
Ditrian membawa Fiona ke kamar mereka, dia tidak mengucapkan satu patah kata pun. Ditrian mencoba mengobati memar di tubuh Fiona karena tali yang membelenggu tubuh istrinya itu sebelumnya.
Sementara Fiona sendiri hanya memandangi wajah Ditrian. Dia sampai bingung harus berkata apa.
"Maafkan aku, Ditrian," ucap Fiona kemudian. Dia kembali menangis, sungguh Fiona menyesali semua perbuatannya selama ini. "Aku hanya ingin bertemu dengan Jullian untuk terakhir kalinya, aku benar-benar ingin merelakannya!"
Ditrian hanya diam saja, tangannya justru mengusap wajah Fiona.
"Tidurlah, aku akan mengurus semuanya," ucap Ditrian sambil berlalu pergi.
Setelah kepergian Ditrian, Fiona kembali menangis meraung di kamar itu. Fiona ingin menghubungi keluarganya dan meminta mereka untuk menjemputnya. Rasanya dia tidak punya harapan lagi jika dia memang harus mati setidaknya Fiona akan menghabiskan waktu bersama keluarganya.
"Dad... Mom..." panggil Fiona tapi panggilan darinya tidak ada yang menerima.
...*****...
Keesokan harinya, Fiona jatuh sakit. Gadis itu mengalami demam tinggi yang membuat Ditrian memanggil dokter di keluarga Esperland untuk mengobati istrinya.
"Aku rasa istri anda sangat terguncang, Tuan," ucap dokter itu.
Ditrian mengangguk. "Ya, aku paham. Kau boleh pergi, aku akan merawat istriku!"
Kemudian Ditrian duduk di sisi ranjang dan memeriksa suhu tubuh Fiona yang masih panas.
"Ditrian..." lirih Fiona memanggil suaminya. "Aku mau pulang!"
"Pulang ke mana? Di sini adalah rumahmu," sahut Ditrian sambil mencoba membantu Fiona untuk duduk.
"Aku sudah tidak punya muka lagi di sini, aku hanyalah istri yang selingkuh dari suaminya jadi lebih baik aku pergi saja," ungkap Fiona.
"Aku rasa menginap beberapa hari di mansion Marquez akan membuatmu sembuh," ucap Ditrian sambil berdiri. "Aku akan meminta supir untuk mengantarmu!"
Ditrian mengemasi barang-barang Fiona seperlunya saja, dia akan memberi waktu sendiri untuk Fiona.
Fiona pergi seorang diri diantar oleh supir, dia tidak sabar ingin bertemu keluarganya. Tapi saat sampai di mansion Marquez bukan sambutan hangat yang dia dapatkan justru tatapan tajam dari Erik sang daddy.
"Aku sudah menduga kau akan kembali cepat atau lambat, aku sudah memberi peringatan padamu Fiona," tegas Erik.
"Tega sekali daddy berkata seperti itu, kenapa daddy tidak tanya dulu bagaimana keadaanku, aku bahkan hampir mati! Apa daddy tidak peduli!?" Fiona kembali menunjukkan sisi pembangkangnya.
"Itu semua ulahmu Fiona," ucap Erik yang merasa kecewa. Kemudian dia memerintahkan beberapa pengawal untuk membawa Fiona keluar dari mansionnya. "Jangan pernah biarkan Fiona masuk lagi!"
"Dad... Daddy... aku ingin pulang!" teriak Fiona dengan meraung, dia tidak mau diusir.
Erik melihat kepergian Fiona dengan diseret oleh beberapa pengawalnya.
"Apa kau tidak terlalu kejam pada Fiona?" tanya Maudy yang sedari tadi sembunyi karena tidak tega melihat putrinya.
"Ini semua demi kebaikan Fiona, dia harus banyak belajar," jawab Erik. Dia tentu saja sudah mengetahui Fiona yang mempunyai hubungan dengan Jullian.
"Maafkan aku, pasti Fiona seperti itu karena lahir dari ibu seperti aku," ucap Maudy yang merasa rendah diri karena dia adalah mantan mafia.
"Kau bicara apa? Itu semua salahku karena memanjakan Fiona," sahut Erik sambil memeluk istrinya.
Maudy membalas pelukan suaminya, dia juga merasa bersalah karena selama ini menuruti semua permintaan Fiona.
"Aku harap Fiona bisa menerima Ditrian," sambung Maudy.