Only Nayla

Only Nayla
Hari Pertama



Hari ini Nayla mulai bekerja di perusahaan milik pak Dharma sebagai staf di kantor sekretaris pimpinan. Nayla sedikit gugup karna dia belum pernah bekerja sebagai sekretaris.


"Selamat pagi semuanya" sapa Nayla kepada koleganya.


"Pagi Nayla" jawab Hendra.


"Kamu gugup ya Nay?" tanya Rudi.


"Iya pak kan saya sebelumnya cuma kasir di kafe tapi sekarang saya bekerja sebagai sekretaris" jelas Nayla.


"Tenang saya pimpinan dan wakil pimpinan sangat baik kok dan mereka juga memperlakukan karyawan dengan sangat baik" kata Hendra yang memang sudah lama bekerja di perusahaan dan dia juga sebagai kepala sekretaris.


"Syukurlah Pak saya bisa sedikit lega" jawab Nayla.


"Selamat pagi semuanya" sapa Pak Dharma memasuki kantornya.


"Pagi pak" jawab Nayla, Hendra dan Rudi bersamaan sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Oh iya Rendi kenalkan ini Nayla dia akan bergabung di kantor sekretaris mulai hari ini" kata Pak Dharma.


"Selamat pagi pak" sapa Nayla.


Rendi hanya mengangguk tanpa berbicara. Dalam hati dia masih berharap Nayla bisa mengenalinya tapi Nayla benar-benar lupa siapa yang menolongnya hari itu.


Nayla kembali duduk ditempatnya setelah pimpinan dan wakil pimpinan masuk ke ruangannya masing-masing.


"Nay mulai hari ini kamu bekerja dengan wakil pimpinan ya" kata Pak Hendra.


"Baik pak dan apa yang harus saya lakukan sekarang?" tanya Nayla.


"Ini jadwal wakil pimpinan hari ini dan sebelum masuk ke ruangannya kamu buatkan kopi terlebih dahulu ya" jelas Pak Hendra sambil menyerahkan jadwal kerja wakil pimpinan.


"Baik pak" jawab Nayla sambil beranjak dari tempatnya menuju ke pantry untuk membuatkan kopi wakil pimpinan.


Setelah membuatkan kopi, Nayla masuk ke ruangan wakil pimpinan. Nayla mengetuk pintu terlebih dahulu dan begitu di ijinkan masuk Nayla masuk dengan membawa secangkir kopi dan jadwal wakil pimpinan hari ini.


"Permisi pak. Ini kopi bapak dan ini jadwal bapak hari ini" kata Nayla sambil meletakkan kopi dan jadwal wakil pimpinan di meja kerja wakil pimpinan.


"Ok terimakasih Nayla" jawab Rendi singkat sambil membaca jadwalnya.


"Apa ada lagi yang bapak butuhkan?" tanya Nayla.


"Setelah ini kamu ikut saya ketemu klien dan segera siapkan semua dokumen yang perlu saya bawa" perintah Rendi.


"Tanyakan kepada Pak Hendra apa yang perlu disiapka karna hari ini kan hari pertama kamu bekerja dan saya tak mau ada kesalahan"


"Baik pak kalau gitu saya permisi dulu"


"Iya" jawab Rendi dengan nada angkuh.


Nayla keluar dari ruangan Rendi dengan raut muka murung. Nayla takut karna hari pertama dia kerja langsung diajak untuk bertemu klien di luar kantor.


Nayla berjalan dengan langkah lemas dan kepalanya tertunduk. Nayla menghempaskan badannya dikursinya dan meletakkan kepala di meja kerjanya.


"Kamu kenapa Nay?" tanya Rudi sambil berdiri dari meja kerjanya.


"Pak Hendra apa yang harus saya siapkan untuk dibawa Pak Rendi bertemu dengan klien setelah ini?" tanya Nayla dengan nada suara yang lemas.


"Ini yang harus kamu bawa Nayla" kata Pak Hendra sambil menyerahkan dokumen kepada Nayla.


"Kamu tenang aja Nay semua sudah kita siapkan kemarin dan kamu bisa membawanya" kata Rudi sambil tersenyum kepada Nayla.


"Sungguh aku tak perlu menyiapkan apapun lagi dan bisa langsung membawanya" kata Nayla sambil tersenyum dan langsung bersemangat kembali.


Pak Hendra dan Pak Rudi hanya tersenyum melihay tingkah Nayla. Setidaknya sekarang ada seorang perempuan di kantor yang akan merubah suasana kantor. Sebelumnya hanya ada laki-laki tapi Nayla pasti sedikit banyak akan merubah suasana kantor yang kaku menjadi lebih santai.


Sementara di dalam ruangannya Rendi masih penasaran dengan Nayla.


"Aku harus bisa membuatnya ingat kembali dan aku harus bisa mendapatkannya. Ini seperti takdir yang sengaja mempertemukan kita lagi. Pasti Allah punya rencana dibalik semua ini. Awalnya aku menolongnya dan dia juga menolong nenek dan sekarang ayah membawanya kesini sebagai sekretarisku".


Diluar ruangan Nayla dan kedua koleganya tampak sedikit bercanda dan bertukar cerita.


"Jadi kamu yang menolong nenek Ratih saat beliau pingsan di jalan" kata Rudi.


"Iya saya tidak sengaja bertemu saat berangkat kerja ke kafe" jawab Nayla.


"Syukurlah kamu segera menemukan Bu Ratih sebelum hal yang buruk menimpanya" kata Hendra.


"Saya juga berhutang budi kepada Bu Ratih karna Bu Ratih saya bisa bekerja di perusahaan ini".


"Pak Dharma sangat menyayangi ibunya bahkan beliau mengutamakan ibunya lebih dari segalanya" jelas Hendra.


Nayla hanya terdiam mendengar jawaban Pak Hendra. Andai orang tuanya masih ada pasti Nayla juga akan meletakkan segala kebutuhannya diatas kebutuhan orang tuanya. Tapi sekarang Nayla hanya bisa mendoakan kedua orang tua dan pamannya berada di tempat terbaik di sisi sang pencipta.