
Saat mereka sampai, hari sudah mulai gelap, mereka dengan segera mendirikan tenda dan api unggun untuk menghangatkan mereka, makanan dan peralatan lainnya mereka letakkan di dalam tenda dengan rapih, setelah semua nya selesai Cessa duduk di dekat api unggun untuk beristirahat sejenak.
Sementara Austin kembali ke dalam tenda untuk mengambil minuman kaleng untuk dirinya dan ice cream untuk nona nya itu, saat Austin keluar ia melihat Cessa sedang memandang kearah langit yang saat ini bertabur bintang, ia berpikir tidak salah saat ini dia membawa nona nya kesini, karena suasana dan cuaca hari ini mendukung mereka untuk berkemah.
Austin segera duduk di samping Cessa dan menyerahkan ice cream yang dia bawa, Cessa yang melihat itu segera mengambil nya, "Disini pemandangan nya sangat indah, aku merasa tenang," Ucap Cessa lirih.
"Ya, aku selalu datang kesini saat membutuhkan ketenangan, diam berjam-jam disini hingga suasana hatiku membaik," Jawab Austin membenarkan pernyataan nona nya itu, karena disaat butuh ketenangan alam lah yang cocok untuk memberikan ketenangan itu.
"Apa kau sudah lama mengetahui tempat ini?" Tanya Cessa menatap kearah Austin dengan penasaran.
"Lumayan lama, mungkin saat aku kehilangan ibu dan adik ku, entahlah tepat nya kapan, tapi aku beruntung menemukan tempat ini disaat kehidupan ku di luar sana terasa kelam dan hancur, tempat ini membawa ketenangan untuk ku," Jawab Austin yang sesekali sambil meminum minuman nya dengan tenang, ia tidak sadar secara tidak langsung mengungkit pembahasan tentang ibu dan adik nya, bahkan ia sama sekali tidak merasa ada kemarahan dalam hati nya.
"Aku tau itu pasti hal terberat yang kau alami, tapi kau kuat bisa melalui itu semua dengan baik, kalau itu terjadi padaku entahlah apakah aku bisa menjalani nya atau tidak, karena kedua orang tua ku lah kekuatan ku, mungkin aku akan menyusul mereka kalau itu terjadi padaku," Cessa yang merasa prihatin kepada bodyguard nya itu mengangkat tangan nya dan menepuk-nepuk bahu Austin dengan pelan sebagai salah satu bentuk rasa empati nya.
Austin yang mendapat tepukan di bahu nya pun menoleh kearah Cessa yang membuat kedua mata mereka saling beradu dengan cukup lama, seakan mereka saling menyelami satu sama lain, namun Austin segera memalingkan muka nya dengan cepat ia tidak mau sampai terpesona oleh nona nya ini, karena ia akui bahwa nona nya itu memiliki daya pikat yang kuat, ia tidak mau sampai melibatkan hati nya dan perjuangan nya untuk membalaskan dendam selama ini menjadi sia-sia hanya karena ia memakai hati.
"Baiklah nona, perintah pertama apa yang harus saya jalani," Ucap formal Austin yang menjalani peran nya sebagai pelayan satu malam nona nya ini.
Cessa terkekeh geli melihat itu, rasa nya sangat aneh melihat Austin yang mematuhi nya ini karena ia terbiasa melihat Austin yang menyebalkan, seenaknya dan jahil.
"Karena kau sekarang telah menjadi pelayan ku, aku minta kau untuk membuat kan ku masakan yang enak, karena perut ku sudah mulai lapar," Perintah Cessa yang juga mendalami peran nya sebagai majikan yang angkuh sambil sesekali menunjuk ke arah Austin.
***
Setalah masakan Austin jadi mereka langsung makan bersama walaupun terlihat sederhana tapi entah kenapa bagi Cessa masakan Austin ini terasa cocok di lidah nya. "Kau pintar masak juga ternyata." Ucap Cessa malu karena harus memuji bodyguard nya itu.
"Apa nona? aku tidak mendengar ucapan mu, suara mu kecil sekali." Walaupun sebenar nya Austin mendengar ucapan Cessa tapi entah kenapa ia suka sekali menggoda nya, terlihat sekali nona nya itu malu karena memuji nya.
"Aahhh.. sudah lah dasar tuli." Jawab cessa ketus karena ia tau bodyguard nya itu hanya menggoda nya terlihat dari senyuman nya yang menyebalkan itu.
"Hahaha... kalau mau memuji puji saja nona, tidak usah malu seperti itu." Cessa yang melihat Austin tertawa lepas seperti itu di depan nya merasa berdesir di dalam hati nya, karena selama bekerja Austin selalu menampilkan wajah serius nya sekalipun saat menggoda nya, wajah nya itu tetap datar hanya ucapan nya saja yang menyebalkan.
Setelah itu mereka berdua membereskan sisa-sisa sampah mereka dan berdiam sejenak sebelum masuk ke dalam tenda untuk beristirahat, Austin hanya duduk memberi jarak dengan nona nya yang saat ini sudah tertidur lelap, tanpa sadar ia memperhatikan nona nya itu dengan detail, nona nya ini terlihat polos saat tertidur bahkan saat tidur sekalipun Cessa tetap terlihat cantik ia akui itu, tapi percuma kecantikan di luar kalau hati nya jahat, Cessa harus membayar atas semua penderitaan nya selama ini.
Saat masih memperhatikan nya Austin melihat Cessa gelisah di dalam tidur nya "bukan aku, bukan aku." Austin mengernyit saat mendengar igauan Cessa, sebenar nya apa yang di mimpi kan Cessa hingga terlihat gelisah seperti itu, apakah ia sering mengalami mimpi buruk seperti ini?
"Cessa bangun." Austin segera membangun kan Cessa saat melihat Cessa semakin gelisah di dalam tidur nya. Butuh beberapa waktu hingga nona nya membuka mata, dapat ia lihat ketakutan, cemas dan putus asa dari mata itu, tanpa lama Cessa segera memeluk Austin dengan erat, badan nya masih gemetar air mata nya turun tanpa Cessa sadari, yang saat ini ia butuhkan adalah seseorang untuk menguatkan nya, tempat sandaran bagi nya.
Austin yang merasakan tubuh Cessa yang gemetar langsung membalas pelukan Cessa, berusaha menenangkan nya dengan mengusap punggung nya lembut "it's okay, ada aku... kau aman." Kata itu terucap dengan sendiri nya oleh Austin saat melihat ketakutan yang besar yang saat ini Cessa rasakan, hingga akhir nya kedua nya tertidur tanpa melepas pelukan satu sama lain.