
Jam kerja Nayla berakhir dan Nayla bergegas ke rest room untuk berganti baju. Nayla berulang kali melihat ponselnya menunggu kabar hasil interviewnya tadi pagi.
"Kok belum ada kabar juga ya. Mungkin memang belum rejeki aku kerja disana"
Nayla mengela nafas panjang dan berjalan keluar cafe tempat kerjanya. Nayla berharap bisa mendapat pekerjaan tetap untuk memperbaiki hidupnya. Nayla ingin segera mandiri dan meninggalkan rumah pamannya.
Perlakuan Bibi dan Dewi sangat menyakiti hati Nayla. Mereka selalu memperlakukan Nayla seperti pembantu.
Nayla duduk. di halte menunggu bus datang.
Sambil sesekali melihat jam di ponselnya. Tak lama bus datang dan Nayla segera naik bus untuk pulang. Turun dari bus, Nayla masih harus berjalan kaki untuk sampai kerumahnya.
Sampai ditengah jalan Dewi menelpon Nayla.
"Iya Dewi ada apa?"
"Ayah kecelakaan kak sekarang ada dirumah sakit, kakak cepat kesini ya" kata Dewi sambil menangis.
Tanpa banyak berpikir Nayla langsung berlari ke pinggir jalan dan segera mencari taxi. Paman sudah seperti ayah bagi Nayla. Bahkan Nayla tak bisa membayangkan apa jadinya ia tanpa pamannya.
Sampai dirumah sakit Nayla langsung berlari ke ruang operasi dan berharap tak terjadi hal yang buruk kepada pamannya.
Tampak Dewi memeluk ibunya yang sedang menangis. Mereka berusaha untuk tegar dan menunggu hasil operasi dengan penuh kecemasan.
Setelah beberapa jam, Dokter keluar dari ruang operasi. Bibi langsung berdiri dan menanyakan kondisi paman.
"Kami sudah berusaha bu tapi pak Sulaiman banyak kehilangan darah dan maaf kami tak bisa menyelamatkan suami ibu"
Nayla yang mendengar jawaban dari dokter langsung terduduk kembali. Dunia terasa runtuh. Pamannya pergi meninggalkan Nayla untuk selamanya.
Bibi dan Dewi menangis sambil berpelukan. Sekarang sudah tak ada lagi kepala keluarga yang akan mencukupi semua kebutuhannya. Dalam keadaan yang masih berduka, Bibi langsung berdiri dan kembali memaki Nayla menyalahan Nayla atas kematian pamannya.
"Ini semua gara-gara kamu, kamu memang anak pembawa sial. Tak cukup kamu membunuh kedua orang tuamu? Sekarang kamu juga membuat suamiku meninggal"
Nayla tak bisa berkata apa-apa lagi. Nayla hanya terdiam dan menangis. Makian bibi sudah seperti makanan sehari-hari bagi Nayla. Sampai saat pemakaman pun bibi masih bersikap dingin kepada Nayla. Entah apa yang membuatnya berpikir Nayla yang sudah membunuh suaminya.
Nayla berjalan dari halte bus ke rumahnya. Nayla baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Dan sesampainya didepan rumah, Nayla sudah melihat barang-barangnya didepan rumah. Bibi sudah mengeluarkan semua barang Nayla yang artinya bibi sudah mengusirnya dari rumah.
Nayla mengemasi barang-barangnya sambil menangis. Nayla kembali mengingat kebaikan pamannya yang dengan sepenuh hati merawat dan menyayanginya.
Nayla berjalan sambil menyeret kopernya. Entah harus tinggal dimana dia sekarang. Tak ada tujuan membuat Nayla menginap di cafe tempat ia kerja. Disana ada rest room yang cukup nyaman untuk ia tinggal sementara.
"Nayla kamu kok ada disini?" tanya pemilik cafe.
"Maaf pak semalam saya menginap disini karna saya tak punya tujuan pak tapi saya janji nanti malam saya akan pergi kok pak" jelas Nayla.
"Tak apa Nayla saya mengerti kok kamu pasti sedang ada masalah jadi saya tak akan melarang kamu untuk tidur di cafe sementara sampai kamu mendapatkan tempat tinggal" jawab pemilik cafe.
"Terima kasih banyak pak" kata Nayla senang karna pemilik cafe tak marah tahu dia menginap dicafe.