
Pesta telah usai dan Nayla sudah pulang kerumahnya. Nayla duduk di depan cermin sambil membersihkan sisa make up. Kata-kata Nenek Ratih cukup mempengaruhinya dan membuatnya berpikir.
"Mana mungkin pria tampan dan sukses seperti Rendi menyukai gadis sepertiku. Aku cuma orang biasa bahkan tak punya keluarga. Bahkan dalam mimpi pun tak akan mungkin terjadi. Sudahlah Nay itu cuma anggapan Nek Ratih aja" kata Nayla seolah berbicara dengan dirinya di dalam cermin.
Malam sudah berganti pagi dan Nayla ke kantor seperti biasanya. Nayla duduk di halte sambil menunggu bus datang dan masih terpikir dengan perkataan Nenek Ratih kemarin.
"Nayla" panggil Rendi dari dalam mobil yang tiba-tiba berhenti di halte tempat Nayla menunggu bus.
"Pak Rendi" kata Nayla kaget dan langsung berdiri.
"Ayo masuk" ajak Rendi.
"Saya naik bus aja pak" tolak Nayla.
"Saya tidak suka penolakan Nayla. Ayo cepat masuk ini perintah" titah Rendi.
Dengan terpaksa Nayla akhirnya masuk ke dalam mobil Rendi dan pergi ke kantor bersama Rendi.
"Kamu kenapa diam aja?" tanya Rendi memecah keheningan diantara mereka.
"Nggak papa pak" jawab Nayla singkat.
"Nenek bicara apa sama kamu?".
"Bicara?".
"Iya kemarin di acara resepsi tampaknya Nenek bicara serius sama kamu setelah kita berdansa".
"Bukan hal yang serius kok pak. Kita ngobrol biasa aja".
"Pasti nenek bilang kalau aku suka sama kamu".
Nayla langsung kaget dan tak bisa berkata apa-apa selain menatap Rendi dengan tatapan kaget.
"Itu benar kok Nay" kata Rendi sambil fokus menyetir tanpa menatap Nayla.
"Iya benar kalau saya suka sama kamu" jawab Rendi sambil tersenyum.
"Ah bapak bisa aja pagi-pagi gini bikin prank" kata Nayla sambil tertawa.
Rendi langsung menepikan mobilnya dan menatap Nayla yang langsung menghentikan tawanya.
"Oh jadi kamu pikir saya bercanda?" tanya Rendi sambil mendekatkan wajahnya ke Nayla.
"Karna itu sangat mustahil pak. Seorang Pak Rendi wakil direktur yang tampan dan punya segalanya jatuh hati kepada sekretarisnya" jawab Nayla dengan rasa takut.
"Baiklah kalau kamu tak percaya saya akan buktikan kalau saya serius suka sama kamu" kata Rendi kembali melajukan mobilnya.
Nayla dan Rendi saling diam dan tak ada satu kata pun yang terucap. Nayla sungguh ketakuan dengan perkataan Rendi tadi. Nayla takut kalau dia akan dipecat karna sudah membuat Rendi marah dan tersinggung.
"Setelah ini kamu keruangan saya dan buatkan kopi juga" titah Rendi sambil berjalan ke ruangannya.
Nayla duduk lesu di mejanya sambil mengacak-acak rambutnya. Nayla sungguh akan tamat sekarang dan Rendi pasti akan memecatnya. Setelah merasa tenang, Nayla langsung membuatkan kopi untuk Rendi dan membawanya ke ruangan Rendi.
"Permisi pak" Nayla masuk dan membawakan kopi untuk Rendi.
"Letakkan disana" kata Rendi sinis.
"Saya permisi pak" kata Nayla pergi dari ruangan Rendi.
"Nanti sepulang kerja kamu ikut saya" kata Rendi sebelum Nayla pergi dari ruangannya.
"Kemana pak?" tanya Nayla dari depan pintu.
"Sudah ikut saja apa sekarang saya harus menjelaskan dengan detail kepada kamu" kata Rendi dengan nada kesal.
"Maaf pak" Nayla langsung menutup pintu dan kembali ke meja kerjanya.
Nayla kembali melamun dan memikirkan kata-kata Rendi. Dia penasaran kemana Rendi akan membawanya dan apa yang akan Rendi lakukan kepadanya. Nayla tak bisa membayangkan kalau kejadian itu terulang lagi. Nayla hanya gadis biasa yang bisa saja diperlakukan seenaknya oleh pria-pria kaya seperti Rendi.