Only Nayla

Only Nayla
Mulai Terbuka



Nayla mulai membuka matanya sedikit demi sedikit. Awalnya dia hanya tersenyum melihat Rendi sedang memperhatikannya. Nayla masih merasa mimpi bahwa Rendi ada di sampingnya saat ini.


"Kamu sudah bangun" kata Rendi.


"Ah" Nayla kaget dan langsung berdiri dari kursi.


"Kamu kenapa? Tenang aja belum ada yang datang kok".


"Kamu ini bikin kaget aja kirain tadi cuma mimpi ternyata beneran" kata Nayla kesal.


"Oh jadi kamu sering mimpiin aku ya sayang" goda Rendi sambil mendekati Nayla yang makin menjauh dari Rendi.


"Nanti ada yang liat jangan deket-deket" kata Nayla sambil menahan tubuh Rendi dengan tangannya.


Rendi merasa sedikit lega karna Nayla bisa tersenyum lagi. Sebelumnya Rendi sangat khawatir melihat mata sembab Nayla.


"Aku ke ruanganku dulu ya".


"He.em"


"Setelah Pak Hendra dan Pak Rudi datang kamu bawakan kopi ke ruanganku ya"


"Iya" jawab Nayla singkat.


Rendi masuk kedalam ruangannya. Dan jam dikantor masih menunjukkan pukul 7.30 pagi yang artinya masih ada 30menit lagi jam kantor dimulai.


"Ya Allah ternyata mataku bengkak gini. Rendi pasti tadi udah lihat deh" Nayla yang baru menyadari setelah ia mau memakai make up.


Tak lama setelah itu Pak Hendra dan Pak Rudi datang dan kantor menjadi rame kembali. Kantor sekretaris yang hanya berisi tiga orang saja sudah terasa ramai apalagi kalau ada orang baru lagi.


"Saya permisi mau bawakan kopi ke ruangan Pak Rendi dulu" kata Nayla.


"Wah kamu sudah mulai belajar melayani suami ya Nay" goda Pak Rudi.


"Apaan sih Pak Rudi kan sudah biasa juga kita bawakan kopi buat pimpinan" jawab Nayla


"Sudah kamu pergi sana Nayla nanti Pak Rendi kelamaan nunggu kopinya" lerai Pak Hendra.


Nayla berjalan sambil memegang kedua pipinya karna malu. Pak Rudi memang selalu menggodanya terlebih setelah tahu hubungannya dengan Rendi.


Setelah membuatkan kopi, Nayla langsung mengantarkan kopinya keruangan Rendi. Dan sebelum masuk Nayla mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Kamu kenapa murung?" tanya Rendi.


"Biasa Pak Rudi godain aku terus" jawab Nayla sambil cemberut.


"Duduk dulu" titah Rendi.


"Apa ada yang mau dibicarakan?" tanya Nayla sambil duduk di kursi tamu yang ada di ruangan Rendi.


"Kamu tahu kan kita sekarang sudah resmi berkencan. Tapi kenapa kamu masih memikul bebanmu sendirian" kata Rendi sambil memegang kedua tangan Nayla.


"Maksudnya apa?" tanya Nayla pura-pura tak mengerti.


"Aku tahu kamu lagi ada masalah kan? Kamu ke kantor lebih awal dan tertidur dengan mata sembabmu itu"


"Aku tak ingin kamu juga ikut terbebani dengan masalahku"


"Masalah kamu juga akan jadi masalah aku juga sayang dan aku tak ingin melihat wajah sedihmu lagi makanya sekarang ceritakan semua bebanmu"


"Sebenarnya semalam Bibi dan sepupuku datang kerumahku. Mereka kena tipu agen perumahan dan sekarang mereka mau tinggal bersamaku"


"Terus apa masalahnya sayang bukannya kamu harusnya senang punya teman dirumah?"


"Bibi tak pernah memperlakukanku dengan baik sejak aku tinggal bersama mereka bahkan setelah paman meninggal aku diusir dari rumah" jelas Nayla sambil berurai air mata.


"Sudah sayang jangan menangis lagi sekarang kamu ada aku yang akan menjagamu dan akan selalu membahagiakanmu" kata Rendi sambil memeluk Nayla.