
Maaf yang sebelum nya aku hapus ada beberapa kesalahan jadi aku hapus lagi bab ini untuk di revisi, dan sekarang udah beres.😉
Happy Reading..
•
•
•
🤗🤗🤗
Cessa saat ini sedang berjalan di koridor kampus dengan Austin yang memegang pinggang nya lembut menuju kelas mereka yang sebentar lagi akan dimulai, setelah sesi ia melampiaskan perasaan nya di depan Austin hingga memeluk Austin ia merasa mulai bisa terbuka dan dapat menerima Austin sebagai bodyguard nya yang akan selalu mengikuti dan melindungi nya, terlihat dari Cessa yang saat ini sedang mengobrol santai dengan Austin bahkan sampai membuat Cessa tertawa pelan.
"Kau cantik Cessa kalau tersenyum seperti itu" celetuk Austin tiba-tiba, yang membuat Cessa tanpa sadar membeku mendengar perkataan Austin padanya itu"benarkah..memang nya selama ini aku tidak pernah tertawa apa?" Tanya Cessa pada Austin yang saat ini sedang menatap nya lekat, yang dibalas oleh Cessa tak kalah lekat.
"Suka.. tapi jarang sekali, apalagi jika kau sedang bersama ku, seperti nya hitungan jari aku melihatmu tersenyum atau mungkin tidak pernah" ucap Austin yang terlihat sedang mengingat-ingat apakah Cessa pernah tersenyum padanya atau tidak selama ia bekerja dengan nya.
"Benarkah, mungkin memang respon alami ku seperti itu saat berhadapan dengan orang yang baru ku kenal, di tambah lagi kau itu dulu sangat menyebalkan... Datang-datang sudah langsung mengatur ku, ya jelas kau adalah salah satu orang yang menyebalkan dalam kamus ku" ucap Cessa memberi alasan.
"Tapi sekarang kau sudah menghapus title 'menyebalkan' untukku kan di kamus mu?" Tanya Austin menatap Cessa dengan pandangan yang menyelidik, mendapat tatapan seperti itu dari bodyguard nya membuat Cessa terkekeh geli melihat nya, ia seperti melihat tatapan daddy nya saat menginterogasi nya dan itu lucu menurut nya.
"Bagaimana yaahhh..." ucap Cessa menggoda Austin yang saat ini terlihat menunggu jawaban dari nya.
"Nona saya serius.." ucap Austin yang merubah kembali kata-kata nya menjadi formal.
"Kau ini tidak bisa yahh diajak bercanda sedikit.. tentu saja sudah ku hapuskan, dasar tidak peka...dengan aku yang mulai terbuka kepadamu itu sudah menandakan bahwa aku sudah tidak menganggap mu orang yang menyebalkan lagi" ucap Cessa gemas yang mendengar Austin yang seperti nya sedikit marah padanya saat mendengar ucapan Austin yang kembali formal padanya.
"Ya baguslah kalau kau sudah menerima ku dan sudah tidak menganggap ku orang yang 'menyebalkan' lagi di kamus mu" ucap Austin yang kembali menekan kata menyebalkan itu guna memastikan kalau Cessa benar-benar sudah tidak menganggap nya menyebalkan.
"Iya Austin... Justru seperti nya kau yang jarang tersenyum" ucap Cessa yang memang menyadari kalau Austin itu memiliki ekspresi yang sedikit kaku, tidak tapi sangat kaku...tapi ia pernah sekali melihat Austin tersenyum, itu pun senyum formalitas saja bukan jenis senyuman yang lepas, yang memang dari hati.
"Aku memang seperti ini, entahlah aku sudah terbiasa seperti ini" ucap Austin santai, mendengar jawaban Austin yang seperti itu membuat nya sedikit.. bagaimana menjelaskan nya yahh.. entahlah yang jelas jawaban Austin itu membuat nya tak terduga.. ia menemukan orang yang memang terbiasa tidak tersenyum, apakah memang tuntutan pekerjaan Austin yang serius atau memang ada faktor lain yang membuat Austin seperti itu, dan itu membuat Cessa penasaran.
"Kau tidak terbiasa tersenyum?kenapa?" Tanya Cessa yang penasaran dengan jawaban Austin, ia menunggu sambil menatap Austin intens, menunggu-nunggu jawaban apa yang keluar dari mulut Austin.
Austin tidak lantas langsung menjawab pertanyaan nona nya itu yang di ajukan padanya, ia tidak mau membuka alasan nya kenapa ia tidak pernah tersenyum disamping memang kehidupan yang dijalani nya keras, namun faktor utama ia jarang sekali tersenyum adalah semenjak kepergian ibu dan adik nya yang tragis, mimik wajah nya langsung berubah saat mengingat ibu dan adik nya, tapi Austin segera menepis pikiran nya yang mulai di kuasai dendam, ia masih harus bersabar "Cessa seperti nya kita harus sedikit cepat, kau lihat itu Mrs. Sissy, kau tidak mau kan hukuman mu bertambah" Cessa langsung mengalihkan tatapan nya ke arah yang di tunjuk Austin dan memang benar dari jauh ia melihat Mrs.Sissy sedang berjalan menuju kelas nya "kau benar ayo kita cepat." Ucap Cessa yang saat ini sudah berjalan mendahului Austin, walaupun dengan jalan yang sedikit pincang.
Austin pun mengikuti Cessa yang jalan mendahului nya, dan kembali membantu nona nya itu berjalan menuju kelas mereka sebelum Mrs.Sissy mendahului mereka berdua, untung ia bisa mengelak dari pertanyaan nona nya itu padanya, Austin tidak mau membahas itu dulu, ternyata walaupun ia sudah melatih dirinya sendiri untuk tetap berkepala dingin...tetap jika dihadapkan dengan 'pembunuh' ibu dan adik nya itu rasa sakit,amarah,dendam semua nya tetap menguasai nya, rasa nya ia ingin cepat-cepat melaksanakan rencana nya terhadap keluarga Llyod terutama Princessa, tapi tetap ia jangan gegabah ia harus tetap berkepala dingin sampai saat ia membalaskan dendam nya, semua nya dapat berjalan dengan maksimal.
***
"Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau, Sekarang suruh anak buah mu untuk jangan meneror ku dan keluargaku!!" ucap salah satu orang yang terlihat sekali menahan emosi di wajah nya, orang yang dituju nya hanya diam tak menghiraukan nya sambil menikmati minuman nya tanpa menoleh ke arah nya sama sekali.
"Mr.K ku harap kau menepati janji mu, aku tidak akan membocorkan rahasia ini kepada siapa pun, aku bahkan melanggar kode etik ku, jadi kuharap anda jangan menggangguku dan keluarga ku lagi" ucap orang itu kembali mengulang permintaan nya dengan bicara baik-baik dengan Mr.K ini. Ia tahu ia sedang berhadapan dengan siapa dan ia hanya bisa menghela napas pasrah dan sangat menyesali pertemuan nya yang tidak disengaja dengan Mr.K ini yang membuat nya terlibat dan melanggar kode etik nya sendiri sebagai dokter.
"Kau tenang saja Alec, aku bukan orang yang tidak menepati janji ku, asal kau juga menepati janji mu" ucap Mr.K tanpa menoleh sama sekali pada Alec dan masih menikmati waktu santai nya.
"Ya Mr.K aku akan menepati janji ku, kalau begitu saya permisi" ucap Alec lalu berlalu pergi tanpa mau berlama-lama dalam satu ruangan dengan Mr.K.
"Kuharap kau menjalankan sisa nya dengan baik Austin" ucap Mr.K dalam hati sambil menyeringai senang lalu menyesap minuman nya dengan tenang.
***
"Cessa aku duluan yahh" ucap Aquila.
"Ya aku juga.. maaf ga bisa nemenin kamu" lanjut Bella.
"Ya ga apa-apa kalian juga kan emang ada acara.. lagian kalian pasti di cuekin oleh ku, karena aku ingin segera menyelesaikan hukuman ini" ucap Cessa sambil menunjukkan beberapa dokumen lagi yang tersisa.
"Baiklah kita pulang dulu, take care" ucap Bella dan Aquila melambaikan tangan nya ke arah Cessa. Lalu mereka pun keluar menyisakan Cessa dan Austin, Austin saat ini hanya diam melihat Cessa yang sangat fokus mengerjakan tugas nya, seperti nya nona nya itu berniat untuk menyelesaikan semua hukuman ini secepat nya, terlihat dari tangan nya yang lincah dengan cepat menari di atas keyboard dan sesekali terlihat ekspresi kesal di wajah nona nya itu, terkadang senyum puas terpatri di wajah cantik nya, yang membuat Austin tersenyum tipis melihat nya nyaris tak terlihat.
"Aahhh..tangan ku kram" ucap Cessa meringis sambil memegang tangan nya yang kram.
"Sini tanganmu" ucap Austin sambil memberi isyarat meminta dengan menyodorkan tangan nya ke arah Cessa. Cessa yang melihat itu dengan ragu meletakkan tangan nya di atas tangan Austin dengan pelan karena rasa kram yang di rasa nya. Hingga sedikit membuat nya meringis.
Cessa yang melihat Austin yang sedang fokus dengan tangan nya tanpa sadar terus menatap nya bahkan sepertinya ia sudah tidak merasakan sakit, saking fokus nya ia menatap Austin yang sedang menyembuhkan kram nya.
"Dulu aku sering merasa kram, karena tubuh ku masih terasa kaku dan tidak biasa melakukan olah fisik yang terlalu berat dan tidak ada yang bisa kumintai tolong, jadi aku suka melakukan ini sendiri" ucap Austin tiba-tiba, namun tatapan nya masih fokus pada tangan Cessa tanpa melihat ke arah Cessa secara langsung.
Cessa yang mendengar itu merasa sedikit iba dengan bodyguard nya ini, apakah dulu bodyguard nya ini memiliki kehidupan yang keras?di tambah lagi kehilangan keluarga yang di cintai nya... kalau ia yang merasakan itu entah apakah ia akan kuat atau tidak jika kehilangan mom dan daddy nya. Seperti nya ia tidak akan kuat karena mom dan daddy nya lah kekuatan nya.
"Sudah lebih baik?" Ucap Austin mengangkat kepala nya yang langsung bertatapan dengan mata Cessa. Cessa yang tidak siap pun langsung tergeragap saat mata nya bertemu dengan mata sekelam malam itu. Ia pun dengan segera mengalihkan tatapan nya kebawah."ya sudah lebih baik, terima kasih" ucap Cessa lirih tanpa melihat ke arah Austin, lalu ia sedikit menggerakkan tangan nya yang kram tadi untuk memastikan bahwa tangan nya sudah baik-baik saja.
"Hmm..ya sudah aku akan melanjutkan tugas ku lagi" ucap Cessa langsung kembali berkutat dengan tugas nya, dan juga untuk mengalihkan rasa gugup nya tadi.
"Mau kubantu?" Tanya Austin.
"Tidak perlu...sebentar lagi juga sudah selesai" ucap Cessa tanpa melihat ke arah Austin, dan tetap fokus dengan pekerjaan nya.
"Baiklah, aku mau ke kantin beli makan siang untuk mu, sekarang sudah jam 3 tapi kau belum makan siang, mau beli apa?" Tanya Austin.
Austin pun berlalu menuju kantin untuk membeli makan siang untuk nona nya itu, sekalian untuk nya karena ia pun belum makan sedari tadi.
Saat Austin sedang berjalan menuju kantin ia melihat orang yang ia curigai memiliki dendam yang sama dengan nya, namun ia pun masih belum pasti, Austin sebenar nya baru tahu kalau orang itu satu jurusan dengan nya dan Cessa saat dirinya pertama kali masuk menjadi murid baru, dan itu semakin menambah kecurigaan nya sebenarnya, namun ia masih diam saja menunggu orang itu yang memulai. Ia pun tetap melanjutkan jalan nya dengan santai dan tak menghiraukan orang asing itu yang kini berjalan saling berlawanan arah dengan nya.
Tapi seperti nya orang ini ingin memulai percakapan dengan nya, karena saat jarak Austin dan orang itu dekat dan berdampingan orang itu membisikan padanya bahwa ia perlu berbicara dengan dirinya. Austin pun meng iyakan ajakan orang itu.
Dan disini lah ia berada yang seharus nya ia di kantin memesan makanan untuk nona nya, namun sekarang ia malah sedang berada di tempat yang bisa dibilang sepi jauh dari keramaian, untuk mendengar kan apa yang akan orang itu bicarakan dengan nya.
"Sebelum nya perkenalkan namaku Johnny."
"Tidak perlu berbasa basi, apa yang mau kau bicarakan?" Tanya Austin to the point.
Johnny pun hanya tersenyum santai mendengar respon yang seperti itu.
"Baiklah sebenarnya aku sudah tahu siapa nama mu, kau Austin Gail Durrant, seorang bodyguard dari seorang putri konglomerat Princessa Camelia Llyod, dan kau memiliki ibu dan satu adik yang telah meninggal dalam kecelakaan apakah aku benar?" Tanya Johnny santai ingin melihat respon atau sedikit saja perubahan ekspresi dari wajah Austin, tapi seperti nya tidak sesuai harapan nya, ia sama sekali tidak melihat perubahan apapun di wajah Austin, bahkan Austin hanya menanggapi nya dengan santai.
"Apa maksud mu?" Tanya Austin dingin.
"Kau tidak perlu tahu maksud ku, aku hanya ingin tahu apakah yang kusebut tadi benar ada nya atau tidak" ucap Johnny yang belum menyerah untuk mengorek informasi dari Austin.
"Kau mengajakku kesini hanya untuk berbicara hal yang tidak penting seperti ini?" Tanya Austin, terlihat ekspresi nya yang menampakkan kebosanan dengan pembicaraan ini, yang membuat Johnny sedikit ragu dengan informasi yang ia dapatkan.
"Baiklah..aku akan to the point, tujuan ku sebenar nya aku ingin..."
"Austin!!" Panggil Juliet memotong ucapan Johnny. Johnny yang melihat orang itu menghampiri nya dan Austin tanpa berpamitan pada Austin langsung pergi begitu saja. Juliet yang melihat orang yang bersama Austin langsung pergi saat ia memanggil Austin merasa sedikit aneh, memang nya ia menakutkan? pikir nya dalam hati.
"Teman mu aneh" ucap Juliet saat sudah sampai di depan Austin tapi tatapan nya masih melihat teman Austin yang pergi.
"Ada apa nona Juliet?" Tanya Austin mengalihkan fokus Juliet agar tidak memikirkan tentang Johnny yang tiba-tiba pergi saat Juliet memanggilnya, takut nya ini menimbulkan kecurigaan di benak Juliet.
"Oohh..iya Princessa masih di ruangan Mrs.Sissy?" Tanya Juliet pada Austin.
"Ya nona, nona Princessa masih di ruangan Mrs.Sissy, nona mau kesana?"
"Ya aku mau kesana, kau mau kemana sekarang?"
"Saya mau ke kantin nona membeli makan untuk nona Princessa"
"Bolehkah aku nitip sesuatu, belikan aku makanan yahh.. apa saja terserah"
"Baik nona, kalau begitu saya ke kantin dulu" Juliet hanya mengangguk, Austin pun segera pergi dari situ.
Austin sempat menoleh kembali ke arah Juliet yang kini sudah pergi untuk menghampiri nona nya, sebenar nya ia penasaran apa yang akan dikatakan Johnny padanya, yang tadi sempat terpotong dengan kedatangan Juliet.
Haahh.. mungkin nanti ia akan tahu, ia tidak mau terlalu memikirkan ucapan Johnny apalagi johnny tau bahwa ia memiliki ibu dan adik yang meninggal akibat kecelakaan. Untuk saat ini fokus nya adalah untuk mendapat kepercayaan Princessa sepenuh nya.
***
"Princessa!!" Ucap Juliet mengagetkan Cessa yang sedang fokus dengan dokumen.
"Juliiiettt.." jawab Cessa kesal karena dikagetkan seperti itu.
Sambil memberi tatapan kesal nya ke arah Juliet yang saat ini sedang tersenyum tanpa dosa ke arah nya.
"Sorry...habis kamu serius banget"
"Iya aku pingin cepet beres nyelesai in hukuman ini, udah mulai bosen ngerjain dokumen-dokumen ini" ucap Cessa sambil membalikan lembar dokumen dengan kesal.
"Sabar yahh Princess..cari gara-gara sih sama Mrs.Sissy jadi kaya gini kan"
"Haahh.. sudahlah aku mau membereskan ini dulu" ucap Cessa yang kembali fokus dengan tugas nya.
"Lanjut aja.. aku temenin disini, ohh..iya tadi aku sempat ketemu Austin lagi ngobrol sama teman nya gitu... Tapi saat aku panggil Austin teman nya itu tiba-tiba langsung pergi gitu aja, emang aku monster apa, pas aku panggil teman nya itu langsung kabur kaya gitu?" Ucap Juliet yang sedikit kesal dengan teman Austin tadi.
"Teman?" Ucap Cessa sedikit aneh, karena setahu nya Austin memang belum dekat dengan siapa pun selama ia masuk kampus. Ia tahu karena Austin selalu disamping nya selama di kampus, jadi kalau Austin dekat dengan seseorang pasti ia akan tahu.
"Setahuku Austin belum punya teman" jawab Cessa melihat ke arah Juliet.
"Tapi aku yakin...soal nya mereka kelihatan sedang ngobrol serius gitu, dan pakaian teman nya juga seperti mahasiswa biasa"
"Entahlah.. ya mungkin teman nya" ucap Cessa yang tidak terlalu penasaran lagi, toh ga ada hubungan nya dengan nya.
"Iya kali yahh.." ucap Juliet mengangkat bahu nya tidak peduli.
Jangan lupa vote dan komen nya yah..
🤗🤗🤗