
Beberapa kali Fiona meniup peluitnya tapi Ditrian tidak datang juga. Fiona jadi gelisah karena merasa terancam dan tidak ada yang menyelamatkan dirinya.
Apalagi Elena terus mendekat padanya. Fiona sudah membayangkan hal yang tidak-tidak.
"Kau boleh menyihirku jadi apa saja selain katak," ucap Fiona takut-takut.
"Aku tidak akan membuang Mana-ku untuk sesuatu yang konyol seperti itu," sahut Elena jadi emosi sendiri.
Elena ingin mengurung Fiona tapi disaat itu juga atap rumahnya hancur bersamaan dengan Ditrian yang datang.
"Kau sepertinya membawa istri seseorang, kembalikan istriku selagi aku masih bersikap baik padamu," ucap Ditrian yang matanya melirik Fiona.
"Hahaha! Istrimu berada di garis kematian, dia sudah mati dan kau berusaha membuatnya mengulang waktu, kau merusak tatanan waktu, Putra mahkota!" Elena masih tertawa.
Ditrian mengeratkan gigi gerahamnya karena ada yang menyadari posisi Fiona saat ini. Jika semua The Witch tahu pasti jiwa Fiona terancam sebelum musim dingin tiba. Karena Fiona meninggal disaat itu. Jadi Ditrian harus membuat Fiona tetap hidup sampai Fiona melewati musim dingin dan hari pernikahan Jullian Irene.
"Kau membuat kesabaranku habis!" geram Ditrian sambil membentuk cahaya dari tangannya, dia membentuk tali dan mengikat Elena memakai tali itu. "Kau tidak akan bisa mengalahkanku!"
"Kau sepertinya salah, Putra Mahkota!" Elena membentuk portal kemudian menghilang begitu saja.
Ditrian ingin mengejar Elena tapi dia melihat Fiona yang tampak ketakutan akhirnya dia mengurungkan niatnya. Ditrian memilih membawa Fiona pulang.
"Maaf aku datang terlambat," ucap Ditrian sambil memeriksa keadaan Fiona. "Apa ada yang terluka?"
Fiona tiba-tiba memeluk Ditrian, gadis itu menangis di pelukan suaminya.
"Aku tidak punya tempat untuk pulang Ditrian," ucapnya.
"Maka jadikan aku tempat pulangmu!" Ditrian berkata sambil membawa Fiona kembali ke kastil.
"Kenapa kau tidak membuatku lupa seperti yang kau lakukan pada Jullian?" tanya Fiona saat mereka sampai di kamar.
"Aku tidak mau menggunakan cara itu karena itu sama halnya dengan mengalihkan kenyataan dan di sini kau harus menerima kenyataan," jelas Ditrian.
"Aku sudah merelakan Jullian tapi bayangan kematian itu tidak juga hilang bahkan ada nenek sihir yang mengincarku!" keluh Fiona yang semakin bingung dengan keadaannya.
"Maka jatuh cintalah padaku sebelum musim dingin tiba karena kematianmu sebentar lagi," tuntut Ditrian.
Ditrian tidak sabar lagi kalau dengan kesabarannya tidak bisa juga, dia harus memaksa Fiona berhubungan badan dengannya.
"Apa kau masih tidak terangsang denganku Fiona?" tanya Ditrian sambil membuka bajunya.
Fiona memalingkan wajahnya. "Apa yang mau kau lakukan?"
"Tentu saja tugas suami istri, kau belum melakukan tugasmu Fiona, kita harus sering kontak fisik supaya kau terbiasa," ucap Ditrian semakin mendekat.
"Penuhi pikiranmu dengan aku, dengan tubuhku dan dengan..." Ditrian berbisik di telinga Fiona. "Sentuhanku!"
Fiona jadi bingung sendiri tapi jika memang itu diperlukan, dia tidak bisa menolak.
"Apa kau sudah berpengalaman sebelumnya?" tanya Fiona.
"Apa aku terlihat seperti laki-laki mesum?" tanya Ditrian balik.
Ah, Fiona melupakan jika cinta Ditrian hanya untuknya.
"Baiklah, mari kita lakukan tugas suami istri," ucap Fiona sambil membuka bajunya. Kulit putihnya terlihat yang membuat Ditrian berkeringat dingin.