Princess And Bodyguard

Princess And Bodyguard
Bab 25 Berkemah



Setelah mereka kembali kedalam mobil Austin pun segera menjalankan mobil nya menuju kota terdekat untuk membeli perlengkapan kemah yang mereka butuhkan, selama perjalanan hanya keheningan yang melanda ke dua orang tersebut, Austin sesekali melihat ke arah nona nya itu yang sedang melihat keluar jendela atau sedang tertidur entahlah ia hanya menerka saja.


Saat sampai di Toko Toserba Austin segera memberhentikan mobil nya lalu membangunkan cessa yang ternyata tertidur selama perjalanan mereka, " Cessa bangun, kita sudah sampai," ucap Austin sambil mengguncang bahu Cessa pelan.


"Ugh.. apa sudah sampai?," Tanya Cessa saat ini yang sedang mengumpulkan nyawa nya sambil menatap Austin yang kini berada di hadapan nya.


"Ya kita sudah sampai," jawab Austin dengan segera membuka seatbelt Cessa dan mereka berdua pun segera turun untuk membeli perlengkapan kemah yang mereka butuhkan.


"Austin, kita bagi tugas kau ke sebelah sana tempat peralatan berada dan aku akan ke arah makanan cepat saji biar cepat," perintah Cessa saat sampai di dalam toko tersebut, toko itu termasuk lengkap untuk ukuran toko yang berada di pesisi an kota, "Tidak nona kita tetap bersama, saya tidak mau mengambil resiko jika terjadi sesuatu terhadap nona," bantah Austin segera saat nona nya itu memberikan perintah padanya.


"Austin, disini tidak ada yang mengenal ku, kau tidak usah khawatir," Ucap Cessa meyakinkan bodyguard nya tersebut.


"Tidak nona, sekali tidak tetap tidak, sebaik nya kita tetap bersama untuk membeli perlengkapan yang kita butuhkan," Tegas Austin kepada nona nya tersebut.


"Sebenar nya yang bos disini siapa sih," gerutu Cessa yang jalan terlebih dahulu.


"Bos saya adalah tuan James Cessa," ucap Austin yang mendengar gerutuan nona nya itu sambil terkekeh geli.


"Dan tuan James itu adalah ayahku," jawab Cessa jengkel mendengar bodyguard nya itu yang selalu tidak menuruti perintah nya, "Sudahlah ayo cepat," lanjut Cessa yang tidak mau memperpanjang nya karena dia sudah tau dia selalu kalah jika berdebat dengan Austin "Menyebalkan."


Austin yang melihat nona nya itu masih kesal segera menyusul nya, "Bagaimana kalau sebagai permintaan maaf kau boleh membeli ice cream sepuasmu tapi tidak berlebihan juga" bujuk Austin sambil mengambil alih troli yang dibawa nona nya tersebut.


Cessa segera menatap Austin yang berada di samping nya dengan pandangan menyelidik, walaupun tawaran itu sangat menggiurkan, tapi ia tidak bisa begitu saja percaya dengan ucapan Austin, bagaimana kalau ujung-ujung nya Austin melaporkan nya kepada daddy nya, pasti ia kena omel apalagi memakan ice cream banyak di malam hari.


Seakan tau apa yang dipikirkan nona nya Austin pun berucap kembali " Tenang Cessa saya tidak akan memberitahu tuan,"


"Baiklah aku terima ucapan maaf mu, ingat jangan beritahu daddy," Tegas Cessa kepada Austin, karena ia sedang males mendengar omelan daddy nya itu, ya walaupun daddy nya itu mengomel memang untuk kebaikan dirinya.


Cessa dan Austin segera memilih perlengkapan apa saja yang mereka butuhkan dengan cepat, orang-orang yang melihat mereka menyangka bahwa mereka adalah sepasang suami istri yang cocok, yang satu tampan dan yang satu cantik seolah ada magnet yang membuat orang-orang melihat kearah pasangan tersebut.


"Apa kau menyadari banyak yang melihat ke arah kita?" Tanya Cessa berbisik ke arah Austin yang tepat berada di samping nya.


Memang benar bodyguard nya yang satu ini harus diberi pelajaran, karena rasa kesal nya yang seakan dipermainkan oleh Austin, Cessa dengan sekuat tenaga ingin kembali memukul Austin namun sayang karena saking kuat nya ia memukul Austin justru malah tangan nya yang sakit dan membuat nya hilang keseimbangan, Austin yang melihat itu dengan sigap menahan tubuh nona nya yang akan terjatuh dan menarik nya hingga wajah mereka berdekatan, bahkan sangat dekat, dengan wajah terkejut Cessa segera mendorong Austin menjauh saat ia menyadari bahwa dirinya dan Austin telah menjadi pusat perhatian, Austin pun segera melepas tangan nya dari pinggang ramping nona nya itu, sekilas ia melihat rona merah di pipi nona nya itu, "lucu" pikirnya.


Saat masih menunggu barang-barang yang sedang di scan satu persatu, tiba-tiba ada sepasang suami istri parubaya dibelakang antrian mereka berbicara, "Nak, jangan galak-galak kepada suami mu, laki-laki memang suka seperti itu, menyebalkan tapi percayalah itu adalah salah satu bentuk perhatian nya kepadamu," ucap wanita paru baya itu sambil tersenyum kearah Cessa, Cessa yang mendapat ucapan seperti itu bingung harus menjawab apa, karena jelas ia jengkel kepada Austin yang kurang ajar yang notabene nya adalah bodyguard nya bukan suami nya , namun seperti nya tindakan nya di salah pahami oleh orang lain, bahkan hubungan nya pun disalah pahami oleh orang lain.


Austin yang melihat nona nya kebingungan langsung meraih pinggang nona nya itu yang sudah jelas ia ketahui akan menambah rasa kesal nona nya, namun entah kenapa ia sangat suka melihat wajah kesal nona nya apalagi itu adalah karena kejahilan nya, " Istri saya memang terlihat galak di luar namun dia sangat baik dan saya beruntung memiliki nya," jawab Austin yang masih mengeratkan pegangan nya di pinggang nona nya, dari sudut matanya ia bisa merasakan tatapan tajam dari nona nya itu, sebisa mungkin ia menahan mulut nya agar tidak tersenyum.


"Aahhh.. lihat lah mereka suami ku, mereka mengingatkan ku dengan kita saat masih muda," ujar wanita paruhbaya itu kearah suami nya dengan antusias dan suami nya pun hanya tersenyum seakan menyetujui ucapan istri nya tersebut, terlihat mereka saling mencintai dari tatapan mereka berdua, yang tanpa sadar membuat Cessa menatap pasangan tersebut dengan lekat, akankah ia juga bisa menemukan orang yang bisa menerima kekurangan dan kelebihan nya dan menemani nya hingga maut memisahkan mereka.


"Semoga kalian bisa tetap bersama hingga tua dan maut memisahkan," Ucap tulus wanita paruhbaya tersebut sambil tersenyum yang menyadarkan Cessa dari lamunan nya yang sedang memandang kearah pasangan tersebut, dan mengulas senyum sopan nya ke arah wanita tersebut.


"Terima kasih, kalau begitu kami pamit," Ucap Austin yang langsung melepas tangan nya dari pinggang nona nya dan mengambil barang-barang mereka, Cessa pun juga ikut berpamitan dan terlebih dahulu pergi kearah mobil mereka, entah kenapa rasa kesal nya menguap terganti dengan rasa aneh saat mengingat perkataan wanita paruhbaya tersebut, ia juga meng aminkan ucapan wanita tersebut walaupun jelas bukan dengan Austin.


Bicara tentang Austin bodyguard nya itu benar-benar membuat nya naik darah, apa-apa an tadi membuat nya kesal, tidak berkutik, lalu berpura-pura menjadi pasangan suami istri yang harmonis, benar-benar menyebalkan.


Saat Austin masuk kedalam mobil setelah meletak kan barang-barang ke bagasi, ia langsung disambut dengan tatapan tajam nona nya itu, Austin yang melihat itu dengan santai memakai seatbelt nya dan melajukan mobil mereka, "kau tidak merasa melakukan kesalahan Austin?" Tanya Cessa jengkel karena melihat sikap santai bodyguard nya itu, " Aku tidak merasa melakukan kesalahan Cessa, aku hanya membantu mu untuk mengatasi persepsi orang-orang" jawab Austin santai.


"Kau itu benar-benar pintar berkata-kata," Ucap Cessa pasrah sepertinya tenaga nya sudah terkuras karena kesal sedari tadi.


Austin yang melihat nona nya yang pasrah seperti itu membuat ia merasa sedikit keterlaluan dengan tindakan nya, "Kau boleh menyuruh ku apapun selama kita berkemah, aku akan melayani mu tuan putri," Ucap Austin tiba-tiba guna meredakan kekesalan nona nya itu.


Cessa yang mendengar itu pun mengulum senyum nya seraya menatap kearah bodyguard nya tersebut "benarkah? Baiklah kau harus menuruti segala kemauan ku Austin, jangan menarik ucapan mu,"


"Ya aku tidak akan menarik kembali perkataan ku, titah mu adalah kewajiban ku," Ucap Austin sambil memegang dada nya dengan satu tangan dan menundukan kepala nya sedikit seolah-olah seperti pelayan yang menuruti perintah tuan nya.


Cessa hanya bisa tertawa melihat perilaku Austin itu yang terlihat absurd dimata nya,


walaupun menjengkelkan bodyguard nya itu mengerti dengan baik cara meluluhkan nya.