
Ditrian terus membujuk Fiona sampai akhirnya gadis itu mau mendekati Erik.
"Maafkan Daddy, Fiona!" Erik langsung memeluk putrinya. Dia sebenarnya sangat merindukan anak perempuannya itu.
Tangisan Fiona semakin menjadi-jadi di sana. Di saat dia sudah berubah justru garis kematian sudah di depan mata.
Maudy yang juga ikut menangis hanya bisa mengusap air matanya. Dia justru mendatangi menantunya.
"Terima kasih, Ditrian. Kau menjaga Fiona dengan baik," ucapnya.
Ditrian tersenyum. "Itu sudah tugasku sebagai seorang suami!"
Saat suasana sudah tenang, Fiona mendatangi Juvel yang sudah berada di ruang perawatan. Dia memandangi bayi mungil yang berada di inkubator.
"Dia sangat tampan," ucap Fiona.
"Kau juga harus cepat hamil Fiona, apa kau mendengar kabar Irene?" sahut Juvel.
Fiona terdiam, tentu saja dia tahu bahkan dia tahu apa yang terjadi selanjutnya. "Aku akan menemui Irene!"
"Fiona, kau tidak akan..." Juvel meragu. Dia takut Fiona masih mengharapkan Jullian dan akan membuat Irene dalam bahaya.
"Aku sudah merelakan Jullian, tenang saja," ucap Fiona yang mengerti.
Dari kejauhan Fiona melihat Jullian yang bersuka cita atas kehamilan Irene, lelaki itu bahkan terus menciumi Irene di sana. Kalau sebelumnya Fiona merasa sakit hati jika melihat itu tapi sekarang dia bisa tersenyum.
"Selamat Irene," ucap Fiona tulus. Dia mengulurkan satu tangannya untuk berjabat tangan. "Aku minta maaf atas semuanya, kau jangan memikirkan hal apapun, aku dan Jullian sudah selesai!"
Irene menatap Fiona dengan berkaca-kaca. Sebenarnya Fiona tidak salah tapi kenapa dia meminta maaf padanya.
"It's okay. Fiona," sahut Irene.
Jullian yang melupakan pertemuan terakhirnya dengan Fiona hanya bisa menatap gadis itu tanpa bisa berkata-kata. Dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk Irene.
"Ayo pulang," ajak Ditrian yang menyusul istrinya. Dia kembali menggenggam tangan Fiona dan mengajaknya kembali ke kastil. "Kau sudah berjuang, aku akan memberi kejutan!"
"Kalau aku beritahu sekarang namanya bukan kejutan!"
Ditrian membawa Fiona kembali ke kastil dan membawa istrinya itu ke menara sihir.
"Jadi kau menghabiskan waktumu di sini?" tanya Fiona sambil menelisik tempat itu. Terdapat banyak barang-barang yang baru pertama kalinya dilihat oleh Fiona.
"Jangan menyentuh barang tanpa izinku karena itu sangat berbahaya!" Ditrian memberi peringatan.
Fiona sepertinya tidak mendengarkan, dia penasaran dengan barang-barang Ditrian sampai dia mengambil salah satu botol kaca yang berisi cairan merah. Cairan itu bercahaya jadi Fiona penasaran apakah ada sesuatu di dalamnya.
"Bagaimana cara membuat cairan ini bercahaya?" tanyanya.
Pupil mata Ditrian melebar melihatnya, dia segera merebut botol itu dari tangan Fiona.
"Jangan pernah menyentuh ini, ini masih purwarupa yang aku buat," ucapnya.
"Purwarupa apa?" Fiona semakin penasaran.
"Ehem!" Ditrian berdehem sebelum menjelaskan. "Ini adalah cairan hasrat, siapa yang meminumnya akan terus berhasrat pada orang yang dia sebut namanya sebelum meminumnya!"
Fiona tergelak. "Maksudnya sejenis perangsang?"
"Mungkin seperti itu tapi efek yang ditimbulkan terlalu tinggi! Makanya jangan pernah menyentuhnya!" jelas Ditrian dengan mengembalikan botol itu pada tempatnya.
Tapi Fiona segera merebut botol itu kembali, dia ingin membuktikan perkataan Ditrian.
"Aku tidak percaya sebelum benar-benar mencobanya!" Fiona segera membuka botol itu dan menyebutkan nama Ditrian sebelum meminumnya. "Tidak terjadi apa-apa padaku!"
"Ck! Kau memang keras kepala!" Ditrian berdecak karena Fiona tetap meminumnya. Dia sebenarnya juga tidak tahu efeknya sebesar apa, Ditrian membuat itu awalnya memang untuk Fiona tapi mengingat istrinya yang menyukai Jullian, dia takut justru nama Jullian yang disebut jadi Ditrian menyimpan cairan sihir itu.
Beberapa menit berlalu barulah Fiona merasakan efeknya. Di matanya, Ditrian begitu bercahaya sampai dia tidak bisa menahan diri.
"Sayang..." panggilnya dengan membuka baju yang dia pakai. "Ayo belajar gaya barunya sekarang!"