
Fiona terkekeh melihat respon Ditrian, tangannya mengusap peluh di kening suaminya. Kemudian dia mengecup bibir Ditrian yang disambut oleh lelaki itu.
Mereka berciuman sebentar kemudian saling bertatapan.
"Kau gugup?" tanya Fiona sambil mengarahkan tangan Ditrian ke buah dadanya. "Mulai lah dengan perlahan kemudian gunakan instingmu!"
Ditrian mengikuti arahan dari Fiona, mereka kembali berciuman dengan dalam kemudian Ditrian menggunakan insting laki-lakinya.
Walaupun ini bukan pertama kalinya untuk Fiona tapi dia merasa berbeda saat melakukannya dengan Ditrian, mungkin karena ini pengalaman pertama lelaki itu.
"Jangan sebut nama laki-laki lain saat kita bersama seperti ini, hanya kita Fiona!" pinta Ditrian.
Fiona mengangguk dan menikmati permainan suaminya, dia sampai meremas seprai dengan tubuhnya yang terus bergoyang.
"Apa aku bisa memuaskanmu?" tanya Ditrian dengan terengah-engah.
"Jangan tanyakan hal seperti itu!" Fiona menggapai pinggul Ditrian dengan tangannya. "Lebih cepat!"
Ditrian bergerak lebih cepat sampai terdengar suara erangan keduanya memenuhi kamar.
Nafas keduanya masih tersengal-sengal dengan tubuh yang basah dengan keringat.
"I love you, Fiona," ucap Ditrian sambil mengecup bibir istrinya.
Fiona hanya tersenyum, mereka beristirahat sejenak sebelum membersihkan diri. Kemudian Fiona dan Ditrian berbaring dengan saling memandang satu sama lain.
"Akan ada pesta khusus untuk debutmu jadi bersiap-siaplah nanti," ucap Ditrian.
"Debut?" Fiona meragu karena insiden yang dia alami sebelumnya. "Keluargamu?"
"Aku sudah mengurus semua, ini sebagai peringatan bahwa pernikahan kita baik-baik saja," jelas Ditrian.
Fiona tidak tahu harus berkata apa, Ditrian memang sosok lelaki sempurna. Rasanya akan sangat menyedihkan jika keluarga Esperland kehilangan sosok seperti Ditrian.
"Aku akan membuat gaun pestaku sendiri, aku akan minta bantuan para penenun," ucap Fiona mulai bersemangat.
"Aku juga sudah memerintahkan Marcus untuk memberikan pelayan pribadi untukmu!" Ditrian mengusap pipi Fiona. "Dan terima kasih untuk tadi!"
"Setidaknya setiap malam sebelum tidur kita akan melakukannya," tambah Ditrian.
"Kau tidak akan tidur di menara sihir lagi, 'kan?" tanya Fiona yang setiap malam tidur sendirian.
Ditrian menggeleng. "Aku tidur di menara sihir karena menahan diri!"
Kemudian Ditrian memeluk Fiona ke pelukannya. Dia mengecup puncak kepala istrinya, Ditrian berharap garis kematian Fiona akan berhenti.
...*****...
Keesokan paginya, Fiona bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Setelah sarapan bersama suaminya, Fiona memilih untuk mendatangi para penenun dan meminta mereka untuk membuatkannya gaun yang cantik.
"Nyonya akan melakukan debut?" tanya salah satunya.
"Iya, makanya aku harus tampil secantik mungkin," jawab Fiona. Dia akan meminta maaf pada mertua dan adik iparnya saat debut nanti, Fiona belum bertemu mereka semenjak hari itu.
Dan saat hari debut tiba, Fiona begitu gelisah karena takut tidak ada yang datang ke acara debutnya atau pun dia tidak dianggap di sana.
"Kenapa?" tanya Ditrian.
"Aku..." Fiona bingung harus menjawab apa.
Ditrian kemudian berdiri di belakang Fiona, dia mengeluarkan kalung berlian dan memakaikannya pada istrinya.
"Aku membelinya karena warna permata nya yang sama dengan warna matamu!" ucap Ditrian dengan mengulurkan satu tangannya. "Ayo kita datang ke acara, yang mengadakan pesta harus menyambut tamu dengan baik!"
Fiona menerima uluran tangan itu dan mereka pergi ke aula pesta.
"Terima kasih sayang," ucap Fiona dengan menatap Ditrian.
Ditrian kaget karena Fiona yang memanggilnya seperti itu.
"Mulai sekarang aku akan memanggilmu seperti itu..." Fiona mengelus dada Ditrian. "Dan nanti malam, aku akan mengajarimu gaya baru!"