Princess Fiona And The Sorcerer

Princess Fiona And The Sorcerer
BAB 6 - Uluran Tangan



Irene yang polos tidak curiga sama sekali justru dia mendoakan Fiona dengan kekasihnya.


"Semoga kau cepat menikah dengan Jullianmu," ucap Irene dengan tulus.


Fiona hanya membalasnya dengan senyuman, dia menjauhkan diri dari Irene kemudian mendekati Juvel.


"Setelah ini, kita harus makan di food court favoritku, aku akan melayani ibu hamil hari ini," ucap Fiona pada Juvel.


"Kapan lagi bisa dilayani oleh seorang putri bangsawan, aku akan menerimanya dengan senang hati," sahut Juvel yang tidak tahu jika Fiona sudah merencanakan sesuatu.


Setelah mereka selesai berbelanja, Juvel meminta para bodyguard yang mengikutinya untuk membawa barang belanjaan ke mobil. Sementara dirinya akan singgah di food court dulu bersama Fiona dan Irene.


Sesuai kata Fiona sebelumnya, dia akan melayani Juvel dan Irene jadi dia yang memesan makanan dan menunggu.


Beberapa menit Fiona menunggu, minuman sudah jadi duluan, Fiona mengambil obat yang dia beli sebelumnya dan memasukkannya diminuman Irene.


Kemudian, Fiona membawa nampan minuman itu ke meja di mana Juvel dan Irene menunggu.


"Minuman sudah siap!" seru Fiona sambil membagi minuman itu. "Kalian pasti haus jadi minumlah!"


Juvel yang memang tidak tahan langsung meminum es coklat kesukaannya. "Emm..."


"Pelan-pelan, Juvel!" komentar Fiona dengan gelengan kepala kemudian atensinya berpindah pada Irene. "Kau juga minumlah Irene!"


Irene mengangguk saat gadis itu memegang sedotan, jantung Fiona berdebar kencang sekali. Keringat dingin mulai keluar membasahi pelipisnya.


"Stop!" teriak Fiona kemudian.


Fiona merebut gelas minuman Irene dan mengganti dengan miliknya.


"Tiba-tiba aku ingin minuman punyamu Irene!" ucap Fiona memberi alasan.


"Minumlah Fiona, aku akan meminum punyamu!" Irene dengan wajah polosnya meminum di gelas Fiona.


Kemudian Fiona berdiri lagi untuk mengambil makanan yang sudah jadi. Saat Juvel dan Irene makan, Fiona pamit undur diri.


"Aku harus pulang!" pamitnya. "Lain kali kita bertemu lagi sebelum Juvel melahirkan!"


"Hati-hati di jalan, Tuan Puteri," sahut Juvel dengan melambaikan tangannya.


"Sampai bertemu lagi, Fiona," timpal Irene.


Fiona keluar dari pusat perbelanjaan dengan membawa minuman yang telah dia campur obat itu. Dia membuangnya di bak sampah dengan berjongkok dan tertunduk.


"Dasar lemah!" Fiona memaki dirinya sendiri.


Tiba-tiba ada seseorang yang mendekat padanya sambil mengulurkan tangannya.


"Kau tidak lemah tapi karena kau memang bukan gadis seperti itu, Fiona!"


Fiona langsung menatap seseorang itu. "Ditrian?"


"Ayo pergi dari sini!" ajak Ditrian.


Dengan terpaksa Fiona menerima uluran tangan sang pangeran.


"Bersiaplah!" ucap Ditrian yang tiba-tiba menggendong Fiona. Dia menggunakan mantra sihirnya untuk berpindah tempat dengan singkat.


Fiona kaget karena dia sudah berpindah tempat ke sebuah taman bermain yang sepi. Ditrian menurunkan Fiona ke sebuah ayunan.


"Jangan terus bersikap keras kepala dan egois, Fiona! Kau akan menyakiti Irene!" ucap Ditrian yang tidak lelah untuk coba menyadarkan Fiona.


"Tapi Irene merebut Jullian dariku!" sahut Fiona emosional, dia sampai menitikkan air matanya. Fiona sama sekali tidak terima dengan kenyataan yang ada.


"Irene tidak merebut Jullian tapi Jullian yang meninggalkanmu! Lantas kenapa kau masih berharap padanya?" tanya Ditrian sambil mengusap air mata Fiona. "Menyerahlah, relakan perasaanmu! Saat kau berhasil bersama Jullian pun, hati lelaki itu bukan milikmu lagi. Kau hanya akan memiliki raganya!"