Only Nayla

Only Nayla
Tamu Tak Terduga



"Kamu ngrasa aneh nggak sih sama Kak Rendi dan Nayla?" tanya Kirana kepada suaminya.


"Udah deh nggak usah mikir yang aneh-aneh bikin pusing aja" kata Adrian cuek sambil menggandeng tangan Kirana.


"Kalau makan malam team kenapa mereka jalan cuma berdua aja" kata Kirana masih penasaran.


"Sudah ayo kita pulang sudah malam dan jangan berpikir yang aneh-aneh lagi karna apapun itu bukan urusan kita" kata Adrian tegas.


Kirana memang tipe perempuan yang sedikit kepo dengan urusan orang lain. Dan terkadang dia lupa dengan posisinya sekarang sebagai seorang istri dan menantu dari keluarga yang terpandang.


_____________


Nayla sampai rumah dengan selamat dan tentunya bersama dengan Rendi yang ikut mengantarnya.


"Sudah kamu nggak usah turun dan cepat pulang ya" kata Nayla sambil mengusap pipi Rendi.


"Siap bos" jawab Rendi sambil tersenyum.


"Sampai rumah telpon aku ya" kata Nayla sambil menutup pintu taxi.


Nayla berjalan kearah rumahnya dan ada tamu yang tak diduga duduk di teraa rumahnya. Bibi dan Dewi datang dengan membawa dua buah koper besar.


"Bibi, Dewi " kata Nayla kaget melihat mereka ada di depan rumahnya.


"Kak Nayla tolong kita kak" kata Dewi sambil menangis dan memegang tangan Nayla.


"Dari mana kalian tahu aku tinggal disini?" tanya Nayla.


"Kita tahu dari teman kerja kakak" jawab Dewi.


"Ada apa ini?"


"Bibi minta maaf Nayla" kata Bibi sambil menangis.


"Kenapa kalian menangis?"


"Bibi kena tipu Nayla. Bibi berniat membeli ruko untuk usaha tapi penjualnya kabur dan membawa semua uang bibi" jelas Bibi.


"Tujuan kita kesini kita mau tinggal sama kakak" kata Dewi.


"Tapi rumah ini kecil dan hanya ada satu kamar"


"Kita tidur dimana aja nggak apa-apa Nayla asal kita punya tempat berlindung" kata Bibi.


"Aku mohon kak lupakan masa lalu kita yang buruk dan terima kami untuk tinggal bersama kakak" Dewi memohon.


"Baiklah kalian bisa tidur disini tapi diruang tengah" kata Nayla singkat.


Nayla berjalan dan membuka pintu rumahnya. Sebenarnya Nayla masih sakit hati dengan sikap Bibi dan Dewi tapi Nayla merasa berhutang budi kepada Pamannya. Nayla sangat mengenal sifat Bibinya dan dia takut kalau setelah tinggal dengannya Bibi malah memanfaatkannya lagi.


"Kalian boleh tinggal disini tapi hanya sementara sampai kalian punya uang untuk mencari tempat tinggal" kata Nayla tegas.


"Dari mana kita bisa dapat uang untuk mencari tempat tinggal Nayla?" tanya Bibi.


"Iya kalian harus bekerja".


"Tapi kak gimana dengan kuliahku?" tanya Dewi.


"Kakak akan membayar biaya kuliahmu tapi tidak untuk uang jajanmu".


"Kenapa kamu kejam sekali kepada kita? Kamu lupa siapa yang membesarkanmu?" kata Bibi dengan nada tinggi.


"Apa Bibi juga lupa bagaimana Bibi mengusirku dari rumah?" Nayla ikut tersulut emosi.


"Kak aku mohon maafkan ibu kak" Dewi tampak memelas "Kalau itu kemauan kakak akan kita turuti kak".


"Syukurlah kalau kamu bisa mengerti" kata Nayla masih dengan nada emosi dan masuk kedalam kamarnya.


Nayla merebahkan dirinya ke tempat tidur sambil menangis. Nayla menangis ingat kebaikan pamannya. Sebenarnya hatinya tak ingin berbuat seperti itu tapi Nayla ingin memberi pelajaran kepada Bibi dan Dewi. Mereka berdua harus belajar untuk hidup mandiri dan tak lagi bergantung kepada orang lain.