Only Nayla

Only Nayla
Akhirnya Rendi Mengaku



Nayla hanya terdiam sepanjang perjalanan. Dia terus menatap keluar jendela. Mulutnya seakan terkunci dan tak bisa berkata apa-apa. Duduk disamping Rendi memang bukan kali pertama baginya tapi malam ini terasa beda. Jantung Nayla mendadak berdegup kencang.


"Kamu kenapa diem?" tanya Rendi memecah keheningan diantara mereka.


"Saya nggak papa kok pak" jawab Nayla.


"Kita kan nggak lagi kerja Nay jangan panggil saya bapak kayak saya sudah tua aja".


"Maksudnya?" tanya Nayla.


"Panggil Rendi aja lagian kamu ini entah hilang ingatan atau apa sih sampai kamu tak mengenali saya lagi" kata Rendi yang masih fokus menyetir.


"Jadi kita sudah pernah bertemu sebelumnya?" tanya Nayla makin penasaran.


Rendi tak menjawab pertanyaan Nayla. Rendi bingung harus berkata apa karna Nayla memang tak mengingatnya.


Nayla yang tak mendapat jawaban hanya bisa diam dan menunggu sampai Rendi menjawab pertanyaannya. Nayla sungguh tak merasa pernah bertemu dengan Rendi sebelum dia pertama kali bertemu di kafe bersama keluarganya.


Tak lama Nayla sampi di rumahnya dan Rendi masih terdiam tak memberikan jawaban atas pertanyaan Nayla.


"Terimakasih sudah mengantar saya" pamit Nayla sambil turun dari mobil Rendi.


"Iya sama-sama" jawab Rendi dingin.


"Hati-hati dijalan" tambah Nayla.


"Tunggu Nayla".


"Iya ada apa?" tanya Nayla.


"Sudahlah. Istirahatlah dan besok jangan terlambat datang ke kantor" kata Rendi.


Rendi meninggalkan rumah Nayla setelah melihat Nayla masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang sangat sederhana dan jauh dari bayangan Rendi. Melihat rumah yang Nayla tempati membuat Rendi sadar beratnya perjuangan Nayla untuk bertahan hidup tanpa keluarga.


"Rumah itu pasti bocor kalau hujan dan pasti sangat dingin juga saat malam. Gadis itu seperti apa sebenarnya hidupnya sampai dia tinggal dirumah yang sebenarnya sangat tak layak huni" gerutu Rendi sambil menyetir kembali ke rumahnya.


Sementara Nayla setelah membersihkan diri dan bersiap untuk tidur. Nayla masih penasaran dengan perkataan Rendi. Tapi Nayla sungguh merasa tak pernah bertemu dengan Rendi sebelumnya.


"Aku yakin belum pernah bertemu dengan Rendi secara pribadi tapi kenapa dia bisa berkata seperti itu kepadaku? Sudahlah mending aku tidur jangan sampai besok terlambat ke kantor" kata Nayla sambil mematikan lampu kamarnya.


Hari ini seperti biasa Nayla berangkat ke kantor. Nayla agak terburu-buru karna ia bangun sedikit kesiangan. Nayla sedikit berlari dan segera masuk lift.


"Pagi semuanya" sapa Nayla sesampainya diruangan kerja.


"Kamu kenapa lari kan belum telat?" tanya Rudi.


"Aku bangun agak siang dan sudah ketinggalan bus tadi" jawab Nayla sambil duduk dikursinya dan bersandar.


"Kamu tenang aja Nayla kalau terlambat karna ada sesuatu atau kamu sakit bisa telpon saya nanti saya sampaikan" kata Pak Hendra.


"Iya terimakasih pak" jawab Nayla sambil tersenyum "Apa pimpinan dan wakil pimpinan sudah datang pak?".


"Belum Nayla" jawab Rudi.


"Silakan Nayla" jawab Pak Hendra.


Nayla berjalan ke pantry sambil membawa makanan yang dia beli sebelum ke kantor. Setelah berlari dia merasa sangat lapar padahal biasanya dia sarapan dan makan siang sekaligus.


"Baiklah cacing-cacingku sekarang saatnya kita makan dan mengisi kembali energi yang sudah terbuang" kata Nayla sambil membuka bungkusan makanannya dan meletakkan di piring.


Sementara diluar Pak Dharma dan Rendi baru sampai di kantor.


"Selamat pagi pak" sapa Hendra dan Rudi.


"Pagi" jawab Pak Dharma.


"Kalian cuma berdua aja Nayla mana?" tanya Rendi.


"Nayla sarapan di pantry pak" jawab Pak Hendra.


"Baiklah lanjutkan pekerjaan kalian" kata Pak Dharma sambil berlalu ke ruangannya.


Sementara itu Rendi berjalan ke arah pantry untuk melihat Nayla. Tampak Nayla sangat menikmati sarapannya sampai tak sadar kalau Rendi mengamatinya. Sarapan sederhana kesukaan Nayla cuma nasi pecel sudah membuat Nayla sangat lahap menikmati sarapannya.


"Kenapa lihat Nayla makan nasi pecel jadi pengen juga" gumam Rendi.


Karna Nayla yang tak menyadari kehadirannya, akhirnya Rendi masuk ke pantry dengan dalih mengambil minuman.


"Kamu sarapan pecel kok rasanya enak banget" kata Rendi sambil duduk di depan Nayla dengan segelas minuman yang dia bawa.


"Maaf pak" kata Nayla spontan berdiri dari kursinya.


"Kenapa berdiri kan makanan kamu belum habis. Duduk aja Nay nggak perlu sungkan karna kamu juga butuh makan kalau kamu sakit nanti perusahaan rugi buat gaji kamu" kata Rendi dingin.


"Baik pak" jawab Nayla sambil kembali duduk.


"Lanjutkan sarapan kamu" kata Rendi beranjak pergi dari pantry.


"Apa saya boleh bertanya sesuatu pak?" kata Nayla menghentikan Rendi keluar dari pantry.


"Apa" jawab Rendi singkat.


"Soal pertanyaan saya semalam pak. Apa kita sebelumnya pernah bertemu pak?" tanya Nayla.


Rendi hanya diam sambil memegang gelas minumnya dan perlahan meletakkannya di meja.


"Saya mohon pak karna saya sangat penasaran" kata Nayla.


"Iya kita pernah bertemu sebelumnya tapi kamu mungkin lupa karna setelah kita bertemu kamu pingsan" jawab Rendi.


"Apa mungkin Pak Rendi yang sudah.... "


"Iya saya yang menolong kamu waktu itu dan saya juga yang membawa kamu ke rumah sakit" jawab Rendi.