
Suara erangan terus terdengar untuk kesekian kalinya. Peluh sudah membasahi tubuh keduanya tapi rupanya Fiona menginginkan lagi dan lagi.
"Kau tidak lelah?" tanya Ditrian dengan terengah.
Fiona menggeleng. "Aku masih menginginkanmu!"
Ternyata efek cairan hasrat itu memang luar biasa tapi Ditrian harus mengontrol itu. Dia tidak mau Fiona kelelahan dan jatuh sakit.
"Tubuhmu yang paling penting jadi kita sudahi," ucap Ditrian yang mencoba melepas Fiona.
Tapi Fiona terus menahannya dan meminta sekali lagi.
"Ayo sayang!" Fiona terus menggoda Ditrian tapi lelaki sekuat tenaga untuk menahan diri.
"Kita sudah melakukannya beberapa kali!" tolak Ditrian tegas. Dia memakaikan baju Fiona dan membawanya istrinya kembali ke kamar mereka.
Awalnya Fiona masih merengek tapi akhirnya gadis itu tertidur juga.
"Huft!" Ditrian mengelap peluhnya. "Kau membuatku kewalahan hari ini!"
Kemudian Ditrian berdiri di balkon sambil memikirkan kematian Fiona yang semakin dekat ditambah bayang-bayang Elena. Pasti Elena mengumpulkan para The Witch lain untuk bisa membunuh Fiona.
"Fiona tidak boleh mati!" ucap Ditrian.
...*****...
Keesokan harinya, Fiona terbangun dan merasakan tubuhnya sakit semua. Dia langsung mengingat kejadian semalam dan merasa malu luar biasa.
"Astaga!" Fiona menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Kemudian dia mencari di mana suaminya berada.
"Ditrian?" panggil Fiona tapi lelaki itu tidak ada.
Fiona memutuskan untuk membersihkan diri, berdandan yang cantik lalu ikut bergabung sarapan dengan yang lainnya.
Di meja makan anggota keluarga sudah berkumpul termasuk Ditrian.
Saat melihat Ditrian pagi ini, entah kenapa wajah suaminya jadi berubah.
"Kenapa Ditrian jadi terlihat keren? Apa cairan tadi malam masih ada efeknya?" batin Fiona.
Anne yang melihat Fiona segera menegur menantunya itu.
"Fiona, kenapa diam disitu? Kata Ditrian kau sakit," ucapnya.
"Aku hanya kelelahan saja," sahut Fiona sembari berjalan dan duduk di samping suaminya.
Ditrian mengambilkan makanan ke piring Fiona. "Makanlah!"
"Kau sekarang jadi pemalu, baguslah!" komentar Ditrian yang membuat Fiona tidak bisa berkata-kata lagi.
Setelah selesai sarapan, Fiona mengingat kejutan yang akan diberikan Ditrian padanya. Jadi sebelum Ditrian ke Akademi, Fiona ingin menagihnya.
"Nanti malam, aku pasti akan memberikan kejutannya!" ucap Ditrian.
Biasanya Fiona akan bersikap biasa saja tapi sekarang berbeda, Fiona jadi tidak sabar ingin menghabiskan waktu berdua dengan suaminya.
"Cairan itu membuatku gila!" gumam Fiona sambil memegangi dadanya.
Fiona kembali ke kamarnya dan membongkar semua bajunya. Dia ingin kelihatan cantik nanti malam.
"Warna apa yang bagus?" gumam Fiona bingung sendiri. Dia melihat udara semakin dingin di luar dan mencemaskan suaminya. "Seharusnya Ditrian memakai baju yang lebih tebal!"
Waktu terus berlalu, Fiona sudah berdandan cantik sekali tapi Ditrian tidak juga datang.
Fiona terus memandangi jam sambil beberapa kali menguap. "Apa Ditrian lupa?"
Sampai kamarnya diketuk oleh Marcus, barulah Fiona beranjak berdiri membuka pintu.
"Prince Ditrian menunggu Anda di taman," ucap Marcus.
"Benarkah?" Fiona yang tidak sabar berlari menuju taman. Udara dingin tidak mengurangi semangatnya.
Rupanya Ditrian mengubah salju menjadi bentuk kristal dan menghiasnya menjadi indah seperti istana Ratu Elsa. [Elsa di film Frozen]
"Ditrian!" panggil Fiona sampai hampir terjatuh, untung Ditrian memegang tangannya.
"Hati-hati!"
"Tali sepatuku rupanya lepas!"
"Biar aku yang memperbaikinya!"
Ditrian menunduk dan mengikat tali sepatu Fiona begitu saja.
Fiona memandangi suaminya, bagaimana dia bisa mengabaikan laki-laki seperti itu selama ini. Bahkan dengan mudahnya Ditrian menunduk untuk mengikat sepatunya.
Fiona kemudian menunduk dan meraih dagu Ditrian, dia mencium bibir suaminya. "Terima kasih untuk semuanya! Jika aku nanti mati lagi, aku bahagia sudah pernah mengenalmu!"