
Nayla kaget dan tak bisa berkata apa-apa. Tenyata Rendi yang sudah menolongnya dan membawanya kerumah sakit. Nayla cuma bisa menatap Rendi dalam-dalam sambil berusaha untuk menenangkan hatinya.
"Kamu kenapa bengong gitu? Nggak percaya kalau aku yang sudah menolong kamu?" tanya Rendi membuyarkan pikiran Nayla.
"Ah maaf pak. Saya percaya kok pak karna saat itu kan gudang juga gelap jadi saya tak bisa melihat wajah bapak dengan jelas" jawab Nayla.
"Kamu itu jangan terlalu lugu jadi perempuan biar nggak dikerjain. Lagian kamu kenapa kerja keras gitu kan kamu cuma sendiri tak perlu banyak kerja sambilan gitu kan" kata Rendi dengan nada mulai meninggi.
"Maaf pak dan terimakasih sudah menolong saya waktu itu" kata Nayla dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah anggap kita impas karna kamu sudah menolong nenek" jawab Rendi sambil berlalu meninggalkan pantry.
Nayla langsung kehilangan selera makannya. Nayla tak menyangka Rendi akan berbicara dengan nada tinggi kepadanya. Padahal Nayla hanya karyawan disana dan sudah wajar kalau bosnya berkata seperti itu kepada bawahannya.
Nayla membuang sisa makanannya dan mencuci peralatan makannya. Setelah itu dia mengambil segelas air dan meminumnya sambil duduk di kursi.
"Ah sudah lah tak usah dipikirkan lagi sekarang saatnya kerja" kata Nayla menyemangati dirinya sendiri.
Nayla meninggalkan pantry dan berjalan kembali ke meja kerjanya.
"Kamu baik-baik saja Nay?" tanya Rudi.
"Iya aku nggak papa kok pak" jawab Nayla sambil tersenyum.
"Nayla hari ini kamu ikut Pak Rendi ketemu klien lagi ya" kata Pak Hendra.
"Saya lagi pak?" tanya Nayla kaget.
"Kamu keberatan?" tanya Pak Hendra balik.
"Baiklah pak saya akan ikut" kata Nayla lemas.
Setelah apa yang terjadi tak mungkin Nayla bisa menatap Rendi lagi. Nayla masih sangat gugup harus bertemu Rendi. Tapi sudah tugasnya sebagai sekretaris untuk menemani bosnya.
"Siapa yang ikut dengan saya Pak Hendra?" tanya Rendi.
"Ayo kita berangkat sekarang" kata Rendi sambil berjalan.
Nayla langsung berjalan mengikuti Rendi dengan membawa berkas-berkas. Dan seperti biasa Rendi tak memakai supir. Nayla dan Rendi terdiam sepanjang perjalanan. Rendi juga masih merasa canggung setelah kejadian tadi pagi akhirnya memilih untuk memutar musik.
Rendi dan Nayla bertemu klien di restoran salah satu hotel berbintang. Seperti biasa Rendi berubah menjadi pengusaha yang smart saat bernegosiasi dengan kliennya.
"Ah rasanya aku tak ingin kehilangan moment ini. Saat melihat Pak Rendi seperti saat ini" gumam Nayla sambil menatap Rendi diam-diam.
Setelah rapat dengan klien selesai, mereka langsung makan siang bersama. Nayla makan dengan diam dan menatap Rendi yang masih berbincang dengan kliennya.
"Kamu kenapa selalu menatap saya diam-diam?" tanya Rendi dalam perjalanan kembali ke kantor.
"Maksudnya?" tanya Nayla kaget.
"Saya tahu kamu dari awal bertemu klien sudah menatap saya diam-diam kan?".
"Maaf pak".
"Apa aku setampan itu sampai kamu terus menatap saya" kata Rendi sambil tersenyum.
"Sekali lagi maafkan saya pak" jawab Nayla dengan pipi merona malu.
"Sudahlah Nay itu sudah biasa karna itu saya tak pernah mempekerjakan sekretaris perempuan tapi karna kamu sudah menolong nenek jadi saya mau terima kamu".
"Jadi maksud bapak saya sebenrnya tak pantas mendapat pekerjaan ini?" tanya Nayla.
"Bukan itu maksud saya Nayla. Kamu bekerja dengan baik kok cuma kamu mendapat perkerjaan ini kan karna nenek" jelas Rendi.
"Terimakasih pak, saya janji akan bekerja keras" jawab Nayla bersemangat kembali.
Rendi hanya tersenyum sambil fokus menyetir. Ternyata gadis yang membuatnya penasaran sedikit demi sedikit sudah mulai ia kenal. Semakin sering bersama Nayla semakin banyak yang Rendi ketahui tentang Nayla.