Only Nayla

Only Nayla
Aku Serius



Nayla terus menatap jam karna merasa gugup dan mungkin takut karna Rendi mengajaknya pergi sepulang kantor.


"Kamu kenapa Nay dari tadi kok gelisah sambil liatin jam terus?" tanya Rudi.


"Nggak kok pak aku nggak liatin jam kok" jawab Nayla kikuk.


"Sebentar lagi Nay kurang 30 menit lagi pulang" tambah Hendra.


"Nayla nggak liatin jam kok Pak Hendra beneran" kata Nayla berusaha meyakinkan.


Sementara kedua temannya tampak tersenyum melihat tingkah Nayla.


"Nayla kamu ikut saya sekarang" kata Rendi yang keluar dari ruangannya lebih awal.


"Kemana pak?" tanya Nayla takut.


"Ketemu klien lah memangnya kamu mau saya ajak kemana" jawab Rendi ketus.


Nayla langsung berdiri dan mengambil tas dengan buru-buru berlari menyusul Rendi. Nayla masuk ke dalam lift dengan nafas terengah-engah dan Rendi yang berdiri di belakangnya tersenyum melihat tingkah Nayla yang tak sadar kalau dia hanya iseng mengerjainya.


Dalam perjalanan mereka berdua hanya diam dan tak ada yang mengambil inisiatif untuk berbicara memecah keheningan. Nayla hanya menatap ke luar jendela sambil sesekali menghela nafas panjang. Sementara Rendi hanya fokus menyetir dan sesekali melirik kearah Nayla.


Sekitar 1 jam akhirnya mereka sampai ditujuan dan betapa kagetnya Nayla karna Rendi mengajaknya ke pantai. Tapi Nayla masih berpikiran positif mungkin klien yang akan ditemui ada di salah satu restoran disana.


Nayla berjalan dibelakang Rendi dan mengikuti kemana Rendi berjalan. Rendi berjalan ke sebuah hotel dan Nayla dengan setia berjalan mengikuti bosnya.


Tapi langkah Nayla tiba-tiba terhenti saat melihat laki-laki yang pernah menyekapnya waktu itu. Kakinya seolah lumpuh dan dia langsung terjatuh seolah tak kuat menahan beban badannya.


Laki-laki itu melihatnya dan menyadari bahwa Nayla adalah gadis yang pernah dia kerjai. Dia berjalan mendekati Nayla. Nayla sangat ketakutan bahkan dia tak sanggup untuk melihat laki-laki itu.


"Hai kamu ternyata belum melupakan aku ya" kata laki-laki itu sambil berjongkok di depan Nayla.


Nayla menangis ketakutan, takut hal itu terjadi lagi. Ingin rasanya ia berteriak tapi entah kenapa suaranya tiba-tiba bibirnya terkunci hanya air matanya yang menetes.


"Ada apa ini?" kata Rendi dengan nada marah.


"Jaga ucapanmu kepada kekasihku. Apa perlu aku menghajarmu lagi?".


Laki-laki itu pergi begitu saja dan sepertinya dia juga mengingat Rendi yang pernah menghajarnya waktu itu.


Rendi langsung memegang tangan Nayla dan memeluknya untuk menenangkannya.


"Dia sudah pergi Nay. Kamu bisa berdiri?" tanya Rendi.


Nayla berusaha untuk berdiri tapi rasa takutnya membuat kakinya tak sanggup untuk menopangnya. Tanpa banyak bicara Rendi langsung menggendong Nayla. Rendi meminta tolong karyawan hotel untuk mengantarkannya ke kamar.


"Sudah Nay dia sudah pergi" kata Rendi sambil memeluk Nayla.


Nayla yang masih merasa takut juga memeluk Rendi sambil duduk di sofa yang ada di kamar hotel yang dipesan Rendi.


"Maaf Nay kalau saja aku tak mengajakmu kemari pasti kamu tak akan bertemu dengannya. Ini semua salahku Nay" kata Rendi yang masih memeluk Nayla sambil mengusap punggung Nayla.


"Saya sudah baikan kok pak maaf sudah membuat Pak Rendi khawatir" kata Nayla sambil melepaskan diri dari pelukan Rendi.


"Sungguh kamu sudah tak apa-apa?" tanya Rendi masih khawatir.


"Saya cuma kaget aja pak" jawab Nayla.


"Harusnya kemarin aku hajar dia sampai tak bisa bangun lagi dan bertemu denganmu disini" kata Rendi penuh emosi.


"Tapi apa yang tadi Pak Rendi katakan? Kenapa bilang kalau saya kekasih Pak Rendi?" tanya Nayla.


"Karna aku benar-benar suka sama kamu Nay. Kenapa kamu belum percaya sih" kata Rendi sambil menatap mata Nayla.


"Apa ini nyata?" kata Nayla.


"Ini nyata Nayla. Apa yang aku katakan ini sungguh-sungguh" kata Rendi sambil memegang kedua pipi Nayla.


Nayla yang mendengar perkataan Rendi langsung meneteskan air mata. Tanpa aba-aba Rendi langsung memeluk Nayla dengan erat. Tangis Nayla makin menjadi saat Rendi memeluknya. Tangis bahagia karna Rendi serius dengan perasaannya.