu janin yang akan tumbuh di rahimku!" Fiona membaringkan dirinya setelah melepas gaun yang begitu berat. Dia hanya memakai baju tidur tipis. "Aku malas mandi!"
Ditrian yang baru keluar dari kamar mandi justru mendapati Fiona yang tertidur tanpa mandi terlebih dahulu.
"Apa tubuhnya tidak terasa lengket?" gumam Ditrian.
Ditrian mengambil handuk basah dan ingin mengelap tubuh istrinya. Dia membuka perlahan baju tidur Fiona sambil menelan ludah beberapa kali.
Tubuh Fiona sangat mulus dan putih dengan asetnya yang menggoda.
Ditrian mengelap tubuh Fiona perlahan supaya istrinya tidak bangun.
"Jullian?" Fiona meraih tangan Ditrian karena mengira jika lelaki yang menyentuhnya adalah Jullian.
"Kapan kau akan berhenti memikirkannya, Fiona!" desaah Ditrian sambil mencoba menjauhkan tangannya.
Tapi justru tangannya ditarik oleh Fiona yang membuat wajah Ditrian jatuh tepat di buah dada istrinya.
"Hisap Jullian!" pinta Fiona.