Princess And Bodyguard

Princess And Bodyguard
Bab 24 Take off the load (Melepas Beban)



Setelah sebulan berlalu Cessa pun melupakkan kejadian yang membuat nya kepikiran,karena ke esokkan hari nya setelah ia merasakkan leher nya seperti di cekik ia sedikit menjaga jarak kembali dengan Austin karena memang dalam hati nya ia ada rasa curiga kepada Austin karena yang di mobil saat itu hanya ada ia dan Austin saja.


Namun, setelah beberapa hari ia menjaga jarak dengan Austin, Austin sama sekali tidak berubah ia tetap menjalankan tugas nya sebagai bodyguard dengan baik, walaupun ia sendiri pun sadar pasti Austin menyadari sikap nya yang berubah, tapi Austin tetap seperti biasa sehingga membuat Princessa ragu apa yang dirasakan nya itu nyata ataukah hanya mimpi. Karena yang membuat ragu adalah sifat Austin sendiri yang memang seperti tidak tahu apa-apa dan tetap menjalankan tugas nya dengan baik dan tetap menyebalkan, dan hingga akhir nya setelah sebulan berlalu ia memutuskan untuk melupakan kejadian itu dan menganggap nya hanya sebagai bunga tidur, karena ia sendiri juga bingung...


Karena kalau memang itu nyata yang di mobil saat itu hanya ada dirinya dan Austin, otomatis rasa curiga nya mengarah pada Austin, Namun saat ia mencurigai Austin yang ada dalam benak nya adalah apa maksud dan tujuan Austin, sementara ia tidak merasa pernah kenal dengan Austin sebelum nya atau pernah memiliki masalah yang serius dengan Austin. Jadi ia pun memutuskan untuk tidak memperpanjang pikiran nya itu sebelum kepala nya semakin pusing karena terus terpikir oleh nya selama sebulan ini, ia pun mulai kembali seperti biasa nya kepada Austin, walaupun di sudut hati nya masih ada sedikit rasa curiga...ya masih ada rasa curiga itu walaupun hanya sedikit.


***


Ternyata untuk membuat nona nya kembali percaya pada nya itu membutuhkan waktu yang lumayan lama, ia akui tindakan nya waktu itu memang ceroboh dan hampir menghancurkan rencana nya sendiri, tapi seperti nya saat ini nona nya itu sudah kembali percaya pada nya.


"Cessa apa kau tidak lelah?" Tanya Austin yang kini sedang menemani nona nya itu belanja, kini ia sudah kembali memanggil nona nya itu dengan sebutan yang tidak formal lagi karena sebulan kemarin ia kembali memanggil Cessa dengan sebutan 'nona' karena melihat sikap Cessa yang sedikit antipati dengan nya, walaupun tidak terlalu menonjol namun ia sadar nona nya itu berubah dan selalu menatap nya dengan tatapan yang kaget,terkadang juga menatap nya dengan tatapan yang menyelidik dan takut, ia sadar sekali walaupun nona nya itu terkadang terlihat menyembunyikan nya dan tetap terlihat biasa di depan nya tapi ia tahu nona nya itu menaruh curiga pada nya.


"Tidak sama sekali." Jawab Cessa acuh tanpa memandang Austin dan tetap fokus memilih baju di depan nya.


Austin pun hanya diam dan kembali mengikuti Cessa kemanapun, ini sudah hampir 4 jam mereka memutari mall ini dan baru beberapa belanjaan saja yang di beli oleh Cessa, entah apalagi yang mau dibeli oleh Cessa, Austin hanya menggelengkan kepala nya saat ia memikirkan kemampuan perempuan yang mampu mengelilingi mall ini berjam-jam hanya untuk belanja saja, sungguh membuang waktu pikir nya.


"Memang nya kau lelah??" Tanya Cessa pada Austin sambil memalingkan muka nya ke arah Austin.


"Tidak sama sekali." Ucap Austin membalikkan jawaban Cessa tadi dengan nada yang sama pula namun dengan ekspresi nya yang sangat menyebalkan untuk dilihat.


"Dasar peniru." Ucap Cessa sebal sambil memutar mata nya lalu pergi begitu saja dengan cepat, tanpa menghiraukan Austin yang menyusul nya dan memanggil-manggil namanya masih dengan nada yang sangat menyebalkan menurut nya.


"Ayolah Princess apa aku salah??" Tanya Austin menggoda Cessa terus menerus.


"Tidak lucu." Ucap Cessa singkat dengan tetap berjalan dengan cepat tanpa menghiraukan Austin.


"Okay..okay.. aku minta maaf." Ucap Austin lembut sambil mencekal tangan Cessa cepat sebelum nona nya itu kabur kembali meninggalkan nya.


Cessa masih belum menjawab dan hanya membiarkan tangan nya masih dalam pegangan Austin.


"Apa aku tidak di maafkan?" Tanya Austin dengan nada bersalah sambil melangkah untuk menghadap nona nya itu yang kini menampilkan mimik tanpa ekspresi sambil menatap nya, setelah sekian lama terjadi keheningan di antara mereka Cessa langsung merubah ekspresi nya menjadi senyum lembut yang sedikit membuat Austin tertegun melihat senyuman itu. "Ya aku maafkan.. aku tidak se sensitif itu, kau tahu." masih dengan senyuman nya yang membuat Austin sedikit kehilangan orientasi nya.


"Ya sudah,ayo...seperti nya aku lapar,setelah makan baru kita pulang." Ucap Cessa yang tidak menyadari perubahan Austin walaupun hanya sekejap saja, dan Austin pun kembali sadar dan ia baru menyadari bahwa tangan nya lah yang kini di pegang oleh Cessa lembut menuntun nya ke arah restauran korea yang tidak jauh dari lokasi mereka tadi.


Namun..baru saja mereka mau memasuki restauran itu, tiba-tiba ada yang memanggil Princessa dari arah belakang mereka. Cessa yang merasa namanya dipanggil langsung menoleh ke arah sumber suara yang memanggil nya itu, namun tepat saat Cessa berbalik dan melihat siapa yang memanggil nya, ia langsung terpaku diam hingga melepaskan pegangan nya dari tangan Austin, badan nya terasa kaku sulit digerakkan bahkan mulut nya pun ikut kelu tatkala melihat siapa sosok yang memanggil nya itu.


Tapi setelah ia dapat menguasai kembali pikiran dan tubuh nya Cessa langsung dengan cepat menarik Austin namun bukan untuk masuk ke restauran korea seperti tujuan awal mereka melainkan untuk segera keluar dari mall ini dan pergi sejauh-jauh nya dari orang yang tadi memanggil nya itu.


"Princess tunggu!!" Ucap orang tersebut mengejar Cessa yang ternyata adalah Luke orang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup Cessa.


"Cessa seperti nya orang itu mau bertemu denganmu, mungkin saja penting." Ucap Austin yang sebenarnya penasaran siapa orang yang mengejar Princessa itu yang bahkan Cessa sendiri tidak mau menemui nya.


"Aku tidak kenal dengan dia, jangan banyak tanya lagi.. sekarang kita pulang." Ucap Cessa cepat sambil melangkah dengan terburu-buru bahkan seperti hampir berlari.


Tapi seperti nya keinginan nya itu tidak terkabul, karena sekarang ia merasa ada yang mencekal tangan nya dan memanggil namanya dengan lembut persis seperti dulu orang itu selalu memanggil nya dengan nada yang khas seorang luke yang selalu membuat hati nya bergetar penuh kebahagian, tapi itu dulu karena saat mendengar nama nya diucap seperti itu sekarang oleh orang dari masa lalu nya itu justru berbanding terbalik dan membuat hati nya berdenyut nyeri.


Cessa bergeming saat cekalan itu berubah lembut saat Luke tahu Cessa tidak berusaha pergi lagi dari nya.


"We need to talk...Princess." Ucap Luke lembut menunggu dengan sabar agar Cessa berbalik kepada nya.


Cessa masih tetap berdiri di tempat nya tidak menoleh atau merespon ucapan Luke pada nya.


"Princess please.."


Cessa memejamkan mata nya sebentar guna mengatur hati nya agar tetap stabil dan tidak meluapkan unek-unek yang selama ini dipendam nya, karena sekali nya ia membiarkan amarah menguasai nya ia cenderung mengeluarkan kata-kata menyakitkan yang akan ia sesali setelah nya tanpa bisa memutar waktu kembali untuk menarik perkataan nya yang sudah terlanjur ia luapkan.


"Sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan...Luke." Ucap Cessa menjaga nada bicara nya agar tidak terdengar bergetar saat berbicara.


"Kau salah paham Princess." Ucap Luke yang tetap memaksa agar Cessa mendengarkan dulu penjelasan nya.


"Salah paham apa!!" Ucap Cessa geram, walaupun nada suara nya tetap ia tahan agar tidak mengundang perhatian orang yang sedang berlalu-lalang di sekitar mereka.


"Kau salah paham tentang ku, tentang kepergianku tentang segala nya."


"Aku tidak peduli, dan aku tidak butuh penjelasan darimu." Ucap Cessa dengan nada menekan di setiap kata yang terucap oleh nya, ia sudah sangat menahan saat ini dan rasa nya amarah nya hampir di ambang batas.


"Kau egois Princessa.. aku tidak tahu kau se egois itu." Ucap Luke kecewa melihat respon Cessa yang tidak ia harapkan... memang nya apa yang Luke harapkan, apa ia berharap bahwa Princess nya masih mengaharapkan nya dan mau menerima nya kembali dengan mudah.. ia sedikit menyangka respon Princess saat ini namun, ego nya sebagai lelaki yang membuat nya mengeluarkan kata-kata itu yang setelah nya ia rutuki dalam hati karena bukan nya Luke akan mendapat maaf dari Princessa justru ia telah semakin melukai Princessa dengan perkataan nya.. karena sebenar nya yang egois itu adalah dirinya bukan Princessa, wajar Princessa bersikap seperti ini pada nya."Bodoh..bodoh..bodoh." rutuk nya dalam hati.


Plakk..


"Terserah jika itu penilaian mu kepadaku..aku tidak peduli, tamparan itu hanya ucapan selamat datang dari ku, sekaligus untuk menyadarkan siapa sebenar nya yang egois." Ucap Cessa datar berbanding terbalik dengan perasaan nya yang sakit. 'kau bisa Cessa.. kau bisa...jangan perlihatkan kelemahanmu'. Setelah itu Cessa berbalik pergi dengan cepat tidak menghiraukan keadaan sekitar nya apalagi keadaan Luke, namun tepat saat ia berbalik cairan bening itu pun turun tanpa bisa ia cegah lebih lama lagi, tapi Cessa bersyukur setidak nya air mata nya tidak jatuh di depan Luke.


***


Selama dalam perjalanan menuju mansion hanya terjadi keheningan antara Cessa dan Austin, Cessa hanya terus memandang keluar jendela dalam diam tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut nya, karena selepas kejadian tadi Princessa lebih banyak diam ia hanya mengangguk atau menggeleng saja saat di tanya oleh Austin, dan Austin pun memaklumi itu dan memberikan waktu kepada Princessa untuk menenangkan dirinya sendiri.


Dan entah kenapa melihat Princessa yang seperti ini membuat Austin membawa Princessa ke tempat yang sering ia kunjungi jika ia sedang dalam keadaan 'tidak baik-baik saja' dan jika ia sedang merindukan keluarga nya, entah kenapa pikiran nya membuat dirinya membawa Princessa kesana yang bisa dibilang tempat privasi bagi nya.


Dan sepertinya Princessa menyadari bahwa jalan yang kini mereka lalui bukan arah menuju mansion nya dan entah kenapa justru membuat nya merasa tegang dan takut secara bersamaan karena semakin lama jalan yang di lalui semakin sepi dan penuh dengan pepohonan seperti mengarah ke arah hutan yang lebat, dan itu semakin membuat Cessa di landa ketakutan, rasa curiga nya muncul kembali dan pikiran negatif nya kini memenuhi otak nya.



"Nanti juga akan tahu." Ucap Austin misterius masih dengan tatapan yang tetap tertuju kedepan.


"Aku ingin pulang Austin... sekarang." Tekan Cessa kepada Austin bahwa dirinya kini hanya butuh pulang ke mansion nya untuk menenangkan pikiran dan hati nya.


"Sebentar lagi juga sampai, kau pasti akan menikmati nya." Ucap Austin yang dibalas kernyitan oleh Princessa karena kini kebingungan memenuhi otak nya 'sebenarnya mau dibawa kemana dirinya oleh Austin'


Setelah menempuh perjalanan yang menurut nya lumayan jauh akhir nya Austin memberhentikan mobil nya. sepertinya sudah sampai pikir Cessa jadi saat Austin turun dari mobil ia pun segera mengikuti Austin.


"Dimana ini?" Tanya Cessa penasaran.


"Disini biasa aku menenangkan diri, dan seperti nya saat ini kau sedang membutuhkan nya." Ucap Austin sembari menatap raut wajah Cessa yang kini terlihat sedikit terkejut tertangkap oleh indera penglihatan nya.


"Ayo... karena bukan disini tempat nya" Lanjut Austin yang segera berlalu dari hadapan Cessa, Cessa yang memang tidak mengenal tempat berpijak nya kali ini segera mengikuti Austin dan berusaha menekan rasa curiga,takut dan pikiran negatif lain nya untuk memasrahkan dan percaya sepenuh nya kepada Austin.


"Apa masih jauh?" Tanya Cessa yang kini sudah di landa rasa lelah menyerang tubuh nya entah karena suasana hati nya sehingga mempengaruhi fisik nya atau tidak, karena mereka berjalan memang belum terlalu jauh.


"Apa kau kelelahan?" Tanya Austin berbalik kebelakang ke arah Cessa berada.


"Lumayan." Ucap Cessa singkat. Austin pun segera menghampiri Cessa dan segera berjongkok di depan Cessa memberi isyarat kepada Cessa untuk menaiki punggung nya.


"Tidak usah.. aku masih bisa berjalan sendiri." Ucap Cessa menolak, karena sebenar nya ia masih menaruh curiga pada Austin namun kini ia dihadapkan di situasi yang membuat nya tidak bisa menolak untuk mengikuti Austin.


"Apa kau memang sekeras kepala itu." Ucap Austin terselip nada sedikit kesal dalam ucapan nya, "Cepat" sambil menoleh kan kepala nya ke arah Cessa.


Cessa dengan cepat berlalu mendahului Austin dan tidak menghiraukan tawaran Austin padanya."Kemana arah nya apa masih lurus terus" Tanya Cessa yang kini sudah berada di depan Austin, Austin yang melihat tawaran nya tidak dihiraukan itu segera berdiri dan menyusul Cessa lalu...


Grep.. Austin segera menggendong Cessa ala bridal style


Cessa yang tidak menyangka bahwa Austin akan menggendong nya seperti ini segera memberontak "Yakk.. apa yang kau lakukan, cepat turunkan aku."


Austin yang memang sudah menduga 'nona' nya itu akan berontak segera mengeratkan gendongan nya pada Cessa.


"Sudah.. jangan banyak protes, semakin kau keras kepala semakin lama kita sampai." Ucap Austin tegas lalu segera melangkahkan kaki nya untuk ketempat yang ia tuju.


Cessa pun langsung bungkam saat mendengar nada tegas Austin padanya, entah kenapa sekarang ia merasa menjadi jauh lebih penurut kepada Austin dibanding saat mereka pertama bertemu, sudah seperti kucing dan anjing saja.


"Wowww..." Ucap Cessa takjub melihat pemandangan yang tersaji di depan nya.


ia tidak pernah tahu tempat ini, karena yang ia tahu hanya tempat-tempat yang terkenal saja. Belum lagi ia tidak bisa pergi begitu saja sesuka hati nya karena selama hidup nya Cessa harus selalu di dampingi bodyguard, baru saat ia beranjak dewasa ia sedikit dibebaskan oleh kedua orang tua nya. Dan sekarang...melihat pemandangan di depan nya ini yang tidak pernah ia ketahui sebelum nya tetapi letak nya tidak terlalu jauh dari tempat nya tinggal rasa nya ia merasa sangat takjub karena ia bisa sering kesini nanti pikir nya.



" Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?" Tanya Cessa penasaran, seperti nya kini ia telah melupakan rasa curiga dan ketakutan nya pada Austin karena terlalu teralihkan oleh pemandangan di depan nya.


"Tentu saja dengan menjelajah, makanya jangan seperti Princess Rapunzel, sekali-kali menjelajah lah keluar, bumi ini luas kau tahu." Jawab Austin


"Aku juga ingin seperti itu kau tahu, memang nya aku suka seperti Princess Rapunzel." Ucap Cessa sedikit kesal.


"Ya sudah...kau bebas melepas bebanmu disini, terserah apa yang mau kau lakukan." Ucap Austin.


"Hmm.. aku mau.. aku mau menginap disini." Ucap Cessa enteng.


"Apa??" apa Austin tidak salah dengar nona nya yang terlihat manja ini mau berkemah disini?


"Kenapa??aahh.. iya kita tidak punya perlengkapan nya." Ucap Cessa terlihat sedih di wajah nya saat sadar bahwa mereka kesini karena mendadak dan tidak ada persiapan apapun sebelum nya."Padahal aku ingin sekali." Ucap Cessa lirih tapi masih mampu di dengar oleh Austin keinginan Cessa itu.


"Sebenar nya tidak jauh dari sini ada kota, seperti nya kita bisa membeli nya disana."


"Benarkah?" Ucap Cessa berbinar menatap Austin. "Ya sudah ayo tunggu apa lagi."Lanjut Cessa menarik tangan Austin menuju mobil.


"Sebenar nya siapa tadi yang kelelahan sampai di gendong segala." Ucap Austin menyindir.


"Aku tidak meminta di gendong, kau saja yang inisiatif, bahkan aku sempat menolak tapi kau yang memaksa." Ucap Cessa membela dirinya.


Austin yang mendengar jawaban Cessa hanya mampu menggelengkan kepala nya saja dan segera menyusul nona nya itu yang sudah berjalan jauh di depan nya, nona nya itu ternyata pintar juga masih mengingat jalan menuju mobil mereka yang terparkir cukup jauh.


"Ooohh.. iya Austin." Ucap Cessa tiba-tiba berbalik ke arah Austin.


"Terima kasih." Ucap Cessa sambil tersenyum manis. Dan lagi-lagi Austin tertegun untuk kedua kali nya melihat senyuman nona nya itu.


"Ahh.. sama-sama." Ucap Austin singkat saat dirinya sudah dapat menguasai kembali tubuh nya.


Bagaimana part ini, semoga masih ada yang baca dan maaf jarang banget update.. jangan lupa voment nya yah.. 🤗🤗🤗