Only Nayla

Only Nayla
Tugas Pertama Sebagai Sekretaris Rendi



Rendi yang sudah keluar dari ruangannya diam-diam melihat Nayla dan sekretaris lainnya saling bercerita dan bercanda. Rendi semakin ingin mengenal Nayla lebih jauh lagi. Setelah dia melihat Nayla bisa tertawa lepas bersama kedua koleganya.


"Kalau tersenyum gitu Nayla makin cantik" kata Rendi sambil tersenyum dan menatap Nayla.


"Pak Rendi" kata Rudi yang menyadari kehadiran Rendi.


"Maaf pak kita kelepasan sampai tak melihat Pak Rendi" kata Hendra.


"Nggak papa kok saya senang kalian bisa tertawa lepas biar nggak stress mikirin kerjaan terus" kata Rendi "Nayla kamu sudah siap?"


"Iya pak saya sudah siap" kata Nayla sambil beranjak dari tempat duduknya dan langsung mengambil tas dan berkasnya.


Nayla berjalan dibelakang Rendi. Masih ada rasa gugup yang tampak diwajahnya. Rendi yang menyadari sikap Nayla berusaha untuk mencairkan suasana.


"Nayla ini pertama kalinya kamu menemani saya dan tugas kamu hanya mencatat hasil rapat saya sama klien yang nanti kita temui" kata Rendi.


"Baik pak" jawab Nayla singkat.


Rendi tak pernah memakai supir pribadi dia lebih senang menyetir sendiri. Nayla yang duduk disebelah Rendi hanya diam dan menatap keluar kaca mobil. Entah perasaan gugup sebagai sekretaris atau sebagai perempuan yang duduk disamping pria asing.


Sesampainya direstoran tempat mereka bertemu dengan klien, Nayla yang masih berjalan dibelakang Rendi sambil membawa berkas.


Rendi yang terlihat biasa saja tampak berbeda saat bertemu dengan klien. Rendi tampak sangat tegas dan smart. Nayla yang duduk disamping Rendi sambil mencatat hal penting yang dibahas Rendi bersama klien tampak terpesona dengan Rendi dan sesekali mencuri pandang kepada Rendi.


"Ingat Nay dia bos kamu" gumam Nayla dalam hati seolah menyadarkan dirinya sendiri untuk tak mengagumi Rendi.


Pertemuan dengan klien selesai dan Rendi mengajak Nayla makan siang disana sekalian karena mereka berada di restoran.


"Kamu nggak usah terlalu serius gitu Nayla lagian umur kita mungkin nggak beda jauh" kata Rendi sambil melahap makanannya.


"Tapi kan Pak Rendi tetap saja bos saya dikantor" kata Nayla sambil menunduk malu.


"Lagian kamu itu sangat berjasa buat saya karna sudah menolong nenek"


"Itu kan sudah kewajiban kita pak harus saling tolong menolong"


"Kamu itu baik banget deh Nay tapi kamu jangan terlalu baik sama semua orang karena nggak semua orang itu tampak baik".


"Maksud Pak Rendi?" tanya Nayla kaget dengan perkataan Rendi.


"Em maksud saya itu kan nggak semua orang itu punya niat baik Nayla" jelas Rendi.


Nayla sedikit bingung dengan perkataan Rendi karna dia kan hanya menolong neneknya tapi kenapa Rendi bisa mengatakan Nayla nggak boleh baik sama semua orang. Apa mungkin Rendi sudah mengenalnya sebelum bertemu sebagai sekretarisnya.


"Baik pak" jawab Nayla sambil berjalan dibelakang Rendi.


Rendi pergi terlebih dahulu dan tak lama taxi yang dia pesan datang. Nayla kembali ke kantor sendirian tanpa Rendi. Nayla merasa lega karna tugasnya hari ini selesai.


"Alhamdulillah hari ini selesai juga" kata Nayla sambil berjalan kembali keruangannya.


Sesampainya diruangannya Nayla tak melihat Pak Hendra dan Pak Rudi. Nayla duduk di kursi dan meletakkan berkas di meja kerjanya. Nayla meletakkan kepalanya di meja.


"Nayla kamu sudah kembali" kata Hendra membuyarkan kantuk Nayla.


"Nih kopi buat kamu Nay tadi setelah makan siang kita mampir beli kopi" kata Rudi sambil memberikan kopi kepada Nayla.


"Gimana tugas pertama kamu Nay?" tanya Hendra.


"Lancar kok Pak Hendra dan tadi selesai ketemu klien Pak Rendi mengajak Nay makan siang bareng" jawab Nayla.


"Pak Rendi ngajak kamu makan siang?" tanya Rudi dengan wajah kaget.


"Emangnya kenapa Pak Rudi?" tanya Nayla penasaran.


"Emang biasa Pak Rendi kayak gitu Nayla" kata Rudi sambil tertawa.


"Udah kamu jangan ngerjain Nayla kasihan kan dia takut gitu" kata Hendra sambil menepuk pundak Rudi.


Nayla yang tadinya ngerasa takut langsung manyun setelah dikerjain sama koleganya. Nayla duduk kembali dikursi sambil meminum kopi pemberian kedua koleganya.


"Nayla nanti pulang kantor kamu ikut saya ke rumah ya" kata Pak Dharma yang melihat para sekretarisnya bercanda.


"Baik pak" jawab Nayla.


"Wah sepertinya kita kalah pamor neh sama Nayla" goda Rudi.


"Sudah ayo kembali bekerja kamu ini iseng banget godain Nayla tar kalau Nayla gak balik kantor gawat lho" kata Hendra membuyarkan candaan mereka.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat sudah saatnya pulang kantor. Nayla juga bersiap dan merapikan meja kerjanya.


"Nayla ayo ikut saya" kata Pak Dharma.


"Iya pak" jawab Nayla sambil berjalan mengikuti Pak Dharma