
Nayla merasa seperti cinderella yang sedang berdansa dengan pangerannya. Tapi disatu sisi Nayla mungkin akan menerima banyak hinaan dari orang yang tak menyukainya. Akan banyak karyawan di kantor yang mungkin membencinya.
"Pak Rendi bisakah kita berhenti?" tanya Nayla di sela-sela dansa.
"Apa kamu merasa tak nyaman?" Rendi balik bertanya kepada Nayla.
"Saya merasa banyak yang akan membenci saya setelah kejadian ini pak".
"Sudah lah kamu tenang aja anggap saja mereka iri sama kamu".
" Tapi pak".
"Sebentar lagi juga selesai kok".
Nayla hanya bisa menuruti perkataan Rendi walaupun hatinya menolak tapi apa daya raganya tak bisa menolak.
Rendi juga sebenarnya tak ingin waktu berakhir. Andai dia bisa menghentikan waktu akan ia hentikan saat ini juga agar bisa menikmati waktu bersama Nayla. Gadis yang sudah melunakkan hatinya. Gadis yang bisa merubah prioritas hidupnya.
Sementara itu Nenek Ratih dan Pak Dharma sangat menikmati acara hari ini. Terlebih bisa melihat Rendi bisa tersenyum saat bersama Nayla.
"Coba kamu lihat anakmu tampaknya sangat bahagia" kata Nenek Ratih kepada Pak Dharma.
"Maksud ibu?".
"Rendi anakmu yang dingin dan selalu memikirkan pekerjaan bisa santai lagi dan matanya kembali bersinar".
"Iya bu mungkin karna ada Nayla yang membantunya mengurus semua pekerjaannya".
"Andai lebih dari itu apa kamu akan senang juga?".
"Maksud ibu?".
"Apa kamu tak bisa melihat tatapan mata anakmu kepada Nayla?".
"Entahlah aku tak mengerti maksud ibu" .
"Anakmu jatuh cinta Dharma".
"Jatuh cinta? Dengan Nayla?" Dharma kaget dengan perkataan ibunya.
Dharma tampak bingung dengan perkataan ibunya. Rendi jatuh cinta kepada Nayla. Dan akhirnya Dharma kembali melihat Rendi dan Nayla yang sedang berdansa. Rendi tampak tersenyum sambil menatap Nayla. Sementara Nayla masih tampak malu-malu untuk menatap Rendi.
"Sekarang apa yang kamu pikirkan?" tanya Nenek Ratih.
"Nayla gadis yang baik tapi aku belum bisa mencerna semua ini bu".
"Ibu cuma bisa berpesan kalau mereka benar saling mencintai jangan pernah kamu memandang seseorang dari statusnya karna dulu ayahmu juga bukan siapa-siapa sampai akhirnya bisa mendirikan perusahaan yang sekarang kamu teruskan ini nak".
"Iya bu. Dharma tak pernah membedakan orang dari statusnya bu".
"Ajarkan juga kepada istrimu Dharma" kata Nenek Ratih sambil memegang tangan anaknya.
Setelah acara dansa selesai, Nayla langsung duduk disamping Nenek Ratih. Nayla masih merasa seperti mimpi bisa berdansa dengan Rendi. Jantungnya masih berdegup kencang dan sesekali Nayla tersenyum sendiri malu-malu mengingat kejadian barusan.
"Kamu senang Nay?" tanya Nenek Ratih.
"Maksud nenek apa?".
"Nenek belum pernah melihat mata Rendi bersinar seperti itu".
Nayla masih bingung dengan perkataan Nenek Ratih dan menatap Nenek Ratih penuh tanya.
"Apa yang kamu rasakan saat bersama Rendi?" tanya Nenek Ratih sambil tersenyum kepada Nayla.
"Nayla belum mengerti maksud nenek apa" kata Nayla pura-pura tak mengerti perkataan Nenek Ratih.
"Kamu tak percaya dengan nenek? Jujur aja Nayla karna nenek akan mendukung kalian 100% persen".
"Entahlah Nek. Nay juga bingung dengan perasaan Nay sendiri" kata Nayla sambil menatap Rendi yang sedang berbincang dengan koleganya.
"Nenek yakin kalau Rendi sudah jatuh cinta kepadamu Nay. Rendi yang sangat dingin dan selalu bekerja keras tampak sangat berbeda saat bersamamu dan tadi matanya bersinar saat menatapmu".
"Ah itu mungkin cuma perasaan nenek aja mana mungkin pengusaha muda dan sukses seperti Rendi suka sama perempuan sepertiku" kata Nayla sambil pura-pura tertawa.
"Karna nenek sudah sangat merindukan mata itu Nayla. Selama ini Rendi cuma memikirkan pekerjaannya sampai melupakan urusan hatinya".
Nayla masih terdiam dan sekali lagi menatap Rendi yang masih berbincang dengan koleganya. Nayla bertanya kepada dirinya sendiri apakah benar dia menyukai Rendi apakah ini cuma perasaan sesaat yang muncul setelah dia mengetahui bahwa Rendi yang sudah menolongnya waktu itu.
"Apakah aku sungguh berani untuk jatuh cinta kepadanya? Laki-laki yang tak mungkin bisa ku jangkau karna kita sangat jauh berbeda" gumam Nayla dalam hati.