Princess And Bodyguard

Princess And Bodyguard
Bab 20 Little Hope (harapan kecil)



Happy reading





🤗🤗🤗


"Princessa ada apa?" Tanya dokter tersebut yang masih kerabat dekat daddy nya.


"Sepertinya terkilir paman Ren" jawab Cessa sambil memperlihatkan kaki nya yang kini terlihat sedikit bengkak


"Bagaimana bisa seperti ini Cessa?" tanya paman Ren sambil memeriksa kaki Cessa apakah cedera nya parah atau tidak.


Cessa hanya tertawa tanpa dosa saat mendengar pertanyaan paman Ren"aku terjatuh paman Ren,baru saja tadi di tangga"


"Kau ini seperti anak kecil saja,terjatuh di tangga sampai seperti ini,untung tidak terlalu parah,tapi sepertinya butuh waktu satu,dua hari untuk bisa berjalan seperti biasa,paman akan memberikan salep dan obat...nanti kamu bisa suruh pelayan kamu untuk tebus obat nya di apotik,lain kali hati-hati Cessa kamu itu seperti tidak tahu saja orang tua mu seperti apa"


"Hehe..iya paman aku akan hati-hati,terima kasih paman Ren"


"Iya sama-sama,paman langsung pulang yah..masih ada yang harus dikerjakan" ucap paman Ren sambil mengacak rambut Cessa kecil layaknya ayah kepada putri nya "iya paman Ren hati-hati, maaf aku tidak bisa antar ke depan" jawab Cessa


"Iya,cepat sembuh little Princess" ucap paman Ren lalu beranjak pergi keluar kamar Cessa.


Cessa segera memencet tombol yang dihubungkan ke ruangan pelayan dan memberitahukan pelayan yang sedang ada disana untuk segera ke kamar nya.


Tokk..tokkkk..


"Masuk" ucap Cessa yang masih fokus dengan hp nya


"Ada apa nona?" ucap pelayan itu sopan


"Tebus obat ini" ucap Cessa singkat pada pelayan tersebut sambil memberikan resep yang diberikan paman Ren pada nya tadi.


"Baik nona" ucap pelayan tersebut mengambil resep yang diberikan Cessa padanya,lalu pergi keluar segera.


Cessa pun kembali fokus ke hp nya berselancar di dunia maya melihat-lihat hal apa saja yang update di sekitar nya ataupun dunia.


Saat ia masih asyik dengan hp nya tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka,dan ia melihat daddy nya lah yang membuka nya.


"Hai dad" ucap Cessa menyapa daddy nya itu yang terlihat sekali langsung ke kamar nya setelah pulang kantor,ia bertaruh daddy nya itu pasti sudah tahu apa yang terjadi padanya dari paman Ren.


"Kenapa bisa seperti ini sayang?" tanpa menjawab sapaan putri nya,bahkan james langsung memeriksa kaki Cessa yang saat ini terlihat semakin membengkak.


"Aku terjatuh dad..tadi di tangga" jawab Cessa santai,orang tua nya ini terkadang berlebihan sekali jika dirinya itu terluka... sekalipun luka itu tidak seberapa.


"Lain kali hati-hati honey.. dimana Austin saat itu,apakah dia tidak menjagamu?"


"Seperti nya ngasih kunci mobil ke pelayan dad,soal nya ga lama Austin nyusul aku."


"Seharus nya ia bisa menjagamu,hal seperti ini saja ia tidak bisa" geram james saat melihat kaki putri nya yang terlihat bengkak


"Oohh..please dad memang nya Austin itu bisa ber teleportasi apa, bisa pindah sana-sini dengan cepat" sambil memutar mata nya kesal.


"Ya tapi.."


"Sudah lah dad,jangan diperpanjang,aku ga apa-apa kok.. ini semua gara-gara kecerobohan Princess sendiri,ga ada sangkut paut nya sama Austin" ucap Cessa


"Ya sudah daddy tidak akan menyalahkan Austin lagi,daddy senang sepertinya anak daddy ini sudah bisa menerima Austin" ucap james menyubit pipi putri nya gemas


"Iihh..daddy sakit.. Maksud daddy apasih?" tanya Cessa melepaskan tangan james yang mencubit pipi nya itu dengan kesal,Cessa kebingungan maksud dari pernyataan daddy nya itu apa.


"Ya.. karena kamu itu jarang sekali membela seseorang sayang daddy tahu itu,dan sekarang jelas kamu membela Austin"


"Apasih dad aku bukan membela Austin,memang ini semua gara-gara kecerobohan ku" ucap Cessa keras kepala yang baru ia sadari bahwa kata-kata nya tadi itu terkesan membela Austin atau memang ia membela Austin..hahh ia tidak tahu tapi yang jelas ia tidak mau terkesan membela Austin,karena benar yang daddy nya katakan tadi ia cenderung jarang membela seseorang sekalipun seseorang itu tidak bersalah ia lebih memilih diam tidak berkomentar apapun, kecuali seseorang itu adalah orang yang ia anggap penting,tapi ini Austin yang notabene nya adalah orang yang baru ia kenal dan hubungan nya dengan Austin pun terkesan tidak baik,ia tidak tahu yang jelas kata-kata itu meluncur dengan sendiri nya tanpa ia cerna terlebih dulu bahwa kalimat nya itu terkesan membela Austin dan kini daddy nya itu salah paham dengan maksud nya... menyangka bahwa dirinya sudah menerima Austin padahal sebenarnya ia masih belum terima sepenuhnya.


"Iya..iya.. daddy percaya,terus obat nya udah kamu tebus?" tanya james sambil menatap putri nya itu.


"Sudah dad baru saja aku menyuruh pelayan menebus nya"


"Ya sudah besok kamu jangan ke kampus dulu saja."


"Ga mau dad.. aku baru aja masuk kampus masa udah ga masuk lagi sih" protes Cessa pada daddy nya itu.


"Memang nya kamu bisa jalan dengan kaki seperti itu?"


"Bisa dad..lagian kan sudah beli obat,please ya dad.. aku bosan kalau di mansion"


"Ya sudah kalau besok kamu sudah merasa baikan daddy izin kan,tapi... Kalau sampai daddy lihat kamu terlalu memaksakkan diri...daddy ga izin in kamu ngampus dulu ngerti??"


"Ya dad..aku ngerti,udah ahh daddy cepatan sana mandi,bau tahu.." ucap Cessa mendorong daddy nya itu yang kini sedang duduk di kasur nya,sambil menutup hidung nya untuk menggoda daddy nya itu.


"Oohh.. udah mulai berani ngatain daddy yahhh.." sambil melotot ke arah Cessa


"Hehe..peace dad" ucap Cessa sambil tertawa melihat ekspersi daddy nya itu yang terlihat lucu.


"Ya sudah daddy ke kamar dulu sayang,kamu istirahat,mommy bentar lagi pulang katanya"


"Ya dad.."


***


Disisi lain Austin yang melihat interaksi ayah dan anak itu lewat CCTV terus menatap nya intens. Ternyata kau sangat dekat dengan putri mu ya james.. kita lihat apakah kau masih bisa bercanda seperti itu lagi dengan putri mu..we'll see aku sudah tidak sabar menunggu detik-detik keluarga kalian hancur...


"Austin.."panggil rekan nya pada Austin yang kini telah berbalik ke arah rekan nya itu dengan tatapan bertanya tanpa menjawab panggilan rekan nya itu.


"Sepertinya kamu harus kembali ke kamar nona,untuk membantu nya,kau tahu kan hanya kau yang bisa 'menaklukan' nona Princessa" ucap rekan nya itu yang bernama Martin.


"Dasar memang nya semenakutkan apa..nona hanya gadis biasa tidak semenakutkan itu"ucap Austin santai


"Kau itu orang baru tapi bisa se sabar itu menghadapi nona,kita saja yang sudah lumayan lama kerja disini,terkadang jengkel dengan sikap nona,yahh.. kalau bukan tuntutan pekerjaan aku sudah sangat kesal dengan kelakuan nona" keluh Martin pada Austin


"Haha..kau ini aku tidak se sabar itu,sudahlah.. aku akan ke kamar nona,sepertinya nona kesusahan,lihat" ucap Austin sambil menunjuk ke arah CCTV kamar Princessa.


"Ya kau benar" sahut Martin saat melihat Princessa yang kini sedang kesusahan untuk  turun dari kasur.


Austin pun segera pergi menuju kamar Princessa,tak lupa ia mengetuk pintu terlebih dahulu,setelah ia mendengar sahutan dari Princessa yang mengizinkan nya untuk masuk ia pun segera masuk dan melihat nona nya yang tengah berdiri bertumpu pada satu kaki nya,terlihat sekali nona nya saat ini sangat kesusahan dan meringis kesakitan.


"Sini nona biar saya bantu" ucap Austin segera menghampiri Princessa.


"Anda mau kemana nona?"


"Aku mau ke kamar mandi" ucap Princessa,sebenar nya Princessa merasa malu dengan kondisi nya saat ini yang tak berdaya dan butuh bantuan bodyguard nya ini.


"Kenapa nona tidak memanggil saya,nomor saya sudah tersimpan kan di panggilan cepat handphone nona.."


"Baiklah,jangan segan-segan pada saya nona apapun yang nona minta sebisa saya,saya akan lakukan"


"Benarkah?"


"Ya asal itu masih masuk akal dan tidak melanggar perjanjian kontrak kerja saya dengan Tn.James,saya akan penuhi"


"Baiklah aku pegang janji mu Austin,aku akan ingat ini terus"


"Suatu kehormatan bagi saya nona"


"Sudahlah jangan terlalu formal padaku,mulai sekarang jangan panggil aku dengan sebutan anda atau kata-kata formal laiin nya,kau bisa penuhi ini?"


"Ya nona saya.. ehm.. aku tidak akan menggunakan kata-kata formal lagi pada nona"


"Hmm..bagus"


Saat ini mereka sudah sampai tepat di depan pintu kamar mandi,Princessa sebenar nya bingung disisi lain kaki nya sakit bila dipaksa berjalan sendiri,tapi kalau tidak... masa ia meminta Austin untuk masuk dan mengantar nya sampai ke dalam kamar mandi...tapi sepertinya ia masih harus meminta bantuan Austin untuk membantu nya sampai ke dalam kamar mandi.


"Hmm.. Austin" ucap Cessa yang ragu meminta Austin untuk mengantar nya sampai dalam.


"Kenapa nona?"


"I..ituu.. bisa antar kan aku sampai ke dalam,kaki ku sakit"


"Baiklah nona" ucap Austin dan kembali membantu Princessa sampai ke dalam kamar mandi tepat nya ke dekat closet duduk agar memudahkan Princessa langsung duduk disana.


"Terima kasih,nanti aku panggil jika sudah selesai"


"Baik nona" ucap Austin lalu keluar dari kamar mandi dan menunggu nona nya selesai dengan kegiatan nya itu di depan pintu kamar mandi.


Saat ia sedang menunggu nona nya itu.. ia berpikir seperti nya Princessa sudah sedikit melunakkan sikap nya padanya,dan mulai menerima nya,ini progres yang bagus untuk dirinya,tinggal ia semakin meyakinkan Princessa untuk mempercayakan segala nya pada nya termasuk hati nya.


"Austinn" panggil Cessa dari dalam kamar mandi.


Austin segera masuk dan membantu nona nya kembali untuk kembali ke tempat tidur nya.


"Saya akan menunggu di depan kamar nona,panggil Austin saja jika nona butuh sesuatu" ucap Austin


"Tidak!!.." cegah Cessa saat Austin sudah berbalik badan hendak keluar dari kamar nya.


"Iya nona ada apa?"ucap Austin yang langsung berbalik saat mendengar Cessa mencegah nya.


"Hmm.. maksud ku kau tunggu saja di sofa itu,jadi kalau aku butuh tidak usah berteriak memanggilmu" ucap Cessa dan menunjuk sofa dekat kasur nya.


"Baiklah nona kalau nona tidak merasa keberatan" Cessa pun hanya menggangguk saja sebagai jawaban nya.


Baru saja Austin melangkah ke arah sofa,Cessa sudah memanggil Austin kembali"Austin.. tolong ambilkan remote disitu" tunjuk Cessa ke arah remote yang berada di dekat TV nya.


"Baik nona.." Austin pun mengambil remote itu dan memberi nya kepada Princessa.


Tak lama setelahnya Cessa kembali menyuruh Austin untuk mengambil cemilan nya yang berada di lemari khusus keperluan pribadi nya lebih tepat nya makanan-makanan nya,Cessa pun tersenyum jahil ia sebenar nya sengaja menyuruh-nyuruh Austin terus padahal ia memang tidak terlalu membutuhkan itu semua.


"Hmm.. Austin aku kepedasan,ambilkan aku susu dingin di kulkas cepat" ucap Cessa kembali menyuruh Austin yang bahkan belum sama sekali duduk di sofa nya.


"Nona kau hanya mengerjaiku kan?" Tanya Austin menatap  Cessa penuh selidik dengan mata yang memicing.


"Tidakk..kau kira aku hanya pura-pura kepedasan apa,udah cepet ambil susu nya" ucap Cessa dengan akting yang bisa dibilang sangat meyakinkan,hingga Austin pun cepat mengambil minuman untuk nona nya itu.


Cessa hanya dapat tertawa dalam hati melihat Austin yang kali ini mau saja disuruh-suruh oleh nya tanpa bantahan.


"Ini nona apalagi.. nona hanya mengerjaiku kan" ucap Austin yang masih tidak percaya pada nona nya ini.


"Kau menuduhku!! kalau kaki ku tidak sakit juga aku bisa mengambil nya sendiri,tidak butuh bantuan mu" sanggah Cessa pada ucapan Austin yang sebenar nya memang benar bahwa dirinya hanya mengerjai Austin.


"Ya kalau nona membutuhkan itu kenapa tidak sekalian saja" ucap Austin yang mencoba sabar dengan kelakuan nona nya ini,yang sudah ia pastikan kalau ini semua hanya kerjaan nona nya saja untuk mengerjai nya.


"Ya mana aku tau kalau rasa nya sepedas ini..sudahlah kalau kau memang tidak ikhlas akan ku adukan kau pada daddy,sudah tau kaki ku sakit disuruh itu saja kau sudah menuduhku" gerutu Cessa yang sedang memainkan permainan playing victim "seperti nya ia cocok menjadi aktris" pikirnya


"Maaf nona,aku tidak bermaksud menuduh nona"


"Ya sudahlah..Austin aku ingin kamu memijat kaki ku rasa nya pegal dan tidak nyaman"


"Baiklah nona"Austin pun hanya pasrah dengan titah nona nya itu yang terus menerus padanya.


Tok..tokk..tokkk...


"Masuk"


"Nona ini obat anda"ucap pelayan yang tadi di suruh Cessa untuk menebus obat nya.


"Simpan saja di meja nanti akan ku minum"


"Baik nona,apa ada lagi yang anda butuhkan nona?"


"Aku mau pancake dengan sirup mapple"


"Baik nona" ucap pelayan tersebut lalu berlalu pergi.


"Austin ambilkan aku minum,gelas nya tinggal ambil saja di dekat situ" tunjuk Cessa ke arah dispenser.


Austin pun dengan cepat mengambil kan Princessa minum,karena ia tahu nona nya itu akan meminum obat nya.


"Ini nona minum nya"


"Taruh saja di meja" ucap Cessa yang kini sedang membuka obat nya,lalu meminum nya dengan cepat. Saat ia akan membuka salep nya ternyata sangat susah"Austin buka kan salep nya"ucap Cessa memberi salep nya ke arah Austin.


"Biar sekalian saya yang oleskan nona" saat Austin telah membuka salep tersebut.


Cessa hanya diam saja membiarkan apa yang akan dilakukan Austin pada nya,Cessa melihat cara Austin yang sedang mengoleskan salep itu di kaki nya,ia merasakan Austin sangat berhati-hati,ia sedikit terpana pada bodyguard pribadi nya ini,yang ternyata bisa juga bersikap lembut seperti ini walaupun pertemuan pertama mereka tidak mengenakkan.


Saat Cessa sedang asyik menatap kegiatan Austin,Austin pun tiba-tiba mendongak ke arah nya dan sekali lagi tatapan mereka bertemu yang membuat Cessa sedikit gelagapan "Apakah masih sakit nona?" ucap Austin mengalihkan rasa canggung yang dirasakan mereka berdua.


"Rasa nya dingin,mudah-mudah an besok sudah tidak apa-apa,aku sudah berjanji pada daddy kalau besok aku masih sakit aku belum bisa ngampus lagi" ucap Cessa sambil cemberut membayangkan jika ia akan tinggal di mansion lagi,lupa dengan kecanggungan yang ia rasakan tadi.


Austin yang melihat nona nya cemberut seperti itu entah kenapa ingin sekali mencubit pipinya gemas,terkadang nona nya ini tanpa mengeluarkan aura nya yang mempesona saja sudah membuat orang terpesona dan ingin melindungi nya tanpa sadar,tapi sayang kau adalah target ku nona,aku tidak bisa bermain dengan hati ku. Jika aku ditakdirkan untuk lahir kembali kelak dan bertemu dengan mu..ku harap nasib ku dan nona tidak seperti ini.


"Ya mudah-mudah an nona" ucap Austin sedikit lirih. Seakan itu juga lah jawaban dari isi hati nya tadi.


Semoga...


Bagaimana jangan pada bosen yahh.. dan maaf kalau lama update jangan lupa vote dan komen nya yahh..


Biar tambah semangat.


🤗😉😊